Ekonomi Jateng Tumbuh 5,37 Persen, Lampaui Nasional di Tengah Tantangan

- Pendapatan negara Jateng mencapai Rp102,09 triliun, didorong oleh sektor Bea Cukai dan Pajak. Belanja mencapai Rp94,93 triliun dengan TKD memegang peranan krusial.
- Inflasi Jateng 2,79 persen, sedikit lebih tinggi dari nasional.
- Tekanan di sektor pertanian dan perikanan perlu dicermati untuk menjaga daya beli.
Semarang, IDN Times – Kinerja perekonomian Jawa Tengah (Jateng) menunjukkan tren positif menjelang penutup tahun 2025. Kementerian Keuangan Satu (Kemenkeu Satu) Jawa Tengah mencatat pertumbuhan ekonomi provinsi tersebut pada Triwulan III-2025 mencapai 5,37 persen (year-on-year/y-o-y), melampaui angka pertumbuhan ekonomi nasional.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Jawa Tengah, Bayu Andy Prasetya mengungkapkan, capaian itu menjadi sinyal optimisme di tengah tantangan ekonomi global dan domestik.
“Kinerja Perekonomian Jawa Tengah per November 2025 menunjukkan peningkatan capaian yang cukup menggembirakan. Angka pertumbuhan 5,37 persen ini meningkat dibandingkan Triwulan II yang sebesar 5,28 persen, dan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang justru mengalami perlambatan,” ujar Bayu dalam konferensi pers APBN KiTa di Semarang, dilansir laman resmi Youtube Kanwil DJPb Jateng, Minggu (4/12/2025).
1. APBN surplus, pendapatan tembus Rp102 triliun

Kinerja solid ekonomi daerah didukung oleh realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sehat. Hingga 30 November 2025, total Pendapatan Negara di Jawa Tengah terkumpul sebesar Rp102,09 triliun atau 78,03 persen dari target.
Penerimaan itu didorong oleh sektor Bea Cukai sebesar Rp51,85 triliun dan Pajak sebesar Rp42,89 triliun. Menariknya, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencatatkan kinerja impresif dengan realisasi Rp7,35 triliun, melampaui target hingga 123,79 persen.
“Kinerja pendapatan yang kuat ini menunjukkan efektivitas penerimaan negara di wilayah Provinsi Jawa Tengah,” tegas Bayu.
Di sisi belanja, pemerintah telah menyalurkan Rp94,93 triliun. Sebanyak Rp65,72 triliun di antaranya merupakan Transfer ke Daerah (TKD), yang memegang peranan krusial menopang 65,02 persen pendapatan APBD di Jawa Tengah.
2. Waspadai inflasi dan kontraksi sektor pertanian

Meski pertumbuhan ekonomi menguat, Bayu mengingatkan adanya tantangan inflasi yang perlu dicermati. Inflasi tahunan Jawa Tengah pada November 2025 tercatat 2,79 persen, sedikit lebih tinggi dari inflasi nasional (2,72 persen). Kota Semarang mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 2,92 persen, sedangkan Kabupaten Wonogiri terendah di angka 2,47 persen.
Tekanan juga terlihat di sektor pertanian dan perikanan. Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami kontraksi menjadi 116,11, dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) turun menjadi 99,36.
“Dinamika inflasi serta tekanan pada sektor pertanian dan perikanan perlu terus dicermati. Diperlukan penguatan sinergi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah untuk menjaga daya beli dan melindungi sektor-sektor yang rentan,” imbau Bayu.
3. Koperasi Merah Putih jadi tumpuan baru

Sebagai strategi penguatan ekonomi kerakyatan, Jawa Tengah kini memacu operasionalisasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Kesiapan infrastruktur koperasi di provinsi ini dinilai sangat matang.
“Kesiapan operasionalisasi Koperasi Merah Putih di Provinsi Jawa Tengah ditopang oleh kelembagaan yang relatif kuat. Dari 8.523 desa dan kelurahan, semuanya telah memiliki koperasi berbadan hukum,” jelas Bayu.
Hingga kini, sebanyak 8.505 koperasi telah terintegrasi dengan sistem digital (SIM Kopdes), didukung oleh ribuan gerai aktif dan kemitraan strategis dengan BUMN. Hal ini diharapkan mampu menjadikan koperasi sebagai simpul distribusi ekonomi daerah yang efektif.
4. Penyaluran kredit tembus Rp44 Triliun

Pemerintah juga terus menyuntikkan modal bagi pelaku UMKM. Hingga November 2025, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Tengah mencapai Rp43,31 triliun untuk 825.566 debitur. Sementara itu, pembiayaan Ultra Mikro (UMi) tersalurkan sebesar Rp1,16 triliun kepada 225.509 debitur.
Kabupaten Pati tercatat sebagai penerima KUR terbesar dengan nilai Rp2,67 triliun, sedangkan penyaluran UMi terbanyak berada di Kabupaten Brebes sebesar Rp90,89 miliar.
“Penyaluran KUR dan UMi tidak sekadar memperluas akses pembiayaan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah,” pungkas Bayu.


















