- Kota Semarang: 2,84 persen
- Kota Tegal: 2,83 persen
- Kabupaten Cilacap: 2,79 persen
- Kota Surakarta: 2,79 persen
- Kabupaten Kudus: 2,68 persen
- Kabupaten Wonosobo: 2,64 persen
- Purwokerto: 2,61 persen
- Kabupaten Wonogiri: 2,52 persen
- Kabupaten Rembang: 2,47 persen
Inflasi Jateng 2025: 2,72 Persen, Cuaca Ekstrem jadi Pemicu

- Inflasi Jawa Tengah tahun 2025 mencapai 2,72 persen, lebih rendah dari inflasi nasional yang mencapai 2,92 persen (y-o-y).
- Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi pemicu utama inflasi di bulan Desember 2025, dipicu oleh kenaikan harga komoditas pangan bergejolak dan cuaca ekstrem.
- Peningkatan harga emas perhiasan dan dampak transportasi juga memberikan andil inflasi di Jawa Tengah, dengan Kota Semarang tercatat sebagai wilayah dengan inflasi tertinggi.
Semarang, IDN Times – Kinerja pengendalian harga di Provinsi Jawa Tengah sepanjang tahun 2025 menunjukkan hasil yang positif. Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Provinsi Jawa Tengah melaporkan bahwa laju inflasi gabungan kota di provinsi itu tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional, yakni 2,5 persen ±1 persen.
Berdasarkan data terbaru, inflasi tahunan (year on year/y-o-y) Jawa Tengah pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,72 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,92 persen (y-o-y). Sementara itu, secara bulanan (month to month/m-t-m), inflasi Jawa Tengah pada Desember 2025 berada di level 0,50 persen, juga lebih rendah dari nasional yang sebesar 0,64 persen.
1. Pangan dan emas perhiasan memicu inflasi

Plh. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari Hufaid, menyatakan bahwa capaian tersebut merupakan hasil sinergi yang kuat antara berbagai pihak dalam menjaga stabilitas harga.
Tekanan inflasi pada bulan Desember 2025 utamanya didorong oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 0,38 persen (m-t-m). Kenaikan harga komoditas pangan bergejolak (volatile foods) menjadi penyebab utamanya.
"Inflasi kelompok ini terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah. Peningkatan harga tersebut sejalan dengan naiknya permintaan masyarakat menjelang momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026," katanya dilansir keterangan resmi yang diterima IDN Times, Kamis (8/12/2025).
Selain faktor permintaan, cuaca ekstrem yang melanda pada bulan Desember ikut mengganggu produktivitas panen, sehingga pasokan komoditas hortikultura seperti cabai rawit dan bawang merah mengalami penurunan.
Di sisi lain, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya juga menyumbang andil inflasi sebesar 0,08 persen (m-t-m). Komoditas emas perhiasan menjadi sorotan utama dengan andil 0,07 persen.
2. Dampak transportasi dan diskon tiket pesawat

Kenaikan harga emas perhiasan tidak lepas dari tren harga emas dunia yang mencapai rekor tertinggi (all time high) pada Desember 2025.
"Peningkatan harga emas terjadi seiring dengan tingginya minat investor terhadap aset safe haven akibat ketegangan geopolitik global dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada awal 2026," ujar Serry.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi emas perhiasan sepanjang tahun 2025 mencapai angka fantastis sebesar 62,35 persen (y-o-y). Angka tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan inflasi emas tahun 2024 yang hanya 30,26 persen (y-o-y).
Sektor transportasi juga memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen (m-t-m). Hal tersebut dipicu oleh penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Turbo.
Namun, laju inflasi di sektor itu berhasil tertahan berkat adanya penurunan tarif angkutan udara. Kebijakan diskon tiket pesawat domestik kelas ekonomi sebesar 13--14 persen untuk periode penerbangan 22 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026 terbukti efektif meredam lonjakan harga tiket saat libur akhir tahun.
3. Peta inflasi di Jawa Tengah

Secara spasial, seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Tengah mencatatkan inflasi yang bervariasi. Kota Semarang tercatat sebagai wilayah dengan inflasi tertinggi, sedangkan Kabupaten Rembang menjadi yang terendah.
Berikut rincian inflasi tahunan (y-o-y) di berbagai wilayah Jawa Tengah tahun 2025:
Di tahun 2026, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Tengah berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi.
"Program pengendalian inflasi akan terus kami galakkan, terutama yang ditujukan untuk menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi barang di Jawa Tengah. Tujuannya agar inflasi tetap terjaga di rentang sasaran 2,5 persen ±1 persen," pungkas Serry.


















