Sudah banyak orang tahu, kalau sifat perfeksionisme bukanlah sifat positif yang seharusnya dipelihara. Terutama, jika sifat menuntut kesempurnaan ini cenderung melibatkan penetapan standar yang tinggi, berusaha menyenangkan orang lain, dan ketakutan bahwa kamu tidak akan pernah mencapai tujuan yang diharapkan. Faktanya, banyak orang yang keliru jika makna perfeksionisme berarti mengejar keunggulan.
Sementara pada praktiknya, gaya parenting yang mendorong perfeksionisme ini bisa berjalan sebaliknya. Jadi, alih-alih memotivasi dan membantu anak untuk meraih banyak pencapaian, perfeksionisme sering kali menghadirkan kritik diri yang keras, menyebabkan stres parah, dan berbagai tantangan kesehatan fisik dan mental lainnya. Gaya pengasuhan yang diterapkan orangtua bisa sangat berpengaruh terhadap terbentuknya perfeksionisme.
Orang tua dapat memengaruhi anak dalam mengembangkan kebiasaan, nilai, keyakinan, dan persepsi diri sendiri. Jadi, mari untuk para orangtua, mari telaah kembali apakah gaya parenting kamu termasuk ke dalam gaya pengasuhan yang sebabkan tumbuh perfeksionisme dalam diri anak? Cek lebih lanjut melalui artikel ini!
