Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Film Pakai Teknologi AI selain The Brutalist, Ada Genre Horor
The Brutalist (dok. A24/The Brutalist)
  • Film The Brutalist, Emilia Pérez, dan Better Man menggunakan teknologi AI Respeecher untuk menyempurnakan dialog dan suara karakter.
  • Alien: Romulus memakai AI untuk mengubah suara karakter android agar mirip dengan suara aktor aslinya, Ian Holm.
  • Top Gun: Maverick menggunakan teknologi AI Sonantic untuk mensintesis suara Val Kilmer yang terpengaruh oleh operasi kanker tenggorokan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah Emilia Pérez, film The Brutalist menjadi peraih nominasi Academy Awards 2025 terbanyak. Film karya sutradara Brady Corbet ini memborong 10 nominasi Oscar. Sayang, kesuksesan The Brutalist di Oscar menuai kecaman karena menggunakan artificial intelligence (AI).

Dilansir Variety, editor The Brutalist, Dávid Jancsó mengaku bahwa ia menggunakan teknologi AI untuk menyempurnakan dialog bahasa Hungaria antara dua bintang utamanya, Adrien Brody dan Felicity Jones. Software AI berasal dari perusahaan perangkat lunak Ukraina, Respeecher.

Selain itu, Jancsó juga menggunakan generative AI pada sequence terakhir untuk menciptakan serangkaian gambar arstitektur dan bangunan jadi. Penggunaan AI ini pun membuat The Brutalist dinilai tidak pantas meraih nominasi Oscar oleh pecinta film dunia. Lalu, apa saja film yang menggunakan teknologi AI selain The Brutalist?

1. Emilia Perez (2024)

Emilia Pérez (dok. Netflix/Emilia Pérez)

Emilia Pérez mengikuti jejak kontroversi The Brutalist karena sama-sama masuk nominasi Oscar 2025, tetapi menggunakan teknologi AI. Dengan raihan total 13 nominasi, film karya Jacques Audiard ini ternyata menggunakan software AI Respeecher. Teknologi itu dipakai untuk memadukan suara nyanyian Karla Sofía Gascón dengan suara bintang pop Prancis Camille.

Dalam wawancara di Cannes Film Festival 2024, sound mixer film Emilia Pérez, Cyril Holtz menjelaskan bahwa penggunaan AI ini adalah suatu keharusan. Alasannya, suara alami Gascón tidak dapat mencapai nada tertentu saat bernyanyi. Holtz menilai hal itu disebabkan karena Gascón adalah transgender.

Penggunaan teknologi AI untuk membantu bintang utama Emilia Pérez menyanyi merupakan sebuah ironi. Pasalnya, film ini bergenre musikal, sehingga kritikus menilai seharusnya artis yang dipilih adalah mereka yang bisa memberikan kualitas akting dan suara terbaiknya. Badai kritikan pun semakin menerjang setelah Karla Sofía Gascón dipastikan masuk nominasi Artis Terbaik di Oscar 2025.

2. Better Man (2024)

Better Man (dok. Paramount Pictures/Better Man)

Better Man merupakan film biopik tentang penyanyi pop Inggris, Robbie Williams. Uniknya, Robbie William di sini dihadirkan dalam wujud monyet hasil rekayasa komputer. Sang musisi hanya menyumbangkan vokal musikal untuk karakter monyet. Sementara itu, pengisi suara normalnya adalah aktor Jonno Davies.

Disutradarai Michael Gracey, drama musik ini bekerja sama dengan Respeecher. Tim Better Man meminta perusahaan teknologi AI itu untuk membantu menciptakan suara Robbie William dalam film tersebut. Namun, tidak diketahui sejauh mana teknologi AI Respeecher digunakan untuk memodelkan suara sang bintang.

Kendati demikian, ada kemungkinan teknologi AI digunakan untuk meremajakan suara Williams. Tujuannya agar karakter Williams di film tersebut terdengar seperti saat ia masih muda. Selain itu, AI juga digunakan untuk mengubah suara Williams selama scene musical numbers.

3. Alien: Romulus (2024)

Alien: Romulus (dok. 20th Century Studios/Alien: Romulus)

Alien: Romulus sebenarnya banyak menggunakan practical effects untuk menghidupkan Xenomorph yang mengerikan. Sayangnya, proses kreatif itu tercoreng karena tim produksi juga menggunakan teknologi AI. Kecerdasan buatan dipakai untuk menciptakan karakter android menyerupai Ash.

Dulunya karakter tersebut diperankan oleh mendiang Ian Holm. Kini dalam Alien: Romulus, aktor Daniel Betts ditunjuk untuk mengisi suara Rook. Di sinilah tim produksi menggunakan teknologi AI untuk memodifikasi dialog agar suaranya lebih mirip Holm. Meski sudah mendapatkan izin dari keluarga Holm, penggunaan AI di film horor sci-fi tersebut tetap banjir kritik.

Dilansir Los Angeles Times, sutradara Fede Álvarez membela keputusannya menggunakan teknologi AI untuk menghidupkan suara Ian Holm. Menurutnya, timnya melakukan hal itu sebagai bentuk rasa hormat terhadap mendiang. Ia juga menegaskan produksi film Alien: Romulus tetap sesuai pakem, yaitu mengandalkan performa aktor di lokasi syuting.

4. Top Gun: Maverick (2022)

Top Gun: Maverick (dok. Paramount Pictures/Top Gun: Maverick)

Top Gun: Maverick menggunakan teknologi AI dari perusahaan perangkat lunak Sonatic. Teknologi AI tersebut dipakai untuk mensintesis model suara Val Klimer dan rekaman audio yang diarsipkan. Sonantic pun berhasil menciptakan suara baru untuk Kilmer.

Tujuan penggunaan AI ini disebabkan Top Gun: Maveric ingin kembali mendatangkan karakter Tom "Iceman" Kazansky. Karakter ini pertama muncul di film Top Gun tahun 1986. Yang menjadi kendala, Klimer sempat dirawat dan dioperasi akibat kanker tenggorokan, sehingga suaranya tidak maksimal saat proses syuting.

Sutradara Joseph Kosinski menjelaskan bahwa Klimer berbicara dengan suara aslinya di scene terakhir. Namun, suaranya itu sedikit diubah secara digital dengan teknologi AI agar terdengar lebih jelas. Klarifikasi itu membuat film Top Gun: Maverick tidak terlalu menuai kontroversi akibat penggunaan teknologi AI.

5. Late Night with the Devil (2024)

Late Night with the Devil (dok. Umbrella Entertainment/Late Night with the Devil)

Film horor ini mendapatkan kecaman keras akibat memakai teknologi AI. Kritikan deras tersebut sempat membuat tim produksi Late Night with the Devil kecewa. Pasalnya, sutradara Cameron Cairnes dan Colin Cairnes mengaku hanya menggunakan teknologi AI dalam 3 gambar yang tidak terlalu mempengaruhi proses kreatif.

Dalam salah satu scene, ada sebuah potongan yang menunjukkan judul acara dan tema Halloween. Nah, desain itulah yang dibuat dengan teknologi AI-generated art oleh tim produksi dan grafis. Kemunculan desain itu sendiri sangat singkat.

Dilansir Variety, sutradara Cameron and Colin Cairnes menegaskan bahwa pihaknya sudah bekerja tanpa lelah demi menghadirkan vibes estetik tahun 1970-an. Menurut mereka, penggunaan teknologi AI dalam desain gambar ini hanya sebuah bentuk eksperimen.

6. Here (2024)

Here (dok. TriStar Pictures/Here)

Film yang dibintangi Tom Hanks ini menggunakan teknologi kecerdasan buatan dari Respeecher. Teknologi AI deepfake dipakai untuk meredupkan penampilan aktor Tom Hanks dan Robin Wright secara langsung. Tujuannya agar mereka bisa menghidupkan karakter mereka di berbagai titik kehidupan yang berbeda.

Teknologi itu membuat proses pembuatan film Here menjadi lebih hemat waktu. Meski demikian, sutradara Robert Zemeckis tetap belum puas. Ia juga meminta bantuan Respeecher agar menggunakan teknologi AI buatan mereka untuk meredupkan suara Tom Hanks. Hasilnya, suara Tom Hanks dan Robin Wright langsung terdengar lebih muda.

Penerapan teknologi AI dalam dunia kreatif, termasuk film, masih dinilai tidak etis. Selain dianggap merendahkan pekerja seni, kecerdasan buatan juga dinilai menggerus nilai-nilai humanis dalam sinema. Nah, kontroversi film The Brutalist bisa menjadi langkah awal untuk terus mengkritisi dan mengawal efektivitas penggunaan AI di dunia perfilman.

Editorial Team

Related Article