Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Akulturasi Budaya Pasar Imlek Semawis 2026, Sun Go Kong Ketemu Wayang

imlek, kelenteng tay kak sie, ketuk pintu, pasar imlek semawis
Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) bersama masyarakat menggelar tradisi Ketuk Pintu jelang pembukaan Pasar Imlek Semawis 2026 di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, Kota Semarang, Sabtu (7/2/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
Intinya sih...
  • Pasar Imlek Semawis 2026 menjadi pesta rakyat inklusif yang menarik ribuan warga dari berbagai latar belakang.
  • Festival bertujuan menghidupkan tradisi belanja malam masyarakat Tionghoa zaman dulu dengan sentuhan UMKM, kuliner, dan seni budaya.
  • Keberagaman di Pecinan Semarang terbukti tumbuh atas dasar kualitas dan harmoni, bukan perbedaan etnis, didukung oleh kunjungan Wapres Gibran dan Gubernur Ahmad Luthfi.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times – Perayaan Imlek kini telah bertransformasi menjadi pesta rakyat yang inklusif, melampaui sekat etnis dan budaya. Pemandangan ini terlihat jelas dalam gelaran Pasar Imlek Semawis 2026 di Kawasan Pecinan Semaran.g

Kawasan Jalan Gang Pinggir hingga Wotgandul Timur dipadati ribuan warga dari berbagai latar belakang. Keberagaman menjadi "napas" utama tahun ini, menegaskan posisi Semarang sebagai kota dengan toleransi yang tinggi.

Pengurus Kopi Semawis, Harjanto Halim, menjelaskan bahwa festival tiga hari ini bertujuan menghidupkan kembali tradisi belanja malam masyarakat Tionghoa zaman dulu. Namun, kini dikemas lebih megah dengan sentuhan UMKM, kuliner, dan seni budaya.

"Tahun ini sangat unik. Kami memadukan tokoh mitologi Tionghoa seperti Sun Go Kong dan Dewi Kwan Im dengan tokoh wayang Jawa. Bahkan, pengunjung diimbau mengenakan kebaya untuk menonjolkan sisi identitas nusantara," ungkap Harjanto.

Keberagaman di Pecinan Semarang bukan sekadar jargon. Harjanto mencontohkan keberhasilan Nasi Ayam Bu Pini, seorang warga etnis Jawa yang mampu sukses bersaing di jantung Pecinan. Hal ini membuktikan bahwa ekonomi rakyat di Semarang tumbuh atas dasar kualitas dan harmoni, bukan perbedaan etnis.

Sebelumnya pada Sabtu lalu Wapres Gibran Rakabuming Raka dan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi berkunjung langsung ke pasar Semawis. Mereka tampak menikmati suasana dengan berbaur bersama pengunjung. Gibran bahkan sempat berbelanja di beberapa tenant UMKM dan melayani permintaan swafoto warga.

"Beliau berpesan agar tradisi ini terus dirawat. Memulai tradisi itu sulit, maka yang sudah berjalan dengan semangat keberagaman seperti ini harus tetap dijaga," tambah Harjanto menirukan pesan Wapres.

Gubernur Ahmad Luthfi pun menegaskan pentingnya nguri-uri (melestarikan) budaya ini. Menurutnya, banyaknya event seperti di Semawis maupun Kelenteng Sam Poo Kong menjadi mesin penggerak pariwisata sekaligus bukti nyata bahwa toleransi adalah kekuatan utama pembangunan Jawa Tengah.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More

Grebeg Sudiro 2026, Saat Keberagaman Jadi Kekuatan Ekonomi

15 Feb 2026, 23:47 WIBNews