Awal Musim Hujan di Jateng Mundur 1-3 Dasarian, Waspadai Cuaca Potensi Cuaca Ekstrem

Semarang, IDN Times - Stasiun BMKG Klimatologi Semarang memperkirakan awal musim penghujan mengalami kemunduran sekitar satu sampai tiga dasarian. Sebab, di saat bersamaan masih terjadi siklus El Nino moderat yang kemungkinan berlangsung sampai Februari 2024 mendatang.
1. Hampir 60 persen mengalami musim penghujan November

ilustrasi musim hujan (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi) Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun BMKG Klimatologi Kelas I Semarang, Iis Widya Harmoko mengatakan, hampir semua kabupaten/kota akan mengalami musim penghujan di bulan November 2023.
Namun, awal musim penghujan akan terjadi mulai Oktober 2023 di Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang bagian selatan Kabupaten Purbalingga bagian utara, sebagian Banjarnegara, Kabupaten Wonosobo, wilayah tenggara Kabupaten Pemalang, sebagian barat daya Kabupaten Kendal, dan barat laut Kabupaten Temanggung.
"Jadi untuk Jawa Tengah yang memasuki musim hujan ada 60 persen wilayah pada November 2023," ujar Iis.
2. Ada beberapa daerah yang hujannya di bawah normal

Ilustrasi hujan (IDN Times/Sukma Shakti) Sedangkan daerah yang terakhir diguyur hujan, katanya yaitu Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Jepara, Kabupaten Pati, Kabupaten Rembang dan Pekalongan.
Meski demikian, diprediksi rata-rata musim penghujan wilayah Jawa Tengah mundur dari kondisi normal. Untuk sifat musim penghujan, katanya relatif normal.
"Awal musim hujan mundur 1--3 dasarian. Untuk sifat musim hujannya normal, karena suhu muka lautnya hangat. Tapi ada beberapa daerah di bawah normal," terangnya.
3. BMKG: Tetap waspadai angin kencang dan potensi longsor

Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengamati pergerakan sikon tropis Paddy yang berada di Samudera Hindia melalui citra satelit Himawari di BMKG Karangploso, Malang, Jawa Timur, Rabu (24/11/2021) (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto) Iis menyatakan untuk puncak musim penghujan akan terjadi dengan prosentase 70,73 persen pada Februari 2024. Sedangkan sisanya puncaknya pada Desember dan Januari.
"Selama peralihan musim tetap ada potensi cuaca ekstrem yang bisa menimbulkan bencana hidrometeorologi. Seperti tanah longsor, kilatan petir dan angin kencang," ujar Iis.






















