Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Banyak yang Salah Arti! Maksud Peribahasa Jawa Jer Basuki Mawa Beya Buat Cari Rezeki
ilustrasi orang jawa (pexels.com/widiarto proboprasetyo)
  • Peribahasa Jawa "Jer basuki mawa beya" bermakna setiap keselamatan, kebahagiaan, dan kesuksesan memerlukan proses serta pengorbanan, bukan sekadar uang.
  • "Beya" mencakup waktu, tenaga, pikiran, ketahanan mental, hingga keberanian menanggalkan gengsi demi menjalani pekerjaan halal.
  • Falsafah ini menekankan perjuangan konsisten, kesabaran, doa, dan investasi pengembangan diri seperti pendidikan, pelatihan, atau modal usaha untuk meraih kesejahteraan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
saat ini

Peribahasa "Jer basuki mawa beya" kerap disempitkan maknanya sebagai anggapan bahwa segala hal hanya membutuhkan uang.

hari ini

Peribahasa tersebut diingatkan sebagai ajaran bahwa keringat dan lelah dalam mencari rezeki merupakan pengorbanan untuk meraih kesuksesan.

masa depan

Investasi untuk pendidikan, pelatihan keterampilan, atau modal usaha dipandang sebagai bentuk beya untuk memperoleh kesejahteraan lebih besar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Peribahasa Jawa “Jer basuki mawa beya” dipaparkan sebagai falsafah bahwa kebahagiaan, keselamatan, dan kesuksesan memerlukan biaya atau pengorbanan.
  • Who?
    Masyarakat Jawa menggunakan ungkapan tersebut, sementara Pemerintah Provinsi Jawa Timur menjadikannya semboyan resmi.
  • Where?
    Ungkapan ini berasal dari tradisi Jawa dan digunakan sebagai semboyan resmi di Provinsi Jawa Timur; pemaparan dilakukan dari Semarang.
  • When?
    Peribahasa ini dibahas dalam konteks kehidupan modern dan upaya mencari rezeki saat ini; waktu awal penggunaan ungkapan tersebut per saat ini masih belum diketahui.
  • Why?
    Pembahasan dilakukan karena “beya” kerap dimaknai hanya sebagai uang, padahal mencakup waktu, tenaga, pikiran, kesabaran, serta investasi pengembangan diri.
  • How?
    Keberhasilan dicapai melalui proses dan pengorbanan, termasuk bekerja keras, belajar, menghadapi kegagalan, menurunkan gengsi untuk pekerjaan halal, serta berinvestasi pada pendidikan, keterampilan, atau usaha.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Peribahasa Jawa “Jer basuki mawa beya” artinya bahagia dan sukses perlu usaha. Beya bukan cuma uang. Beya juga waktu, tenaga, pikiran, sabar, dan doa. Kita boleh bekerja apa saja asal halal, tanpa malu. Sekarang orang diingatkan agar tidak mau hasil cepat tanpa berjuang. Belajar dan latihan juga bisa membantu masa depan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyak yang Salah Arti! Ini Maksud Asli Peribahasa Jawa Jer Basuki Mawa Beya Buat Cari Rezeki

Semarang, IDN Times - Dalam kehidupan bermasyarakat, kita tentu tidak asing lagi dengan peribahasa Jawa "Jer basuki mawa beya". Ungkapan klasik yang terpatri menjadi semboyan resmi Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini kerap muncul saat membahas perjuangan hidup.

Namun, di tengah era modern dan dorongan mencari rezeki saat ini, peribahasa ini sering mengalami penyempitan makna. Banyak orang yang memaknainya secara mentah dan skeptis: "Semua hal di dunia ini ujung-ujungnya cuma butuh uang."

Padahal, falsafah leluhur Jawa ini memiliki kedalaman makna yang sangat mulia. Berikut 5 makna asli peribahasa Jer Basuki Mawa Beya dalam mencari rezeki yang perlu kamu pahami!

1. Arti Hakiki: Setiap Keberhasilan Butuh Pengorbanan

ilustrasi orang jawa (pexels.com/Iqbal Syah Farezi)

Secara bahasa, peribahasa ini terdiri dari kata Jer (sesungguhnya), Basuki (keselamatan/kebahagiaan/kesuksesan), dan Mawa Beya (membutuhkan biaya/pengorbanan).

Makna utamanya adalah setiap kebahagiaan dan kesuksesan hidup memerlukan proses serta pengorbanan. Keberhasilan tidak pernah jatuh begitu saja dari langit tanpa ada harga yang harus dibayar.

2. 'Beya' Bukan Cuma Uang, Tapi Juga Waktu dan Tenaga

Ilustrasi orang jawa (Pixabay.com//masbebet christianto)

Kesalahan paling umum adalah mengartikan kata beya (biaya) hanya sebatas materi. Dalam menjemput rezeki, beya mencakup pengorbanan yang jauh lebih luas:

Waktu: Kesediaan mengorbankan waktu istirahat untuk belajar dan bekerja keras.

Tenaga & Pikiran: Pengorbanan energi, strategi, dan ketahanan mental saat menghadapi kegagalan.

3. Berani Mengorbankan Gengsi Demi Rezeki Halal

Ilustrasi Orang Jawa (pixabay/Dedy_Timbul)

Dalam mencari rezeki yang berkah, salah satu beya (pengorbanan) terberat bagi banyak orang adalah menanggalkan gengsi.

Falsafah ini mengajarkan bahwa tidak ada pekerjaan halal yang merendahkan martabat. Pengorbanan berupa penurunan ego dan gengsi adalah modal utama untuk meraih keberhasilan (basuki).

4. Menolak Mental Instant Gratification

ilustrasi orang jawa (pexels.com/Daniel Lee)

Di era serba cepat, banyak orang mengidamkan rezeki berlimpah secara instan tanpa mau melewati proses.

Peribahasa ini hadir sebagai pengingat realistis terhadap hukum alam: hasil tidak pernah mengkhianati proses. Jika menginginkan hasil yang besar, kita harus berani membayar 'biayanya' lewat perjuangan, kesabaran, dan doa yang konsisten.

5. Investasi Leher ke Atas (Pengembangan Diri)

Ilustrasi pelajar mengikuti kegiatan belajar di kelas (pexels.com/Agung Pandit Wiguna)

Materi memang menjadi bagian dari beya, namun bentuknya adalah investasi produktif.

Menyisihkan rezeki untuk pendidikan, pelatihan keterampilan, atau modal usaha adalah bentuk pembayaran beya yang bijak demi mengundang basuki atau kesejahteraan yang lebih besar di masa depan.

Saat berjuang mencari rezeki hari ini, ingatlah bahwa setiap tetes keringat dan lelah yang dirasakan adalah bagian dari beya yang sedang kamu bayarkan untuk meraih kesuksesan di masa depan!

Curated For You

Editorial Team

Related Article