Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Batu Bacan Kembali Digemari di Purwokerto, Kolektor Mulai Berburu
Batu akik jenis bacan yang kini mjulai digemari oleh pencinta batu akik, bukan karena tren namun lebih kepada hobi, Jumat (12/6/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Tren batu Bacan kembali naik di Purwokerto, dengan harga lebih terjangkau antara Rp200 ribu hingga Rp600 ribu per biji, menarik minat kolektor dan penghobi lama maupun baru.
  • Para penggemar kini membeli Bacan bukan karena tren, tapi karena hobi dan nilai seni; komunitas lokal aktif bertukar koleksi serta memperkuat eksistensi batu akik di era digital.
  • Batu Bacan berasal dari Maluku Utara dengan dua jenis populer, Doko dan Palamea, dikenal karena warna hijau kebiruan khas hasil kandungan mineral chrysocolla yang unik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Purwokerto, IDN Times - Tren batu akik yang sempat meredup beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan tanda tanda kebangkitan di Kabupaten Banyumas. Salah satu jenis batu yang kembali banyak diburu para penghobi adalah Batu Bacan, batu mulia asal Maluku Utara yang dikenal dengan warna hijau kebiruan khas dan nilai koleksinya yang tinggi.

Di sejumlah komunitas pecinta batu akik di Purwokerto, transaksi jual beli batu Bacan kembali menggeliat. Berbeda dengan masa demam batu akik pada 2014-2016 yang membuat harga Bacan melambung hingga jutaan rupiah, saat ini batu Bacan kualitas dapat diperoleh dengan harga relatif terjangkau, berkisar Rp200 ribu hingga Rp600 ribu per biji, tergantung ukuran, kejernihan, warna, dan kualitas ikatan cincin.

1. Dulu beli tren kini karena hobi

Baldi, kolektor batu akik dengan batu bacan di jarinya, harga yang kini masuk akal jadi wajktu yang tepat untuk berburu, Jumat (12/6/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Pantauan di kalangan penghobi batu akik Purwokerto, batu Bacan berukuran sedang dengan warna hijau toska dan tingkat kejernihan baik menjadi yang paling banyak dicari. Salah satu penggemar batu Bacan, Baldi, mengaku mulai kembali mengoleksi batu tersebut setelah melihat minat masyarakat yang perlahan tumbuh kembali.

"Sekarang banyak teman teman yang mulai mencari Bacan lagi, selain harganya sudah lebih masuk akal dibanding dulu, Bacan juga punya karakter yang khas. Warnanya elegan dan cocok dipakai sehari-hari,"ujar Baldi kapada IDN Times, Jumat (12/6/2026).

Pria yang dalam kesehariannya kerap mengenakan cincin Bacan berwarna hijau kebiruan itu mengatakan, sebagian penghobi tidak lagi mengejar nilai investasi semata, melainkan menikmati keindahan dan nilai seni batu alam. Kalau dulu orang beli karena tren, sekarang lebih ke hobi, yang dicari kualitas batu dan keunikan warnanya,"tambahnya.

2. Batu yang punya cerita dan karakter

Salah satu jenis bacan majiko yang dihargaio Rp450 Ribu oleh penjual di Purwokerto, Jumat (12/6/2026)>(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Munculnya kembali minat terhadap batu akik tidak hanya terjadi di Purwokerto. Di berbagai komunitas daring dan forum penghobi, diskusi mengenai batu Bacan, akik Kalimaya, hingga Sungai Dareh mulai ramai kembali. Sejumlah kolektor lama bahkan mulai membuka kembali kotak koleksi mereka setelah bertahun-tahun disimpan.

Kebangkitan tren ini dipicu oleh meningkatnya minat terhadap barang koleksi bernilai seni dan produk alam khas Indonesia. Selain itu, harga yang lebih stabil membuat batu Bacan kembali terjangkau bagi kalangan pecinta batu akik pemula.

Di Purwokerto sendiri, komunitas penghobi batu akik masih rutin menggelar pertemuan informal untuk saling bertukar informasi, berbagi koleksi, hingga melakukan transaksi jual beli. "Bacan itu punya cerita dan karakter, setiap batu berbeda, justru itu yang membuat kami tetap tertarik mengoleksinya sampai sekarang,"katanya.

Baldi menambahkan, dengan harga yang kini lebih bersahabat dan munculnya generasi penghobi baru, batu Bacan tampaknya belum kehilangan pesonanya. Di tengah gempuran tren digital dan barang modern, batu akik legendaris asal Maluku Utara itu perlahan kembali menemukan tempat di hati para kolektor Purwokerto.

3. Dua kategori utama dan asal usul bacan yang populer

Peta Halmahera asal batu bacan yang terkenal hingga kini, Jumat (12/6/2026).(IDN Times/Tangkapan layar)

Batu Bacan berasal dari wilayah Kepulauan Bacan dan Kasiruta di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Batu ini dikenal luas karena memiliki warna hijau hingga biru kehijauan yang khas akibat kandungan mineral chrysocolla. Di kalangan kolektor, Bacan bahkan dijuluki sebagai "batu hidup" karena dipercaya mengalami proses kristalisasi alami yang membuat warnanya semakin matang seiring waktu.

Jenis yang paling populer di pasaran adalah Bacan Doko dan Bacan Palamea, yang memiliki karakter warna dan tingkat kejernihan berbeda. Kedua jenis tersebut masih menjadi incaran para penghobi batu akik hingga saat ini.

Dalam dunia koleksi batu akik, Batu Bacan secara umum terbagi ke dalam dua kategori utama, yakni Bacan Doko dan Bacan Palamea. Dari dua kelompok besar tersebut kemudian berkembang berbagai varian dan sebutan yang dikenal di kalangan penghobi maupun pedagang batu mulia. Perbedaan keduanya umumnya terlihat pada karakter warna, tingkat kejernihan, serta pola yang dimiliki masing masing batu.

Secara ilmiah, hasil pengujian laboratorium gemologi menunjukkan bahwa baik Bacan Doko maupun Bacan Palamea termasuk dalam jenis Chrysocolla in Chalcedony, yaitu batuan Chalcedony yang mengandung mineral Chrysocolla di dalam strukturnya. Kandungan mineral inilah yang menghasilkan warna hijau hingga hijau kebiruan khas Batu Bacan, sekaligus menjadi salah satu faktor yang membuat batu asal Maluku Utara tersebut memiliki daya tarik tersendiri di kalangan kolektor dan pecinta batu mulia.

Editorial Team

Related Article