BPOM Ungkap Masakan MBG Jadi Basi Gegara Waktu Pengiriman Lama

- Masakan MBG bau basi karena tercemar mikrobiotik
- MBG berulat karena bahan baku dari supliyer
- BPOM sarankan jaga kualitas air, bahan baku dan sanitasi
Semarang, IDN Times - Sejumlah tahapan investigasi terus dilakukan petugas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Semarang guna memperbaiki sistem penyajian masakan pada kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pihak BPOM Semarang menekankan perlunya pengetatan standar operasional prosedur (SOP) dalam setiap kegiatan memasak di dapur SPPG sampai penyajian karena dua proses tersebut masuk kategori titik kritis dalam pelaksanaan MBG.
"Itu banyak pengawasan terutama kegiatan pemasakan dan waktu pengiriman. Untuk makanan dengan suhu panas harus dipertahankan antara suhu di atas 60 derajat dengan waktu pengiriman maksimal dua jam dari proses masak. Maka itu perlu diperhatikan betul oleh petugas," kata Kepala BPOM Semarang, Lintang Purba Jaya kepada IDN Times, Kamis (28/8/2025).
1. Masakan MBG bau basi karena tercemar mikrobiotik

Lintang berkata semua petugas juru masak SPPG perlu dibekali pelatihan terus-menerus untuk menyesuaikan pekerjaan dengan SOP keamanan pangan.
Tak cuma itu saja, katanya dalam kasus-kasus masakan MBG yang ditemukan berbau dan basi biasanya disebabkan munculnya bakteri mikrobiotik yang sangat banyak pada bahan baku berbahan protein tinggi.
Ia juga menyoroti proses pengiriman makanan MBG yang lebih dari dua jam ke lokasi tujuan menjadi pemicu menu yang dikonsumsi siswa menjadi bau basi.
"Kalau kaitan dengan bau basi pada produk makanan MBG pasti ada bahan baku yang dimasuki bakteri sudah banyak berkembang. Dari hasil penyelidikan BPOM, memang proses pemasakan dan pengiriman ada jeda lama. Sehingga, perkembangan mikrobiotiknya cukup banyak pada makanan protein tinggi. Seperti telur, ayam maupun daging," tutur Lintang.
2. MBG berulat karena bahan baku dari supliyer

Menurutnya untuk kasus masakan MBG yang berulat disebabkan bahan baku yang dipasok dari pihak supliyer yang jadi mitra MBG. Oleh sebab itulah pihaknya mengingatkan supaya dalam proses memasak dan mengirim MBG ke sekolah, jangan lebih dari dua jam.
"Kalau untuk (MBG) ada ulatnya berarti ada pemilihan bahan baku dari suplier. Maka untuk pemasakan sampai waktu pengiriman kita tekankan jedanya jangan sampai lebih dari dua jam. SPPG bersangkutan biasanya pas pemilihan bahan baku dan pemasakan kita lakukan investigasi. Kita biasanya lakukan yang spefisik," paparnya.
3. BPOM sarankan jaga kualitas air, bahan baku dan sanitasi

Pihaknya menyarankan untuk menghindari kasus kejadian luar biasa (KLB) pada MBG, maka SPPG perlu menjaga kebersihan bahan baku, sanitasi dan kualitas bahan pangan. BPOM juga sering menguji kualitas air pada SPPG, kualitas bahan baku, sanitasi dan pengujian masakan.
4. Tim percepatan MBG tidak dapat laporan kasus-kasus kecil

Terpisah, Sekretaris Tim Percepatan Program MBG Jateng Sujarwanto Dwiatmoko menyampaikan setiap petugas SPPG sudah dilatih untuk menjaga kualitas bahan makanan yang digunakan untuk MBG.
Ia berkata banyak kasus yang sifatnya kecil tidak pernah dilaporkan kepada pihaknya. Utamanya untuk kasus keracunan makanan MBG juga masih kurang menonjol. "Kasus keracunan gak menonjol juga sih. Kalau hal kecil gak sampai ke kita. Dan itu biasa saja orang masak gitu. Kalau kasus signifikan dari BGN langsung turun ke SPPG," akunya.
5. Tim Percepatan minta SPPG jaga cara masak untuk MBG
Terkait perkembangan hasil uji makanan MBG yang memicu keracunan di Sragen, pihaknya belum mendapat laporan dari Labkesda Jateng. Namun para siswa tidak ada yang rawat inap karena langsung sehat pada hari kejadian.
"Lapkesda tidak lapor saya. Yang dipantau dampak lanjutannya. Yang keracunan tidak ada rawat inap mereka sehat kembali di hari yang sama. Untuk SPPG kita minta cara masaknya sanitasinya kebersihannya untuk dijaga. Petugas SPPG sudah terlatih sih. Balai POM menstandar dan mengawasi produk itu. Maka kita mintanya meningkatkan kepatutan kualitas masakan dan sanitasinya," tandasnya.