Para petani di Bulurejo, Juwiring, Kabupaten Klaten mulai menerapkan pertanian yang lebih ramah lingkungan. (IDN Times/Bandot Arywono)
Suplai air yang kini lancar memudahkan petani untuk bisa melakukan penanaman hingga tiga musim tanam. Selain petani juga mulai berinovasi dengan mulai mengembangkan pertanian ramah lingkungan.
Giyarti Salah satu petani yang kini beralih menggunakan pertanian yang lebih ramah lingkungan dengan meminimalisir penggunaan pupuk kimia, meski tidak sepenuhnya meninggalkan pupuk kimia Giyarti kini mulai beralih ke penggunaan pupuk kandang untuk mengolah sawah. "Saya memanfaatkan pupuk organik dengan penggunaan pupuk kandang," kata Giyarti. Meski begitu Ia masih menggunakan sedikit pupuk kimia untuk merangsang pertumbuhan tanaman.
Awalnya alasannya menggunakan pupuk organik karena terbatasnya jumlah pupuk kimia yang disubsidi oleh pemerintah. "Dalam tiga kali masa tanam kita hanya kebagian 40 kg pupuk subsidi dari kartu tani, sementara untuk mengelola sawah satu patok (2.000 m2) tentu itu kurang," kata Giyarti. Untuk satu petak sawah seluas 2.000 meter persegi setiap musim tanam dibutuhkan setidaknya 40 Kg pupuk untuk mendapatkan hasil yang bagus, sementara saat ini jatah 40 kg pupuk subsidi tersebut digunakan untuk tiga musim tanam.
Harga pupuk per April 2024 yakni HET pupuk urea bersubsidi ditetapkan Rp 2.250 per kilogram (kg) dan NPK bersubsidi Rp 2.300 per kg. Adapun HET NPK formula khusus dan pupuk organik bersubsidi, masing-masing dipatok Rp 3.300 per kg dan 800 per kg.
Padahal jika menginginkan pupuk hasil harus membeli pupuk non subsidi yang harganya bisa lima kali lipat lebih mahal dibandingkan pupuk subsidi.
Giyarti pun lalu mencoba menggunakan pupuk organik yakni dari pupuk kandang. Giyarti kemudian memanfaatkan kotoran hewan yang mudah di dapat di sekitar rumahnya, "Kita manfaatkan kotoran hewan yang sebelumnya kita diamkan selama 30 hari, kemudian digunakan sebagai pupuk di sawah," katanya.
Selain kotoran hewan untuk pupuk, Giyarti juga memanfaatkan pestisida nabati untuk mengusir hama di lahan pertaniannya. Pesitisida nabati sendiri yakni merupakan senyawa kimia yang berasal dari tumbuhan yang digunakan untuk memberantas organisme pengganggu tumbuhan berupa hama dan penyakit tumbuhan maupun tumbuhan pengganggu (gulma). "Selama tiga tahun saya pakai pestisida nabati tidak pakai yang kimia, bisa bikin sendiri karena lebih murah," katanya.
Dengan meminimalisir penggunaan pupuk kimia dan meninggalkan pestisida kimia dan beralih ke pestisida nabati, hasilnya Giyarti lebih bisa menekan biaya produksi selama musim tanam. Biasanya untuk sekali musim tanam menurutnya dibutuhkan setidaknya lebih dari Rp3 juta dari mulai dari benih, biaya bajak sawah dengan menggunakan traktor, kebutuhan pupuk, hingga pestisida, namun dengan penggunaan pupuk organik, dan pestisida nabati yang lebih ramah lingkungan ia mengaku bisa menghemat hingga 40-50 persen pengeluaran.
Selain berhemat, penerapan pertanian dengan meminimalisir pupuk kimia dan pestisida kimia juga mendapatkan hasil yang lebih baik. "Beras bisa tahan lebih lama dan tidak mudah basi, nasi lebih pulen dan enak bisa tahan dua hari," ucap Giyarti.