Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dianggap Bikin Sial, Kenapa Orang Jawa Dilarang Gelar Hajatan Nikah di Bulan Suro?

Dianggap Bikin Sial, Kenapa Orang Jawa Dilarang Gelar Hajatan Nikah di Bulan Suro?
Peringatan Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah (IDN Times/Herka Yanis)
Intinya Sih
  • Selama bulan Suro, masyarakat Jawa menghindari hajatan besar seperti pernikahan karena dianggap waktu suci untuk introspeksi diri dan menahan hawa nafsu, bukan untuk pesta meriah.
  • Bulan Suro juga bertepatan dengan upacara sakral Keraton yang disebut Hajad Dalem, sehingga masyarakat dianjurkan tidak menggelar acara besar agar tidak menyaingi kewibawaan kerajaan.
  • Dalam Primbon Jawa dan sejarah Islam, bulan Suro dipandang sebagai masa transisi penuh energi tidak stabil serta momen duka Muharram, menjadikannya waktu yang kurang tepat untuk perayaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Surakarta, IDN Times - Memasuki pertengahan tahun 2026, masyarakat Jawa bersiap menyambut datangnya Malam 1 Suro. Di tengah ramainya persiapan ritual budaya, ada satu fenomena sosial yang selalu berulang setiap tahunnya: industri dekorasi pernikahan, gedung pertemuan, hingga katering mendadak sepi orderan.

Bukan tanpa alasan, mayoritas masyarakat yang memegang teguh adat Jawa pantang keras menggelar hajatan besar, terutama pernikahan, di sepanjang bulan Suro. Ada mitos kuat yang menyebutkan bahwa nekat menikah di bulan pertama penanggalan Jawa ini bisa mendatangkan kesialan, mulai dari seret rezeki, rumah tangga penuh pertengkaran, hingga tertimpa musibah (bala).

Namun, secara esensi budaya dan sejarah, kenapa larangan ini bisa begitu melekat dan ditakuti? Yuk, bedah alasan filosofis di balik pantangan nikah di bulan Suro berikut ini, Lur!

1. Suro Adalah Bulan Prihatin atau Waktu Mawas Diri

IMG_6965.jpeg
Refleksi diri dengan membakar kerja saat peringatan malam 1 Suro di Puro Mamgkunegaran. (IDN Times/Larasati Rey)

Dalam kacamata spiritual Kejawen, bulan Suro sejatinya bukanlah bulan yang buruk atau terkutuk. Sebaliknya, Suro dipandang sebagai bulan yang sangat suci dan sakral.

Filosofinya: Karena kesakralannya, bulan ini ditetapkan sebagai bulan keprihatinan. Suro adalah momen yang paling tepat bagi manusia untuk menahan hawa nafsu, melakukan introspeksi diri (eling lan waspada), serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui tirakat atau laku spiritual. Oleh karena itu, menggelar pesta pora yang meriah seperti hajatan nikah dianggap bertolak belakang dengan esensi kesucian bulan ini.

2. Menghormati "Hajad Dalem" Keraton

Peringatan Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah (IDN Times/Herka Yanis)
Peringatan Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah (IDN Times/Herka Yanis)

Alasan kedua berkaitan erat dengan hierarki sosial dan tatanan kultural kerajaan-kerajaan Jawa, seperti Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Filosofinya: Bulan Suro merupakan momentum bagi raja dan keraton untuk menggelar upacara adat besar (Hajad Dalem) serta mengarak pusaka-pusaka suci demi keselamatan negara. Di masa lampau, masyarakat umum diimbau untuk tidak "ngungkuli" atau menyaingi kewibawaan keraton. Menggelar pesta pernikahan besar di saat pusat kebudayaan sedang berkabung atau berfokus pada ritual sakral dianggap kurang elok dan pamali.

3. Hitungan "Naas Tahun" dalam Primbon Jawa

pexels-capturavisualmoment-34973696.jpg
ilustrasi orang jawa (pexels.com/Daniel Lee)

Bagi masyarakat tradisional yang masih menggunakan panduan kitab Primbon Jawa, bulan Suro menempati posisi yang krusial dalam siklus astrologi dan kosmologi Jawa.

Filosofinya: Suro kerap disebut sebagai pembatas awal dan akhir tahun (galengan tahun atau pematang tahun). Dalam perhitungan kalender kuno, titik transisi ini dianggap sebagai waktu di mana posisi kosmik sedang tidak stabil dan energi negatif mudah bergolak. Melanggar hari-hari yang dianggap sebagai "waktu naas" ini dikhawatirkan akan membawa dampak buruk bagi pondasi rumah tangga yang baru saja dibangun.

4. Sinkretisme dengan Peristiwa Sejarah Islam

Kuil Imam Hussain di Karbala adalah masjid dan tempat pemakaman Husain bin Ali, Imam Islam ketiga, di kota Karbala, Irak. (commons.wikimedia.org/Bahr Alwatifi)
Kuil Imam Hussain di Karbala adalah masjid dan tempat pemakaman Husain bin Ali, Imam Islam ketiga, di kota Karbala, Irak. (commons.wikimedia.org/Bahr Alwatifi)

Penanggalan Jawa ciptaan Sultan Agung merupakan perpaduan antara kalender Saka dan kalender Hijriah. Maka, bulan Suro secara otomatis bertepatan dengan bulan Muharram dalam Islam.

Filosofinya: Dalam sejarah Islam, bulan Muharram menyimpan cerita duka yang mendalam, salah satunya adalah tragedi Karbala yang merenggut nyawa Sayyidina Husain, cucu Nabi Muhammad SAW. Larangan mengadakan pesta di bulan ini kemudian diserap oleh budaya Jawa sebagai bentuk rasa hormat, empati, dan belasungkawa atas peristiwa memilukan yang menimpa keluarga suci tersebut.

Di era modern sekarang, larangan menikah di bulan Suro sebenarnya bersifat relatif. Secara hukum agama Islam maupun negara, tidak ada larangan mutlak untuk melangsungkan akad nikah kapan saja. Namun, bagi sebagian besar masyarakat Jawa, mematuhi pantangan ini bukan lagi soal takut sial, melainkan bentuk penghormatan terhadap petuah leluhur serta upaya menjaga keharmonisan tatanan sosial di lingkungannya.

Nah, itulah alasan lengkap mengapa bulan Suro sangat dihindari untuk menggelar hajatan pernikahan. Warisan budaya yang sarat makna ini mengajarkan kita untuk tahu kapan waktunya bersenang-senang dan kapan waktunya untuk sejenak merenung. Tetap lestarikan budaya dan bijak dalam menyikapinya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More