- Penghentian kebijakan efisiensi anggaran yang dinilai merugikan pelayanan publik.
- Stabilisasi dan penurunan harga kebutuhan pokok serta BBM.
- Evaluasi hingga penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Evaluasi program Koperasi Desa Merah Putih.
- (Tuntutan kelima yang disebutkan dalam aksi, sesuai rangkaian gerakan Banyumas Raya Marah).
Demo Tuntut Program Pemerintah, Pendopo Si Panji Diduduki Mahasiswa

- Ratusan mahasiswa Banyumas Raya menduduki Pendopo Si Panji Purwokerto setelah aksi demonstrasi menuntut perubahan ekonomi, sosial, dan politik nasional memanas dengan pembakaran ban.
- Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono berjanji meneruskan lima tuntutan mahasiswa ke pemerintah pusat, sementara perwakilan mahasiswa menegaskan akan mengawal janji tersebut hingga terealisasi.
- Dalam dialog terbuka, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan utama termasuk penghentian efisiensi anggaran, stabilisasi harga kebutuhan pokok dan BBM, serta evaluasi program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih.
Purwokerto, IDN Times - Aksi unjuk rasa Aliansi Mahasiswa Banyumas Raya memuncak dramatis pada Sabtu (13/6/2026) sore. Ratusan mahasiswa berhasil menduduki Pendopo Si Panji Purwokerto setelah sempat terjadi ketegangan dengan aparat kepolisian. Massa bahkan membakar ban sebagai simbol perlawanan.
Aksi yang bertajuk "Banyumas Raya Marah" dan "Aksi Tuntutan Revolusi Indonesia" ini dimulai sejak pukul 15.00 WIB. Massa awalnya berkumpul di Lapangan Purwanegara, kemudian bergerak menuju Pendopo Bupati Banyumas. Demonstrasi berlangsung panas dengan orasi orasi keras yang mengkritik kondisi ekonomi, sosial, dan politik nasional.
1. Tegang hingga bakar ban

Ketegangan sempat memuncak ketika sekelompok mahasiswa mencoba merangsek masuk ke area pendopo yang dijaga ketat oleh personel Polresta Banyumas. Aparat langsung membentuk barikade dan menghalau massa. Tak lama kemudian, mahasiswa membakar ban di dekat pintu masuk sebagai bentuk perlawanan.
Meski situasi memanas, aksi orasi tetap berlanjut. Di tengah demonstrasi, massa berulang kali meneriakkan yel yel "Turunkan Prabowo Gibran" serta menyerukan solidaritas antar elemen masyarakat untuk memperjuangkan aspirasi rakyat.
Setelah berhasil menduduki Pendopo Si Panji, para mahasiswa duduk di kursi kursi ruangan pemerintahan sambil menyanyikan lagu lagu perjuangan. Mereka menuntut dialog langsung dengan Bupati Banyumas dan pimpinan DPRD.
2. Bupati Banyumas janji sampaikan aspirasi ke pusat

Bupati Banyumas, Sadewo tri Lastiono merespons tuntutan tersebut dengan menyatakan bahwa pemerintah daerah akan meneruskan aspirasi mahasiswa ke tingkat pusat di Jakarta. "Kami akan sampaikan aspirasi ini ke Jakarta," kata Sadewo di hadapan massa aksi.
Sementara Wakil Presiden Mahasiswa DEMA UIN Saizu Purwokerto, Muhammad Zulfan Azmi, menilai dialog tersebut sebagai langkah awal yang positif. Seminim minimnya kita berhasil, apa yang kita sampaikan sudah disepakati Bupati dan katanya akan disampaikan, Hari Jumat suratnya akan selesai dan akan dilanjutkan ke nasional, ada lima tuntutan kami,"ujar Zulfan.
Zulfan menambahkan bahwa mahasiswa akan terus mengawal janji tersebut. Ia mengancam akan menggelar aksi yang lebih besar jika tidak ada tindak lanjut yang jelas. "Kedepannya akan ada aksi lagi, kalau tidak ada kabar, jumlah massa bisa dua kali lipat lebih banyak dari ini," tegasnya.
3. Mahasiwa sampaikan 5 tuntutan

Setelah dialog usai, massa membubarkan diri secara tertib. Namun, mereka menyatakan akan terus memantau apakah tuntutan tersebut dipublikasikan melalui situs resmi Pemkab Banyumas dan ditindaklanjuti secara serius.
Aksi ini menjadi salah satu demonstrasi mahasiswa terbesar di Banyumas dalam beberapa waktu terakhir yang berhasil memaksa pemerintah daerah melakukan dialog langsung.
Dalam dialog terbuka yang akhirnya berlangsung, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan utama:
















