Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Demo di Rumah Jokowi, Ada Penggugat Ijazah yang Kalah di PN Solo
Aksi demo di depan gang rumah Jokowi. (IDN Times/Larasati Rey)
  • Belasan anggota ARIB mendatangi rumah Jokowi di Solo pada 10 September 2026 sambil membawa spanduk, bendera, surat, dan plakat berisi filosofi Jawa.
  • Aksi sempat memanas saat massa berhadapan dengan relawan Jokowi, tetapi situasi kembali kondusif; permintaan bertemu Jokowi diarahkan melalui prosedur administrasi.
  • Koordinator ARIB Bangun Satoto menyebut aksi terkait pernyataan Budi Arie yang dinilainya berindikasi makar; ajudan Jokowi memastikan surat dan plakat telah diterima.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Belasan orang dari ARIB datang ke rumah Pak Jokowi di Solo. Mereka bawa bendera, surat, plakat, dan tulisan kritik. Mereka sempat berhadapan dengan relawan Pak Jokowi, lalu keadaan jadi tenang. Bangun Satoto ingin bertemu Pak Jokowi, tapi belum bisa. Ajudan Pak Jokowi bilang surat dan plakat sudah diterima.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surakarta, IDN Times – Belasan warga yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia Bergerak (ARIB) mendatangi kediaman Presiden ke-7 Joko “Jokowi” Widodo di Jalan Kutai Utara, Solo, Kamis (10/9/2026). Mereka datang membawa spanduk, poster, bendera Merah Putih, hingga plakat berisi sejumlah nasihat dalam bahasa Jawa.

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi sekaligus peringatan kepada Jokowi. Sejumlah spanduk yang dibentangkan massa memuat berbagai tulisan bernada kritik, di antaranya “Kami datang untuk kedamaian”, “Jokowi & Dinasti Haus Kuasa”, “Jokowi Haus Kekuasaan”, “Jokowi Raja Ngibul”, “Jokowi Pengkhianat NKRI”, dan “Proyek Jokowi Ajang Korupsi”.

Selain spanduk, massa juga membawa plakat berisi empat filosofi Jawa, yakni “Lamun siro sekti ojo kemaki”, “Lamun siro sekti tansah eling pati”, “Sopo nandur bakal ngunduh wohing pakarti”, dan “Sopo salah bakal seleh”.

1. Sempat Bersitegang dengan Relawan Jokowi

Aksi demo di depan gang rumah Jokowi. (IDN Times/Larasati Rey)

Aksi belasan warga tersebut sempat memicu ketegangan ketika massa memasuki Jalan Kutai Utara. Di lokasi, mereka bertemu dengan puluhan relawan Jokowi yang telah datang sejak pagi.

Dua kelompok tersebut sempat saling berhadapan. Teriakan yel-yel dukungan dari kedua kubu terdengar lantang di sekitar lokasi kediaman Jokowi.

Meski demikian, situasi tidak berlangsung lama. Ketegangan berangsur kondusif setelah massa ARIB membubarkan diri.

Sebelum meninggalkan lokasi, Bangun Satoto bersama sejumlah rekannya sempat menemui Paspampres dengan maksud meminta bertemu Jokowi. Namun, keinginan tersebut belum dapat terealisasi.

Mereka diarahkan untuk melakukan pendaftaran secara resmi dan administratif apabila ingin menyampaikan surat serta plakat kepada Jokowi. Sementara bagi warga yang hanya ingin berfoto, mereka diminta mengikuti antrean yang telah disediakan.

2. Datang Bawa Surat dan Plakat untuk Jokowi

Aksi demo di depan gang rumah Jokowi. (IDN Times/Larasati Rey)

Koordinator aksi, Bangun Satoto mengatakan, kedatangan mereka bertujuan menyampaikan surat dan plakat secara langsung kepada Jokowi. Ia menyebut aksi tersebut berkaitan dengan pertemuan Jokowi dengan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, yang menurutnya memunculkan indikasi adanya rencana makar.

“Kami ingin menyampaikan sepucuk surat dan satu buah plakat untuk bapak Joko Widodo. Karena bapak Jokowi belum lama ini duduk di sebelah Budi Arie Setiadi yang menyampaikan indikasi adanya makar. Karena itu kami sebagai anak bangsa mewakili seluruh rakyat Indonesia tidak bisa tinggal diam.
Karena itu kepada bapak Joko Widodo, kerana beliau sebagai manusia sama seperti kami. Maka kami mengingatkan sebagai bentuk kepedulian kemi kepada NKRI. Karena itu kami berikan surat dan plakat yang berisi filosofi jawa,” ungkapnya.

Bangun, yang merupakan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) dan pernah menggugat ijazah Jokowi di Pengadilan Negeri Surakarta, mengatakan surat peringatan tersebut diberikan setelah pernyataan Budi Arie yang dinilainya mengindikasikan adanya tindakan makar menjadi perhatian publik.

“Artinya apa yang disampaikan oleh Budi Arie, di mana Pak Jokowi mendengar, melihat ya, itu bisa diperjelas dan faktanya oleh rekan-rekan dari pendukung Bapak Prabowo Subianto itu dinilai sebagai sebuah tindakan makar. Karena itu kami juga demikian menilai bahwa apa yang dikatakan oleh Budi Arie adalah indikasi adanya tindakan makar,” tandasnya.

Bangun mengatakan aksi tersebut juga merupakan bentuk kepedulian terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia menyebut masyarakat tidak seharusnya diam ketika menemukan sesuatu yang dinilai berpotensi mengancam konstitusi.

Ia mengaitkan sikap tersebut dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam bukunya Paradoks Of Indonesia mengenai pentingnya rakyat menyampaikan pendapat.

“Karena itu apa yang kami lakukan adalah menjalankan amanat konstitusi ya, sebagai bentuk bela negara. Karena itu di sini bisa anda saksikan yang kami bawa adalah bendera merah putih. Karena bagaimanapun makar adalah tindakan inkonstitusional dan itu tidak boleh terjadi siapa pun presidennya,” pungkasnya.

2. Ajudan Jokowi sebut semua plakat dan surat telah diterima

Aksi demo di depan gang rumah Jokowi. (IDN Times/Larasati Rey)

Sementara itu di kesempatan yang sama, Ajudan Jokowi, AKBP Syarif Fitriansyah mengatakan, jika aspirasi berupa surat hingga plakat telah diterima oleh Jokowi. Ia memastikan Jokowi akan melihat aspirasi tersebut.

“Saya pastikan Pak Jokowi menerima dan membaca surat tersebut,” jelasnya.

Meski tak sampai di depan rumah Jokowi, massa kemudian memilih untuk mundur dan membubarkan diri.

Curated For You

Editorial Team

Related Article