Eksistensi 145 Tahun, Ganep Jaga Tradisi dan Adaptasi Zaman

- Ganep, usaha roti legendaris asal Solo berdiri sejak 1881, kini dikelola generasi ke-6 Laurensia Liona dan tetap eksis meski menghadapi persaingan industri modern.
- Liona melakukan inovasi rasa berbasis bumbu Nusantara dengan bahan alami, menjaga cita rasa tradisional sekaligus menyesuaikan standar produksi agar siap bersaing di pasar ekspor.
- Selain berbisnis, Ganep aktif dalam kegiatan sosial seperti magang, donor darah, dan edukasi masyarakat sebagai bentuk komitmen menjaga nilai kemanusiaan dan warisan keluarga.
Surakarta, IDN Times – Usaha roti legendaris Ganep yang telah berdiri sejak 1881 terus membuktikan eksistensinya hingga kini. Di tangan generasi ke-6, Laurensia Liona, Ganep tidak hanya mempertahankan resep warisan, tetapi juga berupaya beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai tradisi.
Momentum ulang tahun sang ibu yang ke-68 sekaligus menjadi refleksi perjalanan panjang usaha keluarga tersebut. Di usia yang telah melampaui satu abad, Ganep tetap berdiri sebagai salah satu ikon kuliner heritage di Solo.
1. Bertahan 145 Tahun, Hadapi Tantangan Modern

Liona mengakui, perjalanan panjang Ganep tidak lepas dari berbagai tantangan, terutama dalam menghadapi persaingan dengan perusahaan besar yang sudah go nasional hingga internasional.
“Gimana sih eksistensi Gandep sendiri sampai 2019 881 ya? 1881 ya. Mungkin kalau kita bandingkan sama perusahaan yang sudah go nasional, go internasional, itu ketinggalannya jauh banget. Mereka sudah generasi kedua, ketiga, sudah go nasional, sudah go internasional,” ujarnya Kamis (23/4/2026).
Meski begitu, Ganep sempat mencoba menembus pasar luar negeri dengan mengikuti pameran dagang. Namun hingga kini, mereka belum mendapatkan buyer tetap.
“Ya kami pernah sih ngirim produk sampai luar negeri, tapi kan bukan eksportir reguler gitu ya. Meskipun ya saya juga ada kepinginan di situ. Kita juga diajak oleh Kementerian Perdagangan, Perindustrian itu. Sudah pernah ikut trade expo. Tapi ya intinya sampai detik ini kami belum ada lah kayak buyer yang berkelanjutan. Kepingin itu.”
2. Inovasi Rasa, Tetap Utamakan Bahan Alami.

Dalam menjaga relevansi, Ganep mulai berinovasi dengan menghadirkan varian rasa berbasis bumbu Nusantara. Inspirasi ini didapat setelah belajar dari industri bumbu di Surabaya.
“Terus dengan Dengan situasi itu, saya juga pengen renovasi, terutama dari segi produksinya itu bisa lebih disesuaikan lah standarnya sama yang bisa ekspor itu tadi,” katanya.
Liona menegaskan, inovasi tersebut tetap mengedepankan bahan alami dan meminimalisir penggunaan bahan tambahan pangan sintetis.
“Intinya adalah bumbu-bumbu yang rasa Nusantara dan saya pelajari dari beliaunya ya Kita sekarang ini kan banyak sekali bahan BTP, bahan tambahan pangan yang katanya aman, tapi kalau menurut saya masih kurang yakin juga ya,” jelasnya.
“Nah kami berusaha sebisa mungkin pakai bahan yang alami, lokal, yang bisa dilihat dari ingredients list mereka itu masih ya jintan lah apa yang lokal-lokal gitu, yang alami-alami,” sambungnya.
3. Lebih dari Sekadar Bisnis, Ganep ‘Ngopeni’ Masyarakat

Tak hanya berfokus pada produk, Ganep juga membawa misi sosial yang diwariskan lintas generasi. Usaha ini aktif dalam kegiatan pendidikan, kesehatan, hingga sosial kemasyarakatan.
“Kita kan buka magang PKL di sini. Nah itu untuk produk-produk yang mereka trial untuk sebelum lulus itu,”jelasnya.
Selain itu, berbagai kegiatan seperti komunitas yoga, donor darah, hingga edukasi juga menjadi bagian dari kontribusi Ganep.
“Tujuannya untuk mau menyampaikan pesan bahwa GANAP ini bukan sekedar jualan. Ini juga ngopeni masyarakat,” katanya.
“Kita nggak paling murah, tapi kita juga bukan yang paling mahal. Kenapa? Kalau paling murah nanti kesannya produknya jelek. Kalau paling mahal tidak terjangkau,” sambungnya.
Dengan menjaga keseimbangan antara tradisi, inovasi, dan kepedulian sosial, Ganep terus berupaya bertahan di tengah perubahan zaman. Di usia 145 tahun, warisan rasa itu tetap hidup dan relevan bagi masyarakat.


















