Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Gak Cuma Gadget, 5 Kebiasaan Sepele Ortu di Rumah ini Bikin Anak Malas Belajar

Gak Cuma Gadget, 5 Kebiasaan Sepele Ortu di Rumah ini Bikin Anak Malas Belajar
ilustrasi anak main game (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti bahwa bukan hanya gadget, tetapi kebiasaan orang tua di rumah juga bisa membuat anak kehilangan fokus dan motivasi belajar.
  • Lima kebiasaan utama yang berdampak negatif meliputi kebisingan saat jam belajar, pertengkaran di depan anak, tuntutan nilai tinggi tanpa pendampingan, jadwal tidak konsisten, serta memarahi anak saat salah.
  • Penulis mengajak orang tua menciptakan suasana rumah yang tenang, suportif, dan teratur agar anak lebih semangat serta nyaman dalam proses belajar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Menyaksikan anak mendadak malas menyentuh buku pelajaran atau sulit berkonsentrasi saat menghadapi ujian pasti sering bikin orang tua pusing tujuh keliling ya, Lur? Saat nilai rapor menurun atau anak mulai mogok belajar, kambing hitam pertama yang paling sering disalahkan biasanya adalah kecanduan gadget atau terlalu asyik main game online.

Memang benar gawai punya andil besar, tapi tahukah Sedulur kalau suasana lingkungan di dalam rumah juga sangat menentukan psikologis anak? Tanpa disadari, beberapa kebiasaan sepele yang kerap dilakukan orang tua di rumah justru menjadi pemicu utama yang merusak daya fokus anak dan mematikan motivasi belajar mereka sejak dini.

Biar gak keliru mengambil tindakan, yuk koreksi diri dan intip 5 kebiasaan sepele orang tua di rumah yang tanpa disadari bikin anak malas belajar dan hilang fokus berikut ini!

1. Menyalakan TV atau Membuat Kegaduhan saat Jam Belajar Anak

Ilustrasi menyalakan tv (pexels.com/Vidal Balielo Jr.)
Ilustrasi menyalakan tv (pexels.com/Vidal Balielo Jr.)

Anak-anak adalah peniru ulung sekaligus makhluk yang sangat mudah terdistraksi oleh rangsangan suara di sekitarnya.

Dampaknya: Meminta anak fokus membaca buku di kamar sementara orang tua asyik menonton sinetron atau tertawa keras saat melihat video TikTok di ruang tamu adalah hal yang tidak adil bagi mereka. Suara bising dari televisi atau obrolan orang dewasa akan memecah gelombang konsentrasi anak, sehingga otak mereka tidak mampu menyerap materi pelajaran dengan optimal.

2. Sering Bertengkar atau Beradu Argumen di Depan Anak

ilustrasi bertengkar dengan pasangan (magnific.com/stockking)
ilustrasi bertengkar dengan pasangan (magnific.com/stockking)

Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman dan menenangkan bagi anak untuk pulang dan mengistirahatkan pikiran selepas sekolah.

Dampaknya: Ketika orang tua sering beradu argumen, membentak, atau menunjukkan konflik rumah tangga secara terang-terangan di depan anak, hal ini akan memicu stres akademik dan kecemasan emosional yang tinggi. Anak yang merasa cemas dan tidak aman di rumahnya sendiri akan kesulitan memfokuskan pikiran mereka untuk belajar karena energi mentalnya habis terkuras memikirkan kondisi orang tuanya.

3. Menuntut Hasil Nilai yang Tinggi Tanpa Mau Menemani Prosesnya

anak-anak belajar dan berdiskusi bersama dikelas
ilustrasi anak anak belajar bersama teman disekolah (pexels.com/ron lach)

Banyak orang tua yang hanya mau menerima hasil akhir berupa nilai A atau peringkat kelas yang tinggi, namun abai terhadap perjuangan harian sang anak.

Dampaknya: Mengontrol anak hanya dengan omelan seperti "Ayo belajar!" dari kejauhan tanpa pernah duduk mendampingi mereka saat kesulitan mengerjakan PR akan membuat anak merasa tertekan dan kesepian. Alih-alih termotivasi, anak justru akan memandang aktivitas belajar sebagai sebuah beban berat dan hukuman yang menakutkan.

4. Tidak Menerapkan Jadwal Rutin yang Konsisten di Rumah

ilustrasi mengatur jadwal belajar anak (pexels.com/Julia M Cameron)
ilustrasi mengatur jadwal belajar anak (pexels.com/Julia M Cameron)

Fleksibilitas dalam rumah tangga memang diperlukan, namun rumah yang sama sekali tidak memiliki struktur waktu yang jelas akan membingungkan anak.

Dampaknya: Jika jam makan, jam tidur, jam bermain, dan jam belajar anak setiap hari selalu berubah-ubah secara acak tergantung suasana hati orang tua, maka kedisiplinan anak tidak akan pernah terbentuk. Tanpa adanya rutinitas yang konsisten, anak akan selalu menunda-nunda waktu belajar dan lebih memilih aktivitas lain yang instan menyenangkan seperti bermain.

5. Langsung Memarahi atau Menghakimi Anak saat Mereka Salah Tugas

Orang tua memarahi anaknya
ilustrasi orang tua memarahi anaknya (pexels.com/Yan Krukau)

Saat mendampingi anak belajar, tidak jarang orang tua kehilangan kesabaran ketika anak lambat memahami suatu materi atau berulang kali salah menjawab pertanyaan.

Dampaknya: Kalimat makian atau helaan napas frustrasi dari orang tua saat anak melakukan kesalahan akan langsung menjatuhkan rasa percaya diri mereka. Anak akan mengalami trauma akademis ringan, di mana mereka mengasosiasikan aktivitas belajar dengan rasa takut dimarahi. Akibatnya, mereka memilih untuk malas belajar demi menghindari penilaian negatif dari orang tuanya sendiri.

Nah, itulah 5 kebiasaan sepele di rumah yang wajib kita kurangi dan perbaiki mulai hari ini. Mari bangun suasana rumah yang hangat, suportif, dan minim distraksi demi masa depan dan prestasi anak tercinta. Semangat mendampingi si kecil belajar, Sedulur!

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More