- Penyumbang Deflasi: Komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit mengalami penurunan harga seiring normalisasi permintaan pasca-momentum Idulfitri 1447 H. Selain itu, koreksi harga emas global mendorong deflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
- Penahan Deflasi: Harga minyak goreng naik akibat kenaikan harga kelapa sawit dan ongkos produksi plastik kemasan karena konflik di Timur Tengah. Kenaikan biaya energi berupa gas LPG dan kemasan plastik juga memicu inflasi pada komoditas nasi dengan lauk. Di sektor elektronik, harga telepon seluler dan laptop naik akibat lonjakan harga komponen chipset dan memori.
Inflasi Jawa Tengah Terjaga Usai Lebaran 2026, Catat Deflasi 0,03 Persen

- Jawa Tengah mencatat deflasi 0,03 persen pada April 2026, berlawanan dengan inflasi nasional 0,13 persen, dipicu turunnya harga ayam ras, telur, dan cabai rawit pasca-Idulfitri.
- Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah mencapai 2,11 persen atau di bawah rata-rata nasional 2,42 persen; emas perhiasan dan beras jadi penyumbang utama kenaikan harga.
- Sebagian besar kota di Jawa Tengah alami deflasi bulanan, dengan Wonogiri tertinggi 0,25 persen; Bank Indonesia dan TPID terus koordinasi menjaga inflasi dalam rentang sasaran.
Semarang, IDN Times - Pasca-perayaan Idulfitri 1447 H, tingkat inflasi di Provinsi Jawa Tengah terpantau tetap terkendali. Laporan terbaru dari Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Jawa Tengah menunjukkan dinamika harga komoditas yang cukup stabil pada April 2026. Mari bedah rincian pergerakan indeks harga konsumen di wilayah tersebut.
1. Kondisi deflasi bulanan Jawa Tengah

Provinsi Jawa Tengah mencatatkan deflasi sebesar 0,03 persen secara bulanan (m-t-m) pada April 2026. Angka itu berbanding terbalik dengan kondisi nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,13 persen pada periode yang sama. Pada bulan sebelumnya, Jawa Tengah sempat mengalami inflasi bulanan sebesar 0,57 persen.
Penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil utama terhadap deflasi periode itu. Adapun rinciannya sebagai berikut.
2. Tren inflasi tahunan di bawah rata-rata nasional

Secara tahunan (y-o-y), Provinsi Jawa Tengah mengalami inflasi 2,11 persen pada April 2026. Angka itu lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi nasional yang mencapai 2,42 persen maupun angka dari provinsi lainnya di Pulau Jawa.
Untuk penyumbang inflasi tahunan adalah tensi geopolitik global di Timur Tengah mendorong inflasi komoditas emas perhiasan sebagai penyumbang terbesar. Kemudian, komoditas beras, daging ayam ras, minyak goreng, dan sigaret kretek mesin (SKM) juga turut menyumbang inflasi tahunan.
Sementara itu, penurunan harga bawang putih, bawang merah, cabai merah, kelapa, dan angkutan antarkota mampu menahan laju inflasi lebih lanjut.
3. Sebaran indeks harga konsumen wilayah

Sebagian besar kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Tengah mengalami deflasi bulanan yang sejalan dengan tingkat provinsi.
Tingkat deflasi paling dalam tercatat di Kabupaten Wonogiri sebesar 0,25 persen. Posisi tersebut disusul oleh Kabupaten Wonosobo sebesar 0,23 persen dan Cilacap sebesar 0,21 persen.
Sebaliknya, inflasi bulanan hanya terjadi di Kota Semarang sebesar 0,17 persen dan Kudus sebesar 0,02 persen.
Lalu, secara tahunan, seluruh kota IHK mengalami inflasi. Tingkat inflasi tahunan tertinggi berada di Kota Tegal sebesar 2,30 persen, sedangkan tingkat terendah tercatat di Kabupaten Wonosobo sebesar 1,76 persen.
Bank Indonesia bersama Forum Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Tengah dan tingkat kabupaten/kota akan terus berkoordinasi. Program pengendalian inflasi terus dilaksanakan untuk menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi komoditas. Langkah strategis tersebut ditujukan agar inflasi Jawa Tengah tetap terjaga pada rentang sasaran 2,5±1 persen.


















