Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jangan Tergiur Murah! Ini Bahaya Konsumsi Minyakita Oplosan Dicampur Jelantah
Penjualan Minyakita di Pasar Kosambi Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • Tingginya permintaan Minyakita dimanfaatkan oknum nakal dengan mencampur minyak asli dan jelantah, lalu menjualnya di bawah HET demi keuntungan pribadi.
  • Konsumsi Minyakita oplosan berisiko memicu kanker, penyakit jantung, kerusakan hati dan ginjal, serta gangguan pencernaan akibat senyawa toksik dari minyak bekas.
  • Masyarakat dapat mengenali minyak oplosan melalui warna yang keruh, aroma tengik atau kimia, serta tekstur lebih kental dibandingkan Minyakita asli.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok, kehadiran minyak goreng subsidi kemasan seperti Minyakita tentu menjadi angin segar bagi masyarakat dan pelaku UMKM. Harganya yang terjangkau membuat produk ini sangat diburu di pasaran. Sayangnya, tingginya permintaan ini dimanfaatkan oleh oknum produsen nakal untuk meraup keuntungan pribadi dengan cara memproduksi Minyakita oplosan.

Modus yang sering ditemukan di lapangan adalah mencampur Minyakita asli dengan minyak jelantah (minyak bekas pakai) yang telah dijernihkan secara kimia, lalu dikemas ulang agar terlihat baru. Dijual dengan harga miring di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET), minyak oplosan ini menyimpan ancaman fatal bagi tubuh karena mengandung zat toksik akibat proses pemanasan berulang kali.

Biar gak mengorbankan kesehatan keluarga demi hemat beberapa ribu rupiah, yuk simak 4 bahaya kesehatan mengonsumsi Minyakita oplosan yang dicampur minyak jelantah berikut ini, Lur!

1. Pemicu Kanker Akibat Senyawa Karsinogenik Akrilamida

ilustrasi sel kanker (unsplash.com/National Cancer Institute)

Minyak jelantah yang digunakan sebagai bahan campuran oplosan biasanya telah melalui proses penggorengan berulang-ulang pada suhu tinggi.

Pemanasan minyak secara berulang-ulang akan mengubah struktur kimia minyak dan merusak asam lemak sehat di dalamnya. Proses ini menghasilkan senyawa radikal bebas berbahaya dan zat karsinogenik seperti akrilamida serta peroksida. Jika minyak oplosan ini digunakan lagi untuk memasak di rumah secara terus-menerus, zat karsinogenik tersebut akan menumpuk dalam tubuh dan memicu kerusakan sel yang berujung pada penyakit kanker.

2. Penyumbatan Pembuluh Darah dan Serangan Jantung

ilustrasi serangan jantung (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Minyak goreng yang sudah dipakai berkali-kali akan mengalami proses hidrolisis dan oksidasi yang tinggi, mengubah lemak tak jenuh menjadi lemak jenuh berbahaya.

Mengonsumsi makanan yang digoreng dengan Minyakita oplosan berjelantah akan meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida dalam darah secara drastis, sekaligus menurunkan kadar kolesterol baik (HDL). Lemak jenuh ini akan menempel dan membentuk plak di dinding pembuluh darah (aterosklerosis). Akibatnya, aliran darah terhambat dan meningkatkan risiko stroke hingga serangan jantung mendadak, Sedulur!

3. Kerusakan Organ Hati atau Liver dan Ginjal

Ilustrasi sakit liver (www.medicalnewstoday.com)

Hati merupakan organ utama di dalam tubuh manusia yang berfungsi untuk menyaring racun (detoksifikasi).

Bahayanya: Ketika Sedulur mengonsumsi makanan dari minyak oplosan, hati harus bekerja ekstra keras untuk menetralisir senyawa toksik hasil proses hidrolisis minyak jelantah. Jika kapasitas hati sudah terlampaui karena paparan racun setiap hari, sel-sel hati akan mengalami peradangan kronis hingga sirosis (gagal hati). Tak hanya hati, ginjal juga akan mengalami penurunan fungsi karena harus menyaring ampas darah yang membawa zat-zat kimia berbahaya tersebut.

4. Gangguan Pencernaan Akut dan Obesitas

ilustrasi obesitas (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Pernahkah kamu merasakan tenggorokan gatal, serak, atau perut terasa mual setelah makan gorengan? Bisa jadi itu karena minyak yang digunakan sudah rusak.

Bahayanya: Minyak jelantah oplosan memiliki tingkat keasaman (free fatty acid) yang sangat tinggi. Senyawa ini bersifat korosif dan bisa mengiritasi dinding lambung serta saluran pencernaan, menyebabkan penyakit maag, diare, hingga infeksi usus. Selain itu, minyak yang telah rusak berulang kali cenderung menyerap lebih banyak ke dalam makanan, sehingga kalori yang masuk ke tubuh berlipat ganda dan memicu obesitas.

5. Trik Cepat Mengenali Minyakita Oplosan di Pasaran

Minyak goreng merek MinyaKita dijual Kopdes Pendrikan Lor Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Biar gak kecolongan, ada tiga cara mudah yang bisa Sedulur lakukan untuk mendeteksi apakah Minyakita yang dibeli itu asli atau oplosan:

Cek Warna dan Kejernihan: Minyakita asli berwarna kuning keemasan jernih. Minyakita oplosan biasanya cenderung lebih pekat, agak keruh, atau memiliki endapan kotoran tipis di dasar botol/kemasan bantalnya.

Aroma Minyak: Minyak baru yang higienis tidak memiliki bau yang menyengat. Jika tercium bau tengik, bau bekas masakan (seperti bau ikan/bumbu), atau bau zat kimia pemutih, segera urungkan niat untuk membeli.

Uji Kekentalan: Minyakita oplosan yang dicampur jelantah biasanya terasa lebih kental dan lengket saat dituangkan atau disentuh dengan ujung jari.

Nah, itulah bahaya kesehatan di balik konsumsi Minyakita oplosan berjelantah. Yuk, lebih jeli dan selektif lagi dalam memilih bahan pangan demi menjaga kesehatan diri dan keluarga tercinta. Selamat berhari Selasa dan tetap sehat, Sedulur!

Curated For You

Editorial Team

Related Article