Kepengin Angkat Derajat Keluarga, Ratusan Gen Z Pilih Magang Ke Jepang

- Sebanyak 508 Gen Z dari berbagai daerah Indonesia mengikuti seleksi magang kerja ke Jepang demi memperbaiki ekonomi keluarga dan menambah pengalaman kerja internasional.
- Para peserta, seperti Bima dan Andi, termotivasi membantu keluarga serta ingin meniru etos kerja disiplin masyarakat Jepang untuk diterapkan di Indonesia.
- Gubernur Ahmad Luthfi dan perwakilan IM Japan menekankan pentingnya menjaga kepercayaan, membangun karakter, serta menjadikan magang sebagai ajang belajar bukan sekadar mencari gaji.
Semarang, IDN Times - Situasi ekonomi yang serba sulit membuat sejumlah warga memilih mengikuti program magang kerja ke Jepang. Yang ikut mendaftar tahun ini tercatat 508 orang.
Dari jumlah tersebut, 401 peserta hadir mengikuti tahapan seleksi. Para peserta berasal dari sejumlah daerah, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, DIY, Banten, Bali, DKI Jakarta, Kalimantan Utara, Lampung, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).
Bima berniat biayai sekolah adiknya

Bima Sujatmiko, seorang peserta magang kerja asal Pemalang mengaku mengetahui program tersebut dari sosialisasi lembaga pelatihan kerja (LPK) di sekolahnya.
Ia berharap bisa ikut program ini ingin membantu ekonomi keluarga, sehingga bisa membiayai sekolah adiknya.
“Untuk meningkatkan ekonomi keluarga, agar bisa membiayai sekolah adik,” kata Bima yang mengaku telah menyiapkan diri sejak jauh hari.
Andi kepengin contoh etos kerja orang Jepang

Peserta lain dari Nusa Tenggara Barat (NTB), Andi Ardiansyah juga bilang dirinya sengaja mengikuti seleksi Jawa Tengah setelah mengetahui informasi pendaftaran program magang ini melalui IM Japan.
“Motivasi saya ingin belajar betul bagaimana bekerjanya orang Jepang. Karena saya tahunya mereka itu maju. Saya ingin belajar di sana, sehingga bisa mengaplikasikannya di Indonesia,” kata Andi.
Andi beberapa tahun tidak langsung melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA karena kondisi ekonomi keluarga. Ia kemudian merantau ke Jawa, mendapatkan beasiswa kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya, dan lulus pada Februari 2026.
Ia berharap bisa lolos seleksi dan sukses bekerja di Jepang. Sehingga kelak dapat membantu adik-adiknya agar memiliki kesempatan yang lebih baik ke depan. “Saya ingin membanggakan negara Indonesia dan bisa memberangkatkan adik-adik saya untuk ke depannya,” ujarnya.
Luthfi minta peserta magang tidak minderan

Setali tiga uang, peserta asal Tegal, Eko Prasetyo tertarik ikut seleksi program ini meningkatkan kemampuan sekaligus memperbaiki ekonomi keluarga. Ia sudah mencari tahu gambaran dunia kerja di Jepang. Menurutnya, kedisiplinan menjadi salah satu hal utama yang harus disiapkan.
Gubernur Ahmad Luthfi mengatakan, program magang ke Jepang menjadi bukti sumber daya manusia Indonesia, termasuk Jawa Tengah, memiliki daya saing di tingkat internasional. Menurutnya, kepercayaan tersebut harus dijaga dengan sungguh-sungguh.
“Tenaga kerja Indonesia tidak kalah dengan tenaga kerja negara-negara lain. Etos kerja Indonesia patut diperhitungkan di kancah internasional,” kata Luthfi.
Ia berpesan kepada para peserta agar mengikuti seluruh tahapan seleksi dengan serius. Bagi Luthfi, keberanian para peserta untuk mencoba sudah menjadi langkah penting dalam meraih masa depan.
Luthfi juga meminta para peserta tidak minder dengan latar belakang masing-masing. Ia berharap mereka kelak bisa menjadi duta tenaga kerja Indonesia yang membanggakan keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Wakil Direktur IM Japan Yamauchi Takeshi berpesan agar peserta tidak menjadikan program magang ke Jepang hanya sebagai jalan untuk mendapatkan gaji. Menurutnya, hal terpenting dari program tersebut adalah belajar etos kerja.
“Tujuan kalian bukan hanya sekadar berangkat ke Jepang. Tujuan yang sebenarnya adalah belajar sebanyak mungkin melalui pekerjaan di Jepang,” kata Yamauchi.
Ia mengatakan, peserta magang harus membangun karakter yang baik, mulai dari menaati aturan, jujur, menghormati orang lain, hingga aktif belajar selama bekerja di Jepang. "Bekerja di Jepang bukanlah hal yang mudah. Namun, ada sangat banyak hal yang bisa dipelajari,” ujarnya.























