Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jelang Ramadan di Kampung Bustaman, Peragaan Busana hingga Gebyuran

Jelang Ramadan di Kampung Bustaman, Peragaan Busana hingga Gebyuran
Peragaan busana di Kampung Bustaman, Kota Semarang saat jelang Ramadan. (Dok. Pemkot Semarang)

Semarang, IDN Times - Suasana Kampung Bustaman di Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang selalu meriah menjelang bulan Ramadan. Sebab, warga di kampung tersebut selalu menggelar tradisi gebyuran atau perang air.

1. Warga setempat jadi model peragaan busana

Peragaan busana di Kampung Bustaman, Kota Semarang saat jelang Ramadan. (Dok. Pemkot Semarang)
Peragaan busana di Kampung Bustaman, Kota Semarang saat jelang Ramadan. (Dok. Pemkot Semarang)

Selain itu, pada tahun ini ada peragaan busana "Sukacita Bustaman", yang diinisiasi oleh Kolektif Hysteria bersama Anggota DPR RI Komisi VII, Samuel Wattimena. Adapun, para designer kondang yang terlibat selain Samuel Wattimena, ialah Yoyo Prasetio, Emmy Three, Dimas Mahendra, Sudarsa Suarsa, Elkana dan Tya Chandra.

Dalam pertunjukkan yang digelar Sabtu (22/2/2025) itu, warga setempat menjadi model. Mereka berlenggak-lenggok mengenakan busana rancangan desainer di gang-gang sempit di Kampung Bustaman. Setidaknya ada 29 model yang berjalan di sepanjang gang Kampung Bustaman, dan berfoto di lima titik lokasi. 

Usia para model pun beragam. Mulai dari anak-anak, remaja, bahkan hingga para ibu-ibu yang terlihat antusias dalam gelaran tersebut.

Kemudian, hari selanjutnya Minggu (23/2/2025), tradisi Gebyuran Bustaman digelar di kampung tersebut. Warga di Kampung Bustaman selalu disambut antusias tidak hanya oleh warga setempat tapi juga masyarakat di Kota Semarang.

2. Tradisi sejak tahun 1742

Peragaan busana di Kampung Bustaman, Kota Semarang saat jelang Ramadan. (Dok. Pemkot Semarang)
Peragaan busana di Kampung Bustaman, Kota Semarang saat jelang Ramadan. (Dok. Pemkot Semarang)

Perang air ini memiliki makna untuk mensucikan diri menjelang bulan Ramadan. Adapun, tradisi ini sudah ada sejak tahun 1742, dipelopori oleh Kyai Bustam. Pada kala itu Kyai Bustam memiliki kebiasaan memandikan cucu-cucunya di sumur jelang Ramadan.

Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin mengatakan, bahwa upaya pengembangan sisi pariwisata tersebut, merupakan salah satu visi misi Pemerintah Kota Semarang pada periode kepemimpinan Agustina Wilujeng dan dirinya.

"Kami, Bu Agustin-Iswar, akan terus berupaya asal Kota Semarang bisa berkembang, termasuk sisi pariwisata," katanya

Ia menjelaskan bahwa upaya tersebut dapat ditempuh melalui tiga tahap. Yakni, dukungan untuk akses permodalan, akses pendampingan dan akses pemasaran.

3. Kolaborasi untuk kembangkan wisata Semarang

Peragaan busana di Kampung Bustaman, Kota Semarang saat jelang Ramadan. (Dok. Pemkot Semarang)
Peragaan busana di Kampung Bustaman, Kota Semarang saat jelang Ramadan. (Dok. Pemkot Semarang)

"Akses pendamping, akses permodalan, akses pemasaran itu kan tiga pilar dalam pengembangan usaha, termasuk dalam bidang pariwisata," jelasnya.

Oleh karena itu, ia berharap para panitia Gebyuran Bustaman yang sudah masuk dalam agenda pariwisata tahunan Kota Semarang, terus menjaga intensitas semangatnya.

"Panitia harus tetap bersemangat," ujarnya.

Upaya dukungan tersebut ditegaskan Iswar akan konsisten untuk dilakukan oleh pemerintah kota, sesuai visi-misi mereka.

Namun, ia tetap berharap adanya kolaborasi dari berbagai pihak dalam mewujudkan kesuksesan mengembangkan wisata di Kota Semarang.

Wakil Dapil I Jawa Tengah Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena yang turut hadir dalam Gebyuran Bustaman mengatakan, akan membawa potensi tradisi ini ke Kementerian Pariwisata. Sebab, roh kegiatan ini adalah pariwisata dan kebudayaan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
ANGGUN PUSPITONINGRUM
EditorANGGUN PUSPITONINGRUM
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More

Undip Akan Berikan Sanksi Bagi Pelaku Penganiayaan Mahasiswa Arnendo

05 Mar 2026, 00:53 WIBNews