Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jokowi Jadi Jurkam Luthfi-Yasin Untuk Incar Pemilih Kelas Bawah
Mantan presiden Jokowi saat ikut berkampanye dengan Luthfi-Yasin di Grobogan. (IDN Times/Dok Luthfi-Yasin)

Semarang, IDN Times - Keputusan mantan presiden Joko Widodo atau Jokowi yang menjadi juru kampanye paslon cagub Jateng nomor urut 2, Luthfi-Yasin disinyalir untuk mengincar kantong suara calon pemilih kalangan masyarakat bawah. Musababnya, masyarakat berpersepsi Jokowi memiliki kepedulian terhadap bantuan sosial (bansos) yang identik dengan kebutuhan rakyat kecil.

 

1. Pengamat politik prediksi Jokowi sasar pemilih kelas bawah

Dosen Ilmu Pemerintahan, Departemen Ilmu Politik dan Pemerintahan, Fisip Undip, Puji Astuti. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Dosen Ilmu Pemerintahan, Departemen Ilmu Politik dan Pemerintahan, Fisip Undip, Puji Astuti mengatakan sudah saatnya masyarakat cerdas dalam menentukan pilihannya dan bukan lagu berdasarkan atas pemberian bantuan dari pemerintah.

"Pak Jokowi kan bagi masyarakat kecil dianggap selalu berpihak ke bantuan. Cuma dengan kondisi yang sekarang ini masyarakat kelas bawah menjadi gak menyadari seperti apa Pemilu yang bagus. Pokoknya yang penting mereka dapat bantuan. Dan Pak Luthfi pasti bilang akan lanjutkan program program populis presiden terdahulu. Siapa yang dibidik pasti kelas bawah," ungkap Puji kepada IDN Times, Selasa (19/11/2024).

2. Sikap Prabowo jadi blunder

Cagub dan cawagub Jateng Ahmad Luthfi-Taj Yasin kampanye akbar di Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

Ia menyatakan keberpihakan Jokowi terhadap kampanye Luthfi-Yasin telah mencederai proses demokrasi yang sedang berjalan saat ini.

Terlebih lagi, pihaknya menyoroti keputusan Presiden Prabowo Subianto yang turut serta mendukung kampanye Luthfi-Yasin.

"Itu jelas mencederai proses (kampanye). Sebenarnya pemimpin itu harus netral. Pak Prabowo itu jadi blunder. Karena sebagai presiden terpilih harusnya netral. Kalau pernyataannya butuh kepala daerah yang satu partai ya Kita itu bukan negara federal lho kita negara kesatuan. Presiden tidak boleh menunjukkan keberpihakan," terangnya.

3. Pemimpin yang dipilih harus punya kebijakan komprehensif

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Kendati begitu, menurutnya kalangan menengah ke atas justru lebih rasional dalam memilih figur pemimpin tanpa tergiur dengan iming-iming bantuan sosial.

Sebab itulah, pihaknya mendorong mahasiswa dan media massa untuk berperan aktif dalam mengedukasi para calon pemilih. Pihaknya berharap masyarakat bisa memilih pemimpin yang punya rancangan kebijakan yang komprehensif.

"Tapi kalau kelas menengah sudah tahu bahkan rasional memilih pemimpin yang tidak hanya hari itu saja. Jadi mahasiswa sebenarnya sangat penting posisinya untuk mengedukasi pemilih dengan pertimbangan yang rasional. Pemimpin yang dipilih mustinya punya kebijakan yang komprehensif. Bukan memilih yang memberi bantuan," terangnya.

Disisi lain pihaknya pun menyarankan supaya Jokowi secara terbuka menyatakan mengundurkan diri dari PDIP. Sehingga tidak menimbulkan persepsi negatif yang berkepanjangan di tengah masyarakat.

"Kalau ada kepentingan politik silakan mengundurkan diri. Tapi jangan membuat sikap dengan garis yang tidak tegas," paparnya.

4. Luthfi bersyukur didukung Jokowi

Presiden ke7 Jokowi bersama Cagub Jateng Ahmad Luthfi sarapan bareng Solo Triwindu. (IDN Times/Larasati Rey)

Terpisah, dalam kampanye akbar di Solo Minggu pagi, cagub nomor urut 2, Ahmad Luthfi membenarkan bahwa dirinya mendapat dukungan dari Jokowi.

Di hadapan massa yang berkumpul di Benteng Vastenburg, Luthfi meminta dukungan kepada warga Solo agar memilihnya di tanggal 27 November. "Hari ini saya dan Gus Yasin datang dalam rangka apel besar, apel untuk kemenangan pasangan Luthfi dan Gus Yasin. Pagi tadi saya dan Gus Yasin bersyukur telah diberikan Pak Jokowi untuk sarapan dan mendukung kami," tuturnya.

Editorial Team