Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Keluarga Tak Keberatan Ekshumasi Makam Sutrimo, Demi Usut Kematian Almarhum
Perwakilan keluarga Sutrimo memberikan laporan kepolisian meminta polisi untuk mengusut penyebab kematian Sutrimo ke pihak kepolisian Polresta Banyumas. (IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Keluarga almarhum Sutrimo mendatangi Polresta Banyumas dan menyatakan siap kooperatif jika penyidik membutuhkan ekshumasi serta autopsi untuk memastikan penyebab kematiannya.
  • Pelaporan dilakukan demi menghentikan informasi simpang siur dan memperoleh kepastian hukum apakah kematian mantan Karumga eks Jampidsus Febrie Adriansyah itu wajar atau tidak.
  • Keluarga awalnya langsung memakamkan Sutrimo karena jenazah terlihat bersih dan berkafan; mereka menerima KTP, dokumen rumah sakit, serta santunan Rp20 juta tanpa ponsel.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
saat itu juga

Jenazah Sutrimo langsung dimakamkan setelah keluarga melihat kondisinya bersih dan telah dikafani. Keluarga saat itu tidak mencurigai adanya kejanggalan.

Sabtu, 8 Agustus 2026 malam

Keluarga Sutrimo mendatangi Polresta Banyumas dan menyatakan kooperatif terhadap kemungkinan ekshumasi serta autopsi. Mereka meminta kepastian hukum mengenai penyebab kematian almarhum.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Keluarga almarhum Sutrimo menyatakan tidak keberatan terhadap kemungkinan ekshumasi makam dan autopsi untuk mengusut penyebab kematiannya.
  • Who?
    Keluarga Sutrimo, termasuk keponakannya Abi, kakak tirinya Tukim, Soim, serta penasihat hukum Aan Rohaeni, mendatangi Polresta Banyumas.
  • Where?
    Pernyataan keluarga disampaikan di Polresta Banyumas. Sutrimo diketahui dimakamkan di lingkungan Desa Wlahar.
  • When?
    Keluarga mendatangi Polresta Banyumas pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026.
  • Why?
    Keluarga meminta kepastian hukum mengenai apakah kematian Sutrimo berlangsung wajar atau tidak, sekaligus merespons informasi simpang siur yang beredar.
  • How?
    Keluarga menyatakan siap kooperatif mengikuti prosedur kepolisian, termasuk pembongkaran makam dan autopsi apabila diperlukan dalam penyidikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Keluarga Sutrimo datang ke polisi di Banyumas. Mereka bilang tidak keberatan kalau makam Sutrimo dibuka lagi dan dokter memeriksa tubuhnya. Mereka ingin tahu Sutrimo meninggal dengan wajar atau tidak. Dulu keluarga langsung menguburkannya karena tubuhnya terlihat bersih. Sekarang keluarga mau membantu polisi mencari jawaban.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kesediaan keluarga Sutrimo untuk kooperatif, meski menghadapi beban emosional, mencerminkan komitmen untuk memberi ruang bagi proses hukum berjalan sesuai prosedur. Sikap tersebut juga menunjukkan upaya menjaga ketenangan keluarga dan lingkungan desa dari informasi yang simpang siur, sambil menempatkan kepastian mengenai penyebab kematian sebagai perhatian utama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyumas, IDN Times — Pihak keluarga almarhum Sutrimo, mantan Kepala Rumah Tangga (Karumga) eks Jampidsus Febrie Adriansyah, mendatangi Polresta Banyumas pada Sabtu, 8 Agustus 2026 malam. Dalam kedatangannya, pihak keluarga menyatakan tidak keberatan jika kepolisian harus melakukan proses eksumasi (pembongkaran makam) dan otopsi demi mengungkap tabir penyebab kematian almarhum.

Pernyataan ini disampaikan untuk meluruskan berita simpang siur serta memastikan kepastian hukum mengenai penyebab pasti meninggalnya almarhum secara wajar atau tidak.

Abi, keponakan almarhum Sutrimo, menegaskan bahwa pihak keluarga pasrah dan siap kooperatif apabila pihak kepolisian membutuhkan langkah eksumasi untuk kepentingan penyidikan.

Langkah melapor ke polisi diambil agar pemberitaan tidak makin liar dan keluarga mendapat kejelasan status hukum kematian almarhum. "Keluarga hanya meminta kepastian hukum terkait meninggalnya saudara Sutrimo, wajar atau tidak kematiannya itu saja, berita itu simpang siur kesana-kesini tidak enak di dengar saja menganggu lingkungan sekitar buat keluarga juga lingkungan masyarakat desa Wlahar," ungkap Ardi.

Meskipun berat secara emosional, keluarga rela jenazah digali kembali demi melengkapi proses hukum. "Sebenarnya keluarga tidak merelakan untuk digali lagi cuma ya kalau memang dibutuhkan untuk autopsi mencari penyebab kematian itu mau tidak mau harus diikuti," tegas Abi.

Penasihat hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni menambahkan keluarga menyerahkan pengungkapan kematian Sutrimo kepada kepolisian, termasuk jika nanti diperlukan untuk dilakukan ekshumasi untuk melakukan autopsi mencari tahu penyebab kematian almarhum. "Kalau kami sesuai dengan prosedur hukum, tapi pada intinya kami kooperatif, kalau itu sudah ketentuan hukum ya. Memang asalnya keberatan," katanya

Tukim, kakak tiri almarhum Sutrimo kepada wartawan membeberkan alasan mengapa pada awalnya mereka langsung memakamkan almarhum tanpa rasa curiga sedikit pun. Jenazah Sutrimo langsung dimakamkan saat itu juga pasalnya saat datang kondisi jenazah terlihat bersih.

"Keluarga sempat melihat jenazah, kondisinya bersih dan sudah di kafani, kain kafan juga sempat dibuka dan tidak ada kecurigaan apa-apa, makanya dari keluarga langsung mengikhlaskan karena ya namanya orang kampung keadaan jenazah bersih jadi tidak ada kecurigaan apa-apa," kata Tukim.

Ditanya siapa yang mengantarkan jenazah almarhum Sutrimo, Tukim mengaku tidak mengetahui namanya. Saat datang keluarga menurutnya hanya menerima KTP dari korban dan uang santunan Rp20 juta.

"Kalau barang-barang yang diterima dari pihak keluarga handphone gak ada, cuma KTP dan uang santunan Rp20 juta yang menerima bapak saya sama surat-surat keterangan dari rumah sakit. Yang mengantarkan saya juga tidak tahu. Tahu orangnya tapi tidak tahu namanya," jelas Soim.

Curated For You

Editorial Team

Related Article