Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kematian Sutrimo Anak Buah Eks Jampidsus, Keluarga Cuma Dikasih KTP! ATM dan HP Tak Diserahkan
Rumah kediaman Sutrimo yang baru saja ikut bedah rumah karena rumahnya masuk RTLH di Desa Wlahar, Wangon, Banyumas, Senin (27/7/2026(.(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Banyumas, IDN Times – Meninggalnya Sutrimo (42), warga Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, masih menyisakan tanda tanya. Pria yang diketahui bekerja di rumah eks Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, itu meninggal dunia di Jakarta pada Kamis (23/7/2026).

Di kampung halamannya, keluarga maupun pemerintah desa mengaku tidak mengetahui secara rinci pekerjaan yang dijalani Sutrimo selama merantau di Jakarta. Mereka mengenal Sutrimo sebagai sosok sederhana yang jarang menceritakan aktivitas pekerjaannya.

Adik ipar Sutrimo, Soim, kepada IDN Times, Senin (27/7/2026) mengatakan keluarga hanya mengetahui bahwa almarhum bekerja di rumah Febrie Adriansyah. Namun, mereka tidak pernah mengetahui tugas maupun aktivitas yang dikerjakan sehari-hari. "Kalau pulang kampung ya biasa saja. Tidak pernah cerita soal pekerjaannya atau urusan kantor," ujar Soim kepada wartawan.

Menurutnya, Sutrimo dikenal sebagai pribadi pendiam dan lebih banyak membicarakan keluarga dibanding pekerjaannya.Keluarga juga membantah berbagai spekulasi yang berkembang di media sosial mengenai keterlibatan almarhum dalam berbagai urusan pekerjaan. "Kami memang tidak tahu apa pekerjaannya di sana. Dia tidak pernah cerita," katanya.

1. Keluarga hanya tahu Sutrimo bekerja di rumah eks Jampidsus dan pesan terakhirnya

Rumah kediaman Sutrimo yang baru saja ikut bedah rumah karena rumahnya masuk RTLH di Desa Wlahar, Wangon, Banyumas, Senin (27/7/2026(.(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Adik ipar Sutrimo, Soim, kepada IDN Times, Senin (27/7/2026) mengatakan keluarga hanya mengetahui bahwa almarhum bekerja di rumah Febrie Adriansyah. Namun, mereka tidak pernah mengetahui tugas maupun aktivitas yang dikerjakan sehari-hari. "Kalau pulang kampung ya biasa saja. Tidak pernah cerita soal pekerjaannya atau urusan kantor," ujar Soim.

Menurutnya, Sutrimo dikenal sebagai pribadi pendiam dan lebih banyak membicarakan keluarga dibanding pekerjaannya.Keluarga juga membantah berbagai spekulasi yang berkembang di media sosial mengenai keterlibatan almarhum dalam berbagai urusan pekerjaan. "Kami memang tidak tahu apa pekerjaannya di sana. Dia tidak pernah cerita," katanya.

Soim mengungkapkan komunikasi terakhir terjadi pada 23 Juli 2026 beberapa jam sebelum Sutrimo dinyatakan meninggal dunia. Sekitar pukul 17.00 WIB sehari sebelumnya, 22 Juli 2026 Sutrimo juga sempat menghubungi istrinya melalui WhatsApp.

Isi percakapan hanya menanyakan kondisi anak mereka. "Dia cuma tanya anaknya sudah tidur belum. Setelah itu istri mengirim foto anak,"ujarnya.

Pesan tersebut sempat terbaca sekitar pukul 18.00 WIB, Rabu, 22 Juli 2026. Setelah itu, keluarga tidak lagi menerima kabar hingga akhirnya mendapat informasi bahwa Sutrimo meninggal dunia.

2. Keluarga hanya menerima KTP dan informasi penyebabnya "angin duduk"

Suasana saat kedatangan jenazah Sutrimo di rumah duka desa Wlahar Wangon, disebut jenazah tiba pada Kamis Malam, 23 Juli 2026 dan dikuburkan malam itu juga,.(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Keluarga mengaku diberi tahu bahwa penyebab meninggalnya Sutrimo diduga karena "angin duduk". Namun mereka tidak memperoleh penjelasan medis secara rinci. Menurut keluarga, Sutrimo juga tidak memiliki riwayat penyakit berat.

Jenazah kemudian dipulangkan ke Banyumas dengan ambulans yang dikawal sejumlah orang dari Jakarta. Setibanya di rumah duka, Sutrimo langsung dimakamkan pada malam hari, Kamis (23/7/2026).

Keluarga juga menyebut ada bantuan biaya pemakaman sekitar Rp20 juta, namun mereka tidak mengetahui secara pasti asal bantuan tersebut. Ditambahkan pula bahwa pihak keluarga juga tidak menerima handphone dan ATM milik Sutrimo. "Hanya KTP aja yang dikasih,"katanya.

Ditambahkan keluarga juga berharap hape dan atm milik Sutrimo ikut diserahkan. "Saya juga heran kok KTP aja yang diserahkan sementara hape sama atm ngga dikasih,"harapnya.

Disebutkan juga Sutrimo bekerja di rumah Febri Ardiansyah sejak tahun 2008. "Jadi sudah lama memang Dia ikut sama pak Jaksa,"katanya polos.

3. Pemerintah desa berharap tidak muncul spekulasi

Jalan masuk ke desa Wlahar Wangon dan pemerintah desa menyebut pihaknya menerima kabar meninbggalnya Sutrimo dari pihak pengantar jenazah karena sakit, Senin (27/7/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Kepala Desa Wlahar, Narsim yang lebih dikenal dengan Kades Oho mengatakan pemerintah desa juga hanya menerima informasi bahwa Sutrimo meninggal karena sakit. Hingga kini belum ada penjelasan resmi yang lebih rinci mengenai penyebab kematiannya.

Ia berharap masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kematian karena proses penyelidikan masih berlangsung.

"Yang kami khawatirkan justru berkembang berbagai spekulasi. Apalagi meninggalnya mendadak sehingga masyarakat banyak bertanya-tanya," ujarnya.

Menurutnya, pemerintah desa hanya dapat menyampaikan informasi yang diketahui dari pihak keluarga dan menunggu hasil penyelidikan aparat. "Padahal dua minggu lalu juga rumahny Sutrimo baru ikut bedah rumah, makanya kaget kok bisa katanya urus tambang pejabat,"katanya heran.

4. Polisi masih mendalami penyebab kematian

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto mengatakan penyidik masih mendalami kronologi dan penyebab kematian korban..(IDN Times/Tangkapan layar)

Sebelumnya diberitakan, Sutrimo ditemukan meninggal dunia di Jakarta pada Kamis (23/7/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto mengatakan penyidik masih mendalami kronologi dan penyebab kematian korban.

"Karena prosesnya masih berjalan, kami belum dapat menyimpulkan penyebab kematian," kata Budi, Minggu (26/7/2026).

Polisi telah meminta keterangan dari keluarga, rekan korban, pengemudi ambulans, petugas rumah sakit, hingga pihak lain yang mengetahui peristiwa tersebut. Penyidik juga menelusuri rekam medis korban, riwayat pemesanan ambulans, lokasi awal korban ditemukan, serta keterkaitannya dengan sejumlah pihak, termasuk mantan Jampidsus Febrie Adriansyah.

Bebagai sumber menyebut pada pagi hari sebelum meninggal sekitar pukul 07.30 WIB, Sutrimo sempat mengeluhkan sakit kepada rekannya dan meminta diantar ke rumah sakit. Namun ia terlebih dahulu dibawa ke sebuah klinik di kawasan Kramat Pela, Jakarta Selatan.

Saat berada di klinik, korban dilaporkan muntah dan mengeluarkan cairan berbusa dari mulut. Rekannya kemudian memanggil ambulans. Ketika petugas ambulans tiba, Sutrimo dilaporkan telah meninggal dunia.

Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat tidak berspekulasi maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Polisi memastikan perkembangan penyelidikan akan disampaikan setelah seluruh fakta berhasil dikumpulkan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article