Ashfiyatul Mardiyatillah (36) membawa produk Cumi Item premium stoples kaca. (IDN Times/Dhana Kencana)
Praktik pengadaan barang yang dilakukan Fiya merepresentasikan perubahan cara UMKM menggunakan platform digital (digitalisasi). Saat IDN Times menelusuri riwayat transaksinya, Fiya tercatat melakukan 11 transaksi senilai total Rp3,2 juta dalam 14 bulan terakhir khusus untuk peralatan usahanya.
Melalui Shopee, ia membeli wajan berukuran besar, kotak pendingin (cooler box) untuk menyimpan cumi, mesin penyegel plastik (sealer), alat penggiling bumbu (chopper), dan tripod banner untuk pameran, yang dikirim tujuh penjual dari empat kota yang berbeda.
Pengadaan barang modal—seperti peralatan, kemasan, dan perlengkapan produksi—lewat platform marketplace tersebut selaras dengan temuan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Statistik E-Commerce 2023. BPS memperkirakan terdapat 3,82 juta usaha e-commerce di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 37,17 persen memanfaatkan internet untuk melakukan pemesanan atau pembelian bahan baku. Jika persentase itu diterapkan pada jumlah usaha yang diperkirakan BPS, nilainya setara dengan sekitar 1,42 juta pelaku usaha.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa teknologi digital bagi pelaku usaha tidak semata menjadi kanal penjualan, tetapi juga digunakan untuk menopang kebutuhan usaha dari sisi pengadaan (procurement).
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira melihat, teknologi digital dapat berperan lebih jauh dalam proses produksi. Dalam konteks transformasi industri hijau, ia menilai pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan dapat membantu industri kecil dan menengah mengoptimalkan penggunaan energi dan bahan baku secara lebih efisien.
Dalam skala usaha rumahan, pola efisiensi dan pergeseran itu terlihat pada keranjang belanja Fiya. Transisinya dari plastik vakum sekali pakai menuju kemasan kaca yang berkelanjutan dimungkinkan oleh teknologi digital. Aplikasi Shopee tidak digunakannya untuk menjual Cumi Item, melainkan untuk membeli kemasan dan peralatan produksi yang sulit diperoleh dari pasar sekitar.
Pergeseran pemanfaatan teknologi menuju proses bisnis itu sejalan dengan pandangan pemerintah. Asisten Deputi Kemitraan Rantai Pasok dan Pemasaran Usaha Kecil Kementerian UMKM, Yogia Prihartiny menekankan bahwa transformasi digital UMKM tidak berhenti pada kehadiran di platform daring. Pemanfaatan teknologi, menurutnya, juga harus diarahkan pada peningkatan produktivitas dan daya saing.
"Transformasi digital UMKM hari ini bukan lagi sekadar hadir di platform online, tetapi bagaimana UMKM dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat daya saing," ujarnya saat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (18/6/2026).
Ekosistem digital yang digunakan pelaku UMKM seperti Fiya tidak hanya terdiri dari etalase marketplace saja. Di belakang transaksi tersebut terdapat jaringan pembayaran dan pengiriman yang memungkinkan barang berpindah antarkota hingga sampai ke pelaku usaha di daerah.
Sebagai pelaku industri, Shopee merespons kebutuhan jalur distribusi tersebut dengan memperluas jangkauan layanan mereka. Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang mengatakan, perusahaannya terus memperkuat dukungan dari hulu ke hilir, salah satunya melalui Program Akselerasi Produk Lokal bersama Kementerian Perdagangan pada Kamis (13/8/2026). Program tersebut mengintegrasikan sejumlah dukungan bagi pelaku usaha, mulai dari peningkatan keterampilan digital, dukungan operasional, promosi, hingga akses pasar.
"Visi penguatan produk lokal ini kami dukung dengan perluasan infrastruktur logistik SPX Express. Saat ini, layanan kami telah menjangkau 514 kota dan kabupaten di seluruh provinsi," papar Balques dalam keterangan resminya.
Ketersediaan infrastruktur logistik yang luas itu menekan biaya transportasi perlengkapan usaha, seperti stoples kaca dari Jakarta ke Demak, sehingga harganya tetap terjangkau bagi usaha rumahan.
Infografik: Aplikasi Belanja Online Terpopuler 2026 di Indonesia. (IDN Times/Dhana Kencana)