Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kisah Buruh Rokok Difabel, Dulu Ditolak Kerja Kini Punya Tempat Aman

Kisah Buruh Rokok Difabel, Dulu Ditolak Kerja Kini Punya Tempat Aman
Sejumlah buruh difabel sedang bekerja di pabrik Rokok HS di Muntilan, Kabupaten Magelang. (IDN Times/bt)
Intinya Sih
  • Pabrik Rokok HS di Magelang mempekerjakan 70 karyawan difabel, memberikan kesempatan kerja setara tanpa diskriminasi dan menciptakan lingkungan inklusif bagi penyandang disabilitas.
  • Kisah Shinta dan Fian menunjukkan perubahan positif setelah bekerja di HS, di mana mereka merasa dihargai, aman, serta mampu mandiri secara ekonomi dan sosial.
  • Pihak HRD menegaskan seluruh karyawan mendapat hak sama seperti gaji dan fasilitas makan siang, sementara pekerja difabel juga memperoleh mess gratis sebagai bentuk dukungan tambahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Magelang, IDN Times - Stigma negatif masih terus menempel bagi para penyandang kebutuhan khusus atau difabel tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam bekerja. Mereka sering dikira tidak mampu bekerja atau bahkan dianggap menjadi beban di tempat kerja. 

1. Pabrik rokok HS rekrut 70 pekerja difabel

pabrik rokok, buruh rokok, difabel
Sejumlah buruh difabel sedang bekerja di pabrik Rokok HS di Muntilan, Kabupaten Magelang. (IDN Times/bt)

Namun, kondisi itu tidak terjadi di Pabrik Rokok HS yang berada di Muntilan, Kabupaten Magelang. Ribuan buruh atau karyawan berbaur menjadi satu, termasuk mereka yang difabel.

Tangan-tangan cekatan berlomba melinting dan mengepak batang-batang rokok. Lalu di sebuah sudut, juga ada puluhan pekerja yang asyik bercerita namun tak bersuara. Melainkan dengan bahasa isyarat.

Salah satu pekerja, Shinta, penyandang tunarungu dan tunawicara itu merupakan satu dari 70 karyawan difabel rokok HS yang bekerja sebagai pelinting dan pengepak rokok di perusahaan yang ada di bawah naungan Surya Group Holding Company.

Perempuan berusia 34 tahun itu terlihat sumringah. Namun, di balik wajah bahagianya itu, ada cerita pedih yang pernah ia rasakan sebelum bekerja di pabrik rokok HS. Yakni, tentang pengalaman sulitnya mencari kerja dan stigma negatif masyarakat pada kaum difabel.

"Dulu sulit sekali mencari kerja. Berkali-kali melamar, tapi selalu ditolak. Kebanyakan mereka meragukan kemampuan kami hanya karena kami berbeda. Menganggap kami tidak mampu tanpa pernah diberi kesempatan," tuturnya, Jumat (24/4/2026).

2. Pekerja difabel temukan lingkungan yang aman

ilustrasi difabel (unsplash.com/Josh Appel)
ilustrasi difabel (unsplash.com/Josh Appel)

Masih ingat betul bagi perempuan satu anak ini ketika terjadi penolakan-penolakan itu. Sakit hati dan kecewa selalu menghantui ketika ia pulang dari tes wawancara.

"Namun, setelah diterima bekerja di pabrik rokok HS ini, saya seperti menemukan kehidupan baru. Tidak hanya diterima kerja tanpa syarat dan pengalaman, tapi kami juga dihormati dan dihargai tanpa dibedakan. Di sini saya menemukan lingkungan yang aman dan nyaman untuk bekerja," jelas warga Kabupaten Magelang itu.

Kini perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga itu bisa memenuhi kebutuhannya. Untuk membiayai sekolah anak, bahkan membayar hutang di bank saat dulu ia belum bekerja. Bahkan, Shinta sekarang juga bisa menabung untuk masa depannya.

Kenyamanan dalam bekerja ini penting bagi penyandang disabilitas. Sebab, selama ini, mereka kerap mendapat perlakuan kurang menyenangkan di dunia kerja.

Sebagaimana juga cerita Fian, penyandang disabilitas asal Yogyakarta itu sering keluar dari pekerjaan karena tak betah dan sering mendapat perlakuan tidak nyaman.

3. Pekerja difabel tidak kalah saing dengan pekerja lain

Ilustrasi buruh, pekerja (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi buruh, pekerja (IDN Times/Arief Rahmat)

"Kami sering dibully, dan setiap ada kesalahan, karyawan disabilitas yang selalu disalahkan," ucap pria berusia 26 tahun itu.

Namun di pabrik rokok ini, semua karyawan diperlakukan sama. Mereka dihormati dan tidak diperlakukan semena-mena. Bahkan, mereka mendapat perhatian lebih berupa fasilitas mess gratis.

"Kami harap perusahaan lain bisa mencontoh bagaimana HS mempekerjakan karyawan difabel seperti kami. Inklusivitas dunia kerja bukan sekadar narasi, tapi dibuktikan dengan hal yang konkret," ucapnya.

Sementara itu, perwakilan HRD Pabrik Rokok HS, Muhammad Hanafi mengatakan, 70 karyawan difabel yang bekerja di pabrik rokok HS memiliki kinerja yang bagus. Mereka tidak kalah saing dengan pekerja lain.

4. Semua karyawan mendapat hak sama

pabrik rokok, buruh rokok, difabel
Sejumlah buruh difabel sedang bekerja di pabrik Rokok HS di Muntilan, Kabupaten Magelang. (IDN Times/bt)

"Mereka justru lebih semangat, dan kinerjanya juga sangat baik. Kami selalu diingatkan oleh pak Suryo untuk terus memberikan perhatian khusus bagi kawan-kawan difabel di sini," katanya.

Hanafi menegaskan, tidak ada yang dibedakan dalam proses bekerja di HS. Semua karyawan mendapat hak yang sama, termasuk gaji, makan siang gratis hingga fasilitas lain. Hanya saja untuk karyawan difabel, HS memberikan mess gratis bagi mereka.

"Karena jumlahnya terus bertambah dan mereka banyak yang berasal dari luar kota Magelang. Jadi pak Suryo memerintahkan kami untuk memberikan mess gratis agar memudahkan kawan-kawan difabel ini," pungkasnya.

Seperti diketahui, pabrik rokok HS terus berkomitmen menjadi perusahaan inklusif. Pemilik Rokok HS, Muhammad Suryo menegaskan bahwa pihaknya akan menampung sebanyak-banyaknya karyawan penyandang disabilitas. Saat ini, sudah ada 70 karyawan disabilitas yang bekerja di tempat itu.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More