Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kisah Haru Difabel dan Lansia di Balik Rantau Gratis Jateng 2026

Kisah Haru Difabel dan Lansia di Balik Rantau Gratis Jateng 2026
Para peserta Balik Rantau Gratis 2026, yang difasilitasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. (dok Pemprov Jateng)
Intinya Sih
  • Program Balik Rantau Gratis Jateng 2026 membantu ribuan pekerja informal, termasuk difabel dan lansia, menghemat biaya perjalanan pulang ke perantauan hingga jutaan rupiah.
  • Inklusivitas jadi sorotan utama dengan fasilitas khusus bagi kelompok rentan, memastikan kenyamanan dan rasa dihargai selama perjalanan menuju Jakarta dan Bandung.
  • Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan program ini sebagai bukti nyata kehadiran negara bagi rakyat kecil, dengan pelayanan yang dimulai dari rumah peserta hingga keberangkatan aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Boyolali, IDN Times - Di antara deru mesin 84 bus yang bersiap membelah aspal menuju Jakarta dan Bandung, terselip cerita-cerita kecil yang menggetarkan hati. Sabtu (28/3/2026) pagi di Asrama Haji Donohudan bukan sekadar tentang keberangkatan massal, melainkan tentang impian para pekerja informal yang tetap terjaga berkat kehadiran negara.

1. Berangkat berempat bisa hemat jutaan rupiah

IMG-20260328-WA0120-1536x1024.jpg
Masyarakat yang mengikuti Program Balik Rantau Gratis 2026 di Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Sabtu (28/3/2026). (dok Pemprov Jateng)

Bagi Lendra Febri Arino (37), seorang penyandang disabilitas asal Tawangmangu, program Balik Rantau Gratis Pemprov Jateng adalah penyelamat dapurnya. Pria yang sehari-hari mengadu nasib sebagai ojek online di Jakarta ini tak bisa menyembunyikan binar matanya saat duduk di kursi bus yang nyaman.

"Kalau bayar sendiri, harga tiket bisa tembus Rp500 ribu per orang. Kami sekeluarga berempat, hitung saja, bisa hemat lebih dari Rp3 juta. Uang segitu sangat berarti untuk modal kerja lagi di sana," ungkap Lendra haru.

2. Senyum dari Kursi Prioritas

IMG-20260328-WA0119-1536x1024.jpg
Masyarakat yang mengikuti Program Balik Rantau Gratis 2026 di Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Sabtu (28/3/2026). (dok Pemprov Jateng)

Inklusivitas menjadi nyawa dalam keberangkatan tahun ini. Tak hanya pekerja fisik, kelompok rentan seperti lansia dan difabel mendapatkan karpet merah. Sunaryo (49), pedagang kaki lima asal Sragen yang juga seorang difabel, merasa dimanusiakan oleh fasilitas khusus yang diberikan.

Bersama sang istri, Saryati, Sunaryo berkisah bahwa uang yang seharusnya habis untuk tiket seharga Rp650 ribu per kepala, kini bisa dialokasikan untuk kebutuhan Lebaran keluarga di kampung. "Terima kasih Pak Gubernur, kami yang kecil ini merasa diperhatikan," tuturnya lirih.

Kisah serupa datang dari Sri Sardadi. Di usianya yang menginjak 80 tahun, perantau asal Kemusuk ini masih memiliki semangat untuk pulang kampung. Baginya, kenyamanan bus gratis ini membuatnya tak lagi merasa was-was menempuh perjalanan jauh. "Kalau tidak ada ini, ya sedih, tiket mahal sekali. Sekarang bisa pulang bareng keluarga dengan tenang," ucapnya.

3. Lebih dari Sekadar Transportasi

IMG-20260328-WA0116-1536x1024.jpg
Masyarakat yang mengikuti Program Balik Rantau Gratis 2026 di Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Sabtu (28/3/2026). (dok Pemprov Jateng)

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang hadir langsung melepas para perantau, menegaskan bahwa program ini adalah pesan bahwa negara tidak pernah tidur bagi rakyatnya yang sedang berjuang.

"Ini adalah role model. Negara hadir memberikan sumbangan, meski mungkin terlihat kecil, bagi para pekerja informal—tukang ojek, pedagang, buruh—ini adalah harga diri dan kegembiraan yang tak ternilai," tegas Luthfi.

Kepala Dinas Perhubungan Jateng, Arief Djatmiko, menambahkan bahwa pelayanan bahkan dimulai sejak dari depan pintu rumah peserta. "Difabel dan lansia kami fasilitasi khusus, bahkan ada yang kami jemput. Keselamatan dan kenyamanan mereka adalah prioritas utama kami," pungkasnya.

Hari ini, 4.181 warga Jawa Tengah kembali ke perantauan. Mereka berangkat tidak hanya membawa bekal makanan, tapi juga membawa rasa syukur bahwa di tengah kerasnya hidup di kota besar, tanah kelahiran mereka tetap memberikan pelukan hangat melalui fasilitas yang memudahkan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More