Media digital memang menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, platform media sosial dapat memicu cyberbullying dan social comparison yang berdampak pada meningkatnya kecemasan.
Konseling Digital Jadi Penopang Mental dan Harapan Remaja Global

- Paparan informasi global yang intens di media sosial membuat remaja rentan terhadap stres, kecemasan, dan kelelahan mental akibat fenomena information overload serta kebiasaan doomscrolling.
- Media digital menjadi ancaman sekaligus peluang; selain memicu cyberbullying dan perbandingan sosial, teknologi juga menghadirkan layanan konseling digital yang mudah diakses, fleksibel, dan anonim bagi remaja.
- Layanan konseling digital terbukti efektif menurunkan gejala depresi hingga 40 persen, namun masih menghadapi tantangan seperti regulasi lemah, risiko data bocor, dan potensi ketergantungan teknologi.
Banyumas, IDN Times - Perkembangan teknologi informasi membuat dunia terasa semakin dekat—termasuk bagi remaja. Namun di balik kemudahan akses informasi global, muncul konsekuensi yang tidak sederhana: meningkatnya tekanan terhadap kesehatan mental generasi muda.
Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam (BKI) UIN Saizu Purwokerto, Yanuar Putra Wibawa, kepada IDN Times, Jumat (24/4/2026) menyoroti bagaimana ketidakpastian geopolitik global kini ikut “masuk” ke ruang personal remaja melalui gawai mereka. Isu seperti konflik internasional, krisis ekonomi, hingga perubahan iklim tak lagi terasa jauh, melainkan hadir setiap hari di linimasa media sosial.
"Remaja menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dinamika global karena mereka mengonsumsi informasi secara intens, tetapi belum sepenuhnya memiliki kematangan emosional,"kata Yanuar dalam kajiannya.
1. Paparan informasi konflik global picu kcemasan

Data terbaru dari World Health Organization (2025) menunjukkan sekitar 14 persen remaja di dunia mengalami gangguan mental, dengan depresi dan kecemasan sebagai penyumbang utama. Sementara itu, laporan UNICEF mengungkap lebih dari 13 persen remaja usia 10 -19 tahun hidup dengan gangguan mental yang terdiagnosis dan banyak lainnya tidak terdeteksi.
Di Indonesia, situasinya tak kalah mengkhawatirkan. Data Kementerian Kesehatan (2023) mencatat sekitar 6,1 persen penduduk usia di atas 15 tahun mengalami gangguan kesehatan mental.
Paparan informasi global yang terus-menerus melalui media sosial memicu fenomena information overload. Kondisi ini membuat remaja rentan mengalami stres, kecemasan, hingga kelelahan mental (mental fatigue). Apalagi, tren seperti doomscrolling—kebiasaan mengonsumsi berita negatif secara berlebihan semakin memperparah situasi.
"Paparan berita konflik global dapat menimbulkan rasa tidak aman dan ketidakpastian terhadap masa depan remaja,"jelas Yanuar.
2. Media digital, ancaman saekaligus peluang

Penelitian dari American Psychological Association menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berkorelasi dengan peningkatan depresi dan kecemasan pada remaja. Namun di sisi lain, teknologi juga membuka peluang baru melalui kehadiran media konseling digital.
Media ini mencakup berbagai layanan seperti konseling online via video call atau chat, aplikasi mood tracker, terapi berbasis digital, hingga komunitas dukungan sebaya (peer support).
"Keunggulan utama media konseling digital adalah aksesibilitas, fleksibilitas, dan anonimitas yang membuat remaja merasa lebih aman untuk bercerita,"ucap Yanuar.
3. Potensi ketergantungan teknologi

Sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Studi dalam Journal of Medical (2025) menyebutkan bahwa intervensi kesehatan mental berbasis digital seperti Digital Cognitive Behavioral Therapy (dCBT) mampu menurunkan gejala depresi dan kecemasan hingga 30 - 40 persen. Sementara itu, riset dari Internet Interventions (2025) menegaskan bahwa integrasi teknologi dalam layanan kesehatan mental dapat menjadi solusi masa depan, mulai dari diagnosis hingga pengobatan.
Meski menjanjikan, implementasi media konseling digital masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah minimnya regulasi dan standar kualitas layanan. "Layanan kesehatan mental digital dapat membantu remaja menghadapi tekanan sosial dan ketidakpastian global secara lebih adaptif,"lanjutnya.
Tidak semua platform konseling online dikelola oleh tenaga profesional, sehingga berisiko memberikan informasi yang tidak akurat. Selain itu, keterbatasan interaksi emosional dalam komunikasi digital juga menjadi kendala dalam membangun hubungan terapeutik yang kuat. Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah kebocoran data pribadi serta potensi ketergantungan terhadap teknologi.
4. Perlunya kolaborasi dan literasi digital

Yanuar menegaskan bahwa media konseling digital tidak saja hanya sebuah solusi alternatif, melainkan bagian penting dari sistem kesehatan mental modern.
Namun, pemanfaatannya harus dilakukan secara bijak dan terarah dengan dukungan berbagai pihak mulai dari pemerintah, tenaga profesional, hingga keluarga.
"Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, menjaga kesehatan mental bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan mendasar demi masa depan generasi muda yang lebih sehat dan resilien,"pungkasnya.


















