Surakarta, IDN Times - Tradisi Grebeg Besar Keraton Solo kembali digelar bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026). Tradisi adat tahunan yang digelar kubu Pakubuwono (PB) XIV Purboyo itu berlangsung meriah dan dipadati warga yang antusias menyaksikan kirab hingga perebutan gunungan di kawasan Masjid Agung Keraton Surakarta.
Kubu PB XIV gelar Grebeg Besar Tanggal 27 Mei

1. Arak-arakan dimulai dari Keraton Solo
Prosesi Grebeg Besar diawali dari kawasan Keraton Solo menuju Masjid Agung Keraton Surakarta. Sejumlah abdi dalem yang dipimpin utusan PB XIV Purboyo berjalan membawa seserahan serta dua gunungan yang menjadi simbol utama tradisi tersebut.
Sepanjang perjalanan, masyarakat tampak memadati area sekitar kirab untuk melihat langsung jalannya prosesi adat yang rutin digelar setiap Idul Adha itu. Setibanya di Masjid Agung, rombongan disambut takmir masjid dan warga yang telah menunggu sejak pagi.
2. Tradisi turun temurun sejak era Demak.
Takmir Masjid Agung Keraton Solo, Muhtarom, mengatakan Grebeg Besar merupakan tradisi yang telah diwariskan sejak masa Kerajaan Demak hingga era Mataram dan masih terus dijaga sampai sekarang.
“Gerebeg besar ini merupakan ritual adat Keraton yang sampai saat ini masih dilestarikan sejak Demak, Panjang dan Mataram. Dalam setahun itu ada tiga Gerebeg yakni Gerebeg Sekaten ketika rabilul awal, kedua Gerebeg Poso atau Sawal dan ketiga Gerebeg Besar,” ungkap Muhtarom.
Ia menjelaskan Grebeg Besar menjadi simbol rasa syukur Keraton Surakarta dalam menyambut Idul Adha sekaligus setelah menjalani puasa Arafah.
“Ini dalam rangka wujud syukur Raja dan Keraton Surakarta bahwa telah menyelesaikan puasa arafah dan Idul Adha ini sebagai wujud syukur Keraton Surakarta,” lanjutnya.
Dalam prosesi tersebut terdapat dua gunungan dengan makna berbeda, yakni Gunungan Jalu dan Gunungan Pawestri. Namun, hanya Gunungan Jalu yang diperebutkan masyarakat.
“Gunungan Jalu itu terdiri dari 3 polo, polo kapendem, polo kasampar, dan polo kagantung. Makanya tadi terdiri dari bahan mentah,” jelas Muhtarom.
“Ini simbol seorang laki-laki harus mencari nafkah untuk keluarganya makanya wujudnya adalah makanan-makanan mentah,” tambahnya.
Sementara Gunungan Pawestri berisi makanan siap santap yang melambangkan peran perempuan dalam mengatur kebutuhan rumah tangga.
“Seorang wanita harus mampu mengelola penghasilan suami untuk kebutuhan keluarga,” kata dia.
3. Warga percaya gunungan membawa berkah
Usai didoakan, warga langsung berebut isi Gunungan Jalu yang ditempatkan di sisi selatan pintu masuk Masjid Agung. Berbagai hasil bumi seperti cabai, kacang, hingga sayuran ludes diperebutkan masyarakat.
Salah seorang warga asal Sragen, Sutini (65), mengaku rutin datang setiap tahun untuk mengikuti tradisi tersebut. Pedagang nasi berkat di Pasar Legi Solo itu percaya hasil gunungan membawa keberkahan bagi usahanya.
“Ini nanti (hasil gunungan) asa kacang, cabai, buat masak biar dagangannya berkah,” pungkasnya.