Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Penyelamatan 371 Megaliter: Jasa Marga Putus Rantai Eksploitasi Air

Penyelamatan 371 Megaliter: Jasa Marga Putus Rantai Eksploitasi Air
Travoy Rest KM519A di Sragen. (Dok. Jasa Marga Solo Ngawi)
Intinya Sih

  • Jasa Marga berhasil memenuhi 38% kebutuhan air operasional secara mandiri melalui kombinasi sistem Bozem dan WWTP yang memanfaatkan tadah hujan serta daur ulang limbah domestik.
  • Inovasi ini menjaga kenyamanan rest area dengan suplai air stabil untuk toilet dan taman, sekaligus mengurangi ketergantungan pada PDAM serta eksploitasi air tanah.
  • Langkah berkelanjutan tersebut mendukung sertifikasi Green Toll Road Indonesia, menekan risiko penurunan muka tanah, dan menjadi standar baru pengelolaan fasilitas publik ramah lingkungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sragen, IDN Times - Kenyamanan layanan toilet dan keasrian lanskap dari Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) Jasa Marga (Travoy Rest) kini tidak lagi bergantung penuh pada leding PDAM atau rentannya cadangan air tanah. Perseroan membuktikan, inovasi kemandirian yang dilakukan berhasil mengefisiensikan 38 persen kebutuhan air operasionalnya secara mandiri.

Dari sisi volume, langkah tersebut berhasil menyubstitusi 371,35 megaliter air dari kolaborasi pengelolaan tadah hujan dan daur ulang limbah domestik.

Bagi jutaan pelaju tol Trans Jawa, ketersediaan air menentukan kualitas pelayanan dari sebuah rest area. Toilet umum yang tidak berbau, keran wudhu yang mengalir deras, dan lanskap hijau peredam panas aspal membuktikan realisasi nyata dari komitmen Jasa Marga, Melayani Sepenuh Hati.

Namun, menjaga standar kenyamanan bagi puluhan ribu pengunjung harian memicu tantangan operasional dan finansial yang berat, terutama saat kemarau ekstrem melanda akibat krisis iklim.

Merespons tekanan tersebut, PT Jasa Marga (Persero) Tbk tidak sekadar mengampanyekan gerakan hemat air. Langkah proaktif itu bahkan dikukuhkan lewat payung hukum internal, yakni Keputusan Direksi Nomor 66/KPTS/2023 tentang Pedoman Sistem Manajemen Lingkungan. Dari amanat resmi tersebut, perusahaan membangun sistem pengelolaan air sirkular yang memadukan dua infrastruktur utama: Bozem dan Waste Water Treatment Plant (WWTP) atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Corporate Communication and Community Development Group Head Jasa Marga, Lisye Octaviana, merinci pembagian tugas kedua fasilitas tersebut.

"Bozem di hulu murni memanen limpasan hujan sebagai pengendali genangan jalan tol sekaligus cadangan air kemarau. Sementara WWTP bekerja aktif memproses limbah domestik agar efluennya tidak mencemari lingkungan. Sinergi keduanya memberi jaminan agar fasilitas publik tetap higienis tanpa membebani akuifer air tanah lokal," ujarnya.

Pernyataan tersebut bersandar pada data yang terukur. Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) 2024 mencatat, jaringan Jasa Marga Group mengonsumsi 975 megaliter air. Dari total kebutuhan itu, infrastruktur bozem sukses menyuplai 371,35 megaliter air hujan, sedangkan instalasi WWTP mendaur ulang 1,72 megaliter limpasan air bekas wudhu.

Kalkulasi data dari laporan resmi tersebut menunjukkan, Jasa Marga sukses memenuhi sekitar 38 persen kebutuhan air operasional korporasi secara mandiri. Sebagai gambaran, penghematan 371 megaliter itu setara dengan menghapus biaya sewa 74 ribu unit truk tangki air berkapasitas 5.000 liter. Efisiensi tersebut juga memangkas beban logistik yang tinggi, yang sekadar untuk mengamankan ketersediaan air rest area saat kemarau panjang.

Keberhasilan tersebut rupanya berakar dari cara kerja infrastruktur yang saling melengkapi. Bozem beroperasi secara pasif sebagai kolam penampung curah hujan (rainwater harvesting). Fasilitas itu menjalankan fungsi ganda: menahan cadangan pasokan air untuk musim kering, sekaligus mencegah genangan di koridor tol saat badai. Efek lanjutannya, perusahaan berhasil menghemat biaya operasional karena tidak perlu lagi mengerahkan mesin pompa drainase berkapasitas raksasa untuk membuang air banjir.

Di sisi lain, WWTP bekerja secara mekanis dan aktif untuk memproses limpasan air bekas wudhu dari masjid. Sistem itu mengalirkan air buangan menuju bak kontrol, lalu memompanya ke dalam instalasi WWTP untuk mengurai zat pencemar.

Hasilnya bukan sekadar jernih secara visual. Pengujian laboratorium oleh pihak ketiga bersertifikasi memastikan efluen limbah Jasa Marga selalu berada di bawah ambang batas baku mutu Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021, sehingga dijamin aman saat kembali ke lingkungan.

Meski berasal dari dua sumber berbeda--tadah hujan dan limbah wudhu--aliran air dari kedua sistem itu berhilir di satu toren penampungan yang sama. Pengelola mengalokasikan "air alternatif" tersebut untuk kebutuhan nonsanitasi, yang mana dalam pos operasional selama ini paling banyak menyedot pasokan air bersih di rest area.

Untuk diketahui, dalam praktiknya di lapangan, suplai air mandiri tersebut mengalir deras untuk membilas (flushing) kloset toilet umum dan menyiram lanskap taman Travoy Rest. Adapun, sistem sirkular itu juga sudah beroperasi penuh di sejumlah titik strategis, termasuk di Rest Area KM 519A Ruas Solo-Ngawi dan KM 88B.

Waste Water Treatment di Travoy Rest KM519A di Sragen. (Dok. Jasa Marga Solo Ngawi)
Waste Water Treatment di Travoy Rest KM519A di Sragen. (Dok. Jasa Marga Solo Ngawi)

Pemisahan jalur suplai tersebut justru memunculkan keuntungan ganda. Karena hasil daur ulang sudah memenuhi kebutuhan air bilas dan taman, pengelola kini bisa memfokuskan seratus persen pasokan air murni dari PDAM untuk area yang bersentuhan langsung dengan higienitas pengunjung, seperti wastafel cuci tangan otomatis dan kebutuhan dapur tenant kuliner.

Pengguna jalan juga langsung merasakan dampak tata kelola itu. Aris (42), pelaju rute Surabaya-Solo yang tengah menepi di Travoy Rest KM 519A, mengakui kualitas layanan tersebut.

“Biasanya saat kemarau panjang, problem utama rest area itu kloset yang pesing atau berkerak kuning karena airnya mati. Tapi di sini air flushing kencang, jernih, dan tidak berbau. Mengetahui pengelola menyuplai air toiletnya dari tadah hujan dan daur ulang air wudhu, ini langkah operasional yang sangat cerdas,” tuturnya, Sabtu (11/4/2026).

Terobosan itu juga menjangkau dimensi ekologi warga di sekitar tol. Ketersediaan ratusan megaliter air mandiri sukses mengerem laju perusahaan dalam mengeksploitasi sumber daya bawah tanah.

Penelusuran dokumen keberlanjutan perseroan menemukan indikator yang krusial. Yakni, Jasa Marga berhasil menekan ekstraksi pompa sumur dalam (artesis) hingga ribuan meter kubik. Langkah tersebut secara langsung membantu menjaga level muka air tanah dan mencegah bencana penurunan muka tanah (land subsidence) bagi warga di sekitar koridor jalan tol.

Komitmen ekologis, yang dibuktikan dengan nihilnya pengambilan air dari kawasan krisis air (water stress), menjadi kunci Jasa Marga memenuhi kriteria Green Toll Road Indonesia (GTRI). Lembaga auditor lingkungan itu dalam pernyataan resminya, kini tidak lagi menoleransi klaim hijau (green) tanpa bukti pembangunan infrastruktur fisik. Maka dari itu, kehadiran operasional bozem dan WWTP pun menjadi syarat mutlak bagi pengelola ruas untuk mempertahankan sertifikasi keberlanjutan tersebut.

Integrasi Bozem dan WWTP di Travoy Rest menetapkan standar baru pengelolaan fasilitas jalan tol publik. Di usianya yang ke-48 tahun, Jasa Marga membuktikan bahwa limpasan hujan dan limbah domestik tidak selalu berakhir begitu saja dan menjadi beban finansial perusahaan. Melalui inovasi dan kepatuhan pada kebijakan lingkungan, perusahaan sukses mengubah keduanya menjadi urat nadi pelayanan yang menjamin kenyamanan pengguna jalan tidak pernah kering.

Share
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More