Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Di Balik Toilet Bersih Rest Area Jasa Marga: Hujan Jadi Cadangan Air

Di Balik Toilet Bersih Rest Area Jasa Marga: Hujan Jadi Cadangan Air
Travoy Rest KM519A di Sragen. (Dok. Jasa Marga Solo Ngawi)
Intinya Sih

  • Jasa Marga memanfaatkan air hujan dan air bekas wudhu melalui sistem bozem dan WWTP untuk memenuhi kebutuhan nonsanitasi di rest area, menghemat hingga 38 persen konsumsi air operasional.
  • Sistem sirkular ini menjaga toilet tetap bersih, taman hijau, serta fasilitas publik berfungsi optimal meski menghadapi musim kemarau dan lonjakan pengguna jalan.
  • Inovasi pengelolaan air tersebut mendukung sertifikasi Green Toll Road Indonesia dengan menekan ketergantungan pada sumber air tanah dan memperkuat komitmen keberlanjutan Jasa Marga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Melalui bozem dan instalasi pengolahan air limbah, Jasa Marga mengubah air hujan dan air bekas wudhu menjadi cadangan layanan di rest area. Pada 2024, pasokan air hujan yang dimanfaatkan mencapai 371,35 megaliter, sekitar 38 persen dari kebutuhan air operasional Jasa Marga Group.

Sragen, IDN Times — Di rest area KM 519A ruas Solo–Ngawi, air yang membilas toilet tidak seluruhnya berasal dari pipa PDAM atau sumur dalam. Sebagian air tersebut berasal dari hujan yang ditampung. Sebagian lagi dari air bekas wudhu yang diolah kembali.

Bagi pengguna jalan, hasil akhir dari proses itu terlihat dengan jelas: toilet tetap berfungsi, keran wudhu mengalir, taman tetap hijau, dan perjalanan bisa dilanjutkan tanpa keluhan. Namun, di balik pengalaman singgah yang singkat itu, terdapat sistem pengelolaan air yang bekerja tapi tidak diketahui banyak orang.

Di rest area, air tidak sekadar menjadi fasilitas pendukung. Air menentukan mutu layanan yang paling dasar dari sebuah rest area.

Ketika air terganggu, toilet cepat berbau, musala tidak nyaman, taman mengering, tenant kuliner ikut terdampak, dan rest area kehilangan fungsi utamanya: sebagai ruang jeda yang aman dan layak bagi pengguna jalan.

Tantangan itu menjadi makin krusial ketika jalan tol menghadapi lonjakan mobilitas, terutama saat musim libur panjang dan arus mudik. Di sisi lain, kemarau panjang dan perubahan pola hujan membuat pasokan air tidak selalu bisa stabil dan pasti.

Alhasil, rest area dituntut tetap melayani, tetapi tidak bisa terus-menerus bergantung pada cara lama yang membebani pasokan air bersih.

Dari persoalan operasional itu, PT Jasa Marga (Persero) Tbk membangun sistem pengelolaan air yang lebih sirkular. Modelnya memadukan dua infrastruktur utama: bozem sebagai penampung limpasan air hujan dan Waste Water Treatment Plant (WWTP) atau instalasi pengolahan air limbah untuk mengolah air bekas wudhu.

Sistem tersebut tidak menjadikan air hasil olahan sebagai air minum atau air untuk memasak. Penggunaannya dibatasi untuk kebutuhan nonsanitasi, seperti membilas toilet dan menyiram lanskap taman.

Kini, air bersih dari PDAM bisa difokuskan untuk area yang benar-benar bersentuhan langsung dengan higienitas pengunjung, seperti wastafel, dapur tenant, dan kebutuhan sanitasi utama.

Corporate Communication and Community Development Group Head Jasa Marga, Lisye Octaviana mengatakan, bozem dan WWTP memiliki peran yang berbeda, tetapi saling melengkapi.

“Bozem di hulu murni memanen limpasan hujan sebagai pengendali genangan jalan tol sekaligus cadangan air kemarau. Sementara WWTP bekerja aktif memproses limbah domestik agar efluennya tidak mencemari lingkungan. Sinergi keduanya memberi jaminan agar fasilitas publik tetap higienis tanpa membebani akuifer air tanah lokal,” ujar Lisye.

Data Sustainability Report Jasa Marga 2024 menunjukkan skala manfaat sistem tersebut. Sepanjang 2024, Jasa Marga Group mengonsumsi sekitar 975 megaliter air. Dari total kebutuhan itu, infrastruktur bozem menyuplai 371,35 megaliter air hujan. Sementara, instalasi WWTP mendaur ulang 1,72 megaliter air bekas wudhu.

Dari perhitungan tersebut, air hujan yang dimanfaatkan melalui bozem mencapai sekitar 38 persen dari total konsumsi air operasional Jasa Marga Group. Jumlah itu menunjukkan bahwa pengelolaan air tidak lagi berhenti pada imbauan hemat air, tetapi sudah masuk ke desain infrastruktur layanan mereka.

Cara kerja bozem relatif sederhana. Kolam penampung tersebut menangkap limpasan air hujan yang sebelumnya berpotensi langsung mengalir ke drainase. Saat turun hujan, air tidak dibiarkan lewat begitu saja tapi ditahan, disimpan, lalu dimanfaatkan kembali sebagai cadangan untuk kebutuhan tertentu di kawasan rest area dan fasilitas operasional.

Fungsi bozem juga tidak tunggal. Selain menjadi cadangan air saat musim kering, kolam penampung tersebut juga membantu mengurangi potensi genangan di sekitar koridor tol. Dengan demikian, air hujan tidak hanya dipandang sebagai risiko drainase, tetapi juga sebagai sumber daya yang bisa dikelola oleh Jasa Marga.

Sementara itu, WWTP bekerja di aliran yang berbeda. Air bekas wudhu dari masjid dialirkan ke bak kontrol, lalu masuk ke instalasi pengolahan untuk menurunkan kandungan pencemar. Setelah melalui proses itu, air hasil olahan digunakan kembali untuk kebutuhan yang tidak memerlukan standar air konsumsi.

Jasa Marga menyebut, kualitas efluen atau air hasil olahan itu sudah diuji oleh laboratorium pihak ketiga bersertifikasi. Hasil pengujian tersebut berada di bawah ambang batas baku mutu sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021.

Dengan begitu, air olahan tidak langsung dibuang sebagai limbah, tetapi diberi fungsi kedua sebelum kembali ke lingkungan.

Di lapangan, aliran air dari dua sumber tersebut--tadah hujan dan air bekas wudhu--berakhir di sistem penampungan yang sama. Dari sana, pengelola mengarahkannya untuk kebutuhan nonsanitasi.

Adapun, untuk rest area KM 519A ruas Solo–Ngawi, sistem itu dipakai untuk keperluan membilas toilet umum dan menyiram taman.

Bagi pengunjung, teknologi seperti itu mungkin tidak selalu terlihat kasat mata. Pasalnya, mereka tidak datang ke rest area untuk memeriksa sumber air. Mereka hanya ingin fasilitas dan layanan toilet bersih, air tersedia, musala nyaman, serta area istirahat tidak terasa gersang.

Waste Water Treatment di Travoy Rest KM519A di Sragen. (Dok. Jasa Marga Solo Ngawi)
Waste Water Treatment di Travoy Rest KM519A di Sragen. (Dok. Jasa Marga Solo Ngawi)

Aris, 42 tahun, pengguna jalan rute Surabaya–Solo, mengaku merasakan perbedaan itu ketika singgah di Travoy Rest KM 519A.

“Biasanya saat kemarau panjang, problem utama rest area itu kloset yang pesing atau berkerak kuning karena airnya mati. Tapi di sini air flushing kencang, jernih, dan tidak berbau. Mengetahui pengelola menyuplai air toiletnya dari tadah hujan dan daur ulang air wudhu, ini langkah operasional yang sangat cerdas,” tuturnya, Sabtu (11/4/2026).

Pengalaman Aris menunjukkan, keberlanjutan di rest area tidak selalu dalam bentuk yang spektakuler dan wah. Sebaliknya, bisa muncul dalam bentuk: toilet yang tidak pernah kekurangan air, taman yang tetap dirawat, dan fasilitas publik yang tetap berjalan saat beban layanan meningkat.

Di sisi lain, sistem air sirkular juga memiliki makna ekologis yang luas. Makin besar porsi air hujan dan air olahan yang dapat digunakan untuk kebutuhan nonsanitasi itu, makin kecil juga ketergantungan pengelola pada sumber air bersih konvensional.

Dalam konteks rest area yang melayani ribuan orang, pengurangan ketergantungan itu menjadi penting karena kebutuhan air berlangsung setiap hari dan dalam volume besar.

Jasa Marga juga mencatat tidak adanya pengambilan air dari kawasan krisis air atau water stress. Indikator semacam itu menjadi penting dalam penilaian keberlanjutan mereka karena klaim hijau tidak cukup hanya disampaikan melalui kampanye, tetapi harus ditopang oleh data penggunaan sumber daya, infrastruktur fisik, serta pemantauan berkala.

Komitmen itu juga sejalan dengan kebutuhan sertifikasi Green Toll Road Indonesia atau GTRI. Dalam sertifikasi pengelolaan jalan tol berkelanjutan itu, aspek lingkungan tidak hanya dilihat dari penanaman pohon atau pengelolaan lanskap, tetapi juga dari bagaimana operator mengelola air, limbah, energi, dan dampak operasionalnya terhadap kawasan sekitar.

Bagi Jasa Marga, sistem bozem dan WWTP menjadi bagian dari upaya untuk menjaga kualitas layanan sekaligus mengurangi beban lingkungan. Bagi pengguna jalan, manfaatnya terasa dalam bentuk yang lebih dekat pada kehidupan sehari-hari mereka. Yakni, rest area yang tetap bersih, teduh, dan layak disinggahi.

Model itu juga menunjukkan, inovasi layanan publik tidak selalu harus dimulai dari teknologi digital yang tampak di layar. Kadang, inovasi paling menentukan justru berada di balik toilet, saluran air, kolam penampung, dan toren. Infrastruktur yang jarang diperhatikan itu menjadi penentu apakah pengalaman perjalanan terasa nyaman atau melelahkan saat singgah di rest area.

Di tengah krisis iklim, rest area menghadapi tantangan yang tidak ringan karena melayani pengguna jalan dalam jumlah besar, menjaga standar kebersihan, mengelola limbah, mempertahankan lanskap, sekaligus memastikan operasinya tidak menambah tekanan berlebihan pada sumber daya lokal.

Oleh karena itu, pengelolaan air di Travoy Rest tidak bisa dibaca semata sebagai program efisiensi. Sebaliknya, bisa menjadi cara baru untuk melihat layanan jalan tol bahwa kenyamanan pengguna jalan bergantung pada kemampuan operator mengelola sumber daya yang selama ini sering dianggap sepele.

Hujan yang jatuh di koridor tol kini tidak lagi hanya dibuang ke saluran. Air bekas wudhu tidak langsung berakhir menjadi limbah. Keduanya diberi kesempatan kedua untuk menjaga fungsi rest area.

Di Travoy Rest, layanan terbaik sering kali bekerja tanpa banyak suara. Pengguna hanya melihat air mengalir, toilet bersih, taman terawat, dan perjalanan yang bisa dilanjutkan dengan lebih nyaman. Di balik itu, ada sistem yang mengubah hujan dan air bekas wudhu menjadi cadangan untuk layanan kepada mereka.

Pada usia Jasa Marga yang ke-48, inovasi semacam itu memperlihatkan satu hal: melayani sepenuh hati bukan hanya soal menghadirkan fasilitas yang terlihat, tetapi juga memastikan sistem di baliknya bekerja dengan cermat, hemat, dan berkelanjutan.

Infografis Pengelolaan air di Rest Area Jasa Marga Air. (IDN Times/Dhana Kencana)
Infografis Pengelolaan air di Rest Area Jasa Marga Air. (IDN Times/Dhana Kencana)
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More