- Potensi panas bumi (geotermal) di Banjarnegara dan Wonosobo.
- Pembangkitan energi angin (bayu).
- Pengelolaan sampah di 35 kabupaten dan kota.
Pabrik EV Beroperasi, Jateng Bidik Investor Tenaga Surya 13 GW

- Pemprov Jateng mencatat investasi energi terbarukan senilai Rp7,1 triliun selama 2024–2025, termasuk pembangunan pabrik sel surya, baterai, dan perakitan kendaraan listrik di beberapa kawasan industri.
- Pemerintah daerah mempromosikan potensi energi hijau melalui forum CJIBF dengan menawarkan proyek panas bumi, tenaga angin, dan pengelolaan sampah di 35 kabupaten serta kota.
- IESR menilai potensi terbesar EBT Jateng ada pada PLTS sebesar 13 gigawatt di 12 lokasi, sejalan dengan peningkatan konsumsi listrik masyarakat dan industri hingga lebih dari 5 persen.
Semarang, IDN Times - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) terus bermanuver menggaet investor di sektor energi terbarukan untuk menanamkan modal. Hal itu sebagai wujud dan tindak lanjut dari kegiatan Presiden Prabowo Subianto yang meresmikan operasional pabrik perakitan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Kabupaten Magelang, awal April 2026.
1. Realisasi investasi dan profil industri

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng, Sakina Rosellasari memaparkan nilai investasi sektor energi terbarukan di wilayahnya mencapai Rp7,1 triliun selama periode 2024–2025. Rinciannya, penanaman modal pada 2024 tercatat sebesar Rp5,7 triliun, sementara pada 2025 mencapai Rp1,4 triliun.
"Nilai investasi 2025 dibanding 2024 terlihat menurun. Hal ini karena pada 2024 masih dalam tahap pembangunan, pembelian lahan, dan belanja modal. Sementara pada 2025 pabrik sudah mulai beroperasi," ungkap Sakina, Rabu (22/4/2026).
Adapun, sektor industri yang merealisasikan penanaman modal di Jawa Tengah di antaranya pabrik sel surya (solar cell) dan baterai di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industripolis Batang serta KEK Kendal.
Selain itu, beroperasi juga pabrik perakitan kendaraan listrik di Magelang yang secara khusus memproduksi bus, truk, dan forklift.
2. Peluang investasi proyek hijau

Untuk menarik calon investor, DPMPTSP menginventarisasi potensi energi baru terbarukan (EBT) di 35 kabupaten dan kota. Potensi tersebut terangkum dalam dokumen penawaran proyek atau Investment Project Ready to Offer (IPRO) dan dipromosikan melalui forum Central Java Investment Business Forum (CJIBF).
Sakina menyebutkan sejumlah peluang investasi hijau yang masih terbuka bagi pemodal. Di antaranya:
Upaya inventarisasi dan promosi itu, lanjut Sakina, diklaim sejalan dengan arahan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen untuk terus memajukan sektor energi hijau di daerah.
3. Potensi 13 Gigawatt dan kebutuhan listrik di Jateng

Sementara itu, Analis Institute for Essential Services Reform (IESR), Zakki Muwafiq menyatakan, terdapat tiga potensi EBT di Jateng yang layak dikembangkan dari sisi keuntungan bisnis (profitabilitas). Ketiganya meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).
"Potensi terbesar di Jawa Tengah adalah PLTS di 12 lokasi yang tersebar di 10 kabupaten, dengan potensi energi mencapai 13 gigawatt," papar Zakki.
Peluang suplai energi itu sejalan dengan proyeksi kebutuhan listrik masyarakat dan industri di Jawa Tengah yang terus melonjak. Berdasarkan data RUPTL PLN, konsumsi listrik di Jateng naik 4,5 persen dalam 10 tahun terakhir. Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, bahkan terjadi lonjakan konsumsi yang signifikan hingga 5,3 persen.
"Kondisi tersebut menunjukkan adanya lonjakan kebutuhan listrik yang perlu mendapat suplai dari sumber EBT, sehingga membuka peluang bisnis berskala besar bagi para investor," pungkasnya.
















