Polemik Raja Kembar Keraton Surakarta, Gusti Moeng Tantang Purboyo Tes DNA

- Gusti Moeng menantang KGPH Purboyo menjalani tes DNA untuk memastikan garis keturunan dan mengakhiri polemik raja kembar di Keraton Kasunanan Surakarta.
- Ia mengkritik pelantikan Purboyo sebagai PB XIV oleh GKR Pakubuwono XIII Hangabehi yang dinilai sepihak dan belum memiliki kejelasan legitimasi keturunan.
- Polemik makin rumit karena perpecahan keluarga, termasuk perubahan sikap keponakan Gusti Moeng, sementara dualisme kepemimpinan tetap terjadi pasca wafatnya PB XIII.
Surakarta, IDN Times – Konflik internal di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali memanas. Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng menantang KGPH Purboyo yang dinobatkan sebagai PB XIV untuk menjalani tes DNA guna membuktikan garis keturunan dan mengakhiri polemik “raja kembar”.
Tantangan tersebut disampaikan Gusti Moeng saat ditemui di sela peringatan Hari Tari Dunia di lingkungan keraton, Kamis (30/4/2026). Ia menilai, uji DNA menjadi cara paling objektif untuk memastikan siapa yang berhak menduduki takhta setelah wafatnya SISKS Pakoe Buwono XIII pada 2 November 2025.
1. Tantang Tes DNA untuk Akhiri Konflik

Gusti Moeng yang juga menjabat Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) menegaskan, polemik yang berlarut-larut seharusnya bisa diselesaikan melalui pembuktian ilmiah.
“Daripada kita ramai terus, ya buktikan aja, dengan tes DNA,” ujar Moeng, Sabtu (2/5/2026).
Ia berpandangan, kejelasan garis keturunan menjadi kunci utama dalam menentukan legitimasi kepemimpinan di keraton. Menurutnya, tanpa pembuktian tersebut, konflik berpotensi terus berlanjut dan memicu perpecahan di internal keluarga.
2. Kritik Pelantikan Purboyo

Dalam pernyataannya, Gusti Moeng juga menyoroti langkah Asih Winarni atau GKR Pakubuwono XIII Hangabehi yang melantik putranya, KGPH Purboyo, sebagai PB XIV. Ia menilai tindakan tersebut dilakukan secara sepihak dan menuai polemik karena status keturunannya masih dipertanyakan oleh sebagian pihak.
“Jumowo (jumawa), Jumowo tahu nggih ? Jumowo itu merasa berani, merasa, ya pokoknya jumowo gitu. Berani melantik anaknya yang belum tentu jelas anaknya kakak saya. Kakak saya Sinuhun maksudnya Sinuhun ke tiga belas (PB XIII),” tandasnya.
Gusti Moeng juga mengajak seluruh keluarga besar keraton, termasuk pihak yang mendukung Purboyo, untuk kembali duduk bersama mencari solusi terbaik.
“Makanya yang utama sekarang, ayo kita berembuk lagi. Daripada kita ramai terus, buktikan saja dengan tes DNA, nggih. Saya utamakan begitu,” katanya.
3. Konflik Keluarga dan Latar Belakang Polemik.

Selain persoalan suksesi, Gusti Moeng turut menyinggung sikap keponakannya, G.K.R.P. Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, yang berada di kubu Purboyo. Ia mengaku heran dengan perubahan sikap tersebut.
“Saya juga heran dengan keponakan saya anaknya Sinuhun kangmas yang paling tua itu. Dia itu kok musuhin saya, musuhin LDA itu, terus tujuannya itu apa ? Coba panjenengan rasakan, karepe kui opo (maunya apa) ? Kok bisa dia memusuhi saya, aneh banget kan ya,” tandasnya.
Ia menambahkan bahwa sejak kecil keponakannya tersebut berada dalam bimbingannya.
“Sejak kecil itu tak bimbing kok. Nggak tahu diiming imingin apa sama si genduk itu. Itu yang sangat apa ya. Pada titik akhir kok dia kepleset. Kepleset dia itu,” keluhnya.
Polemik “raja kembar” di Keraton Surakarta sendiri mencuat setelah wafatnya PB XIII pada awal November 2025. Menjelang prosesi pemakaman, kubu GKR Pakubuwono XIII Hangabehi melantik KGPH Purboyo sebagai PB XIV.
Namun, langkah tersebut mendapat penolakan dari LDA dan sebagian keluarga besar keraton. Pada 13 November 2025, kubu LDA kemudian menobatkan KGPH Hangabehi sebagai PB XIV versi mereka, sehingga memunculkan dualisme kepemimpinan di lingkungan keraton hingga kini.

















