Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pulang ke Banyumas Lalu Diminta Balik Jakarta, Ini Pengakuan Terakhir Sutrimo
Proses ekshumasi jenazah Sutrimo di Banyumas, Rabu (12/8/2026). (IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Sutrimo pulang ke Desa Wlahar, Banyumas, pada 10 Juli 2026 karena tidak memiliki uang, lalu diminta kembali ke Jakarta pada 16 Juli dengan tiket dan pendamping disiapkan.
  • Sutrimo meminjam Rp750 ribu kepada adiknya untuk menuju stasiun, kemudian menerima transfer Rp5 juta dari majikan; ia menyebut dua orang akan menemaninya ke Jakarta.
  • Kuasa hukum meminta pemeriksaan CCTV stasiun dan kereta untuk mengidentifikasi pendamping. Sutrimo ditemukan tak sadarkan diri pada 23 Juli, sementara polisi menyelidiki penyebab kematian termasuk ekshumasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
10 Juli 2026

Sutrimo pulang ke Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Banyumas, atas inisiatif sendiri karena tidak memiliki uang.

16 Juli 2026

Sutrimo diminta kembali ke Jakarta. Ia mengaku telah disiapkan tiket dan dua orang untuk menemaninya.

Sekitar pukul 02.30 WIB

Sutrimo meminjam Rp750 ribu kepada adiknya, Anis, untuk ongkos menuju stasiun.

Kamis (23/7/2026)

Sutrimo ditemukan tak sadarkan diri di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, lalu dinyatakan meninggal dunia di RS Muhammadiyah Taman Puring.

Saat ini

Polda Metro Jaya masih menyelidiki penyebab kematian Sutrimo, termasuk melalui ekshumasi atau autopsi ulang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sutrimo, mantan pekerja rumah tangga eks Jampidsus Febrie Adriansyah, ditemukan tak sadarkan diri di Kebayoran Baru dan kemudian meninggal dunia. Polisi masih menyelidiki penyebab pasti kematiannya, termasuk melalui ekshumasi.
  • Who?
    Sutrimo; keluarga dan adiknya Anis; pengacara keluarga Aan Rohaeni; majikan Sutrimo; dua orang yang disebut menemani perjalanan; serta penyidik Polda Metro Jaya terlibat dalam rangkaian peristiwa dan penyelidikan.
  • Where?
    Sutrimo sempat berada di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Banyumas, dan direncanakan berangkat dari Stasiun Purwokerto ke Jakarta. Ia ditemukan di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, lalu dibawa ke RS Muhammadiyah Taman Puring.
  • When?
    Sutrimo pulang ke Banyumas pada 10 Juli 2026. Pada 16 Juli 2026 sekitar pukul 02.00 WIB, ia menerima telepon untuk kembali ke Jakarta. Ia ditemukan tak sadarkan diri pada Kamis, 23 Juli 2026.
  • Why?
    Sutrimo pulang ke Banyumas atas inisiatif sendiri karena tidak memiliki uang. Enam hari kemudian, menurut pengakuannya kepada keluarga, ia diminta kembali ke Jakarta dengan tiket yang telah disiapkan. Penyebab kematiannya masih menunggu hasil penyelidikan.
  • How?
    Sutrimo meminjam Rp750 ribu dari Anis untuk menuju stasiun, lalu menerima transfer Rp5 juta dari majikannya. Aan Rohaeni meminta polisi memeriksa CCTV stasiun dan kereta untuk mengidentifikasi dua pendamping yang disebut menyertainya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sutrimo pulang ke Banyumas karena tidak punya uang. Lalu ia diminta balik ke Jakarta. Ia pinjam uang ke adiknya untuk pergi ke stasiun. Katanya ada dua orang menemani. Sutrimo lalu ditemukan tidak sadar di Jakarta dan meninggal. Polisi sekarang mencari tahu penyebabnya, juga memeriksa kamera di stasiun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah situasi yang masih diselidiki, kesaksian keluarga dan dorongan untuk memeriksa rekaman CCTV memberi pijakan yang lebih jelas bagi penyidik. Keterangan bahwa tidak ada indikasi intimidasi membantu pemeriksaan tetap berfokus pada verifikasi fakta, sementara ekshumasi menunjukkan upaya pendalaman penyebab kematian secara menyeluruh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyumas, IDN Times - Pengacara keluarga almarhum Sutrimo, Aan Rohaeni, membeberkan sejumlah kesaksian baru mengenai kronologi kepulangan mantan pekerja rumah tangga eks Jampidsus Febrie Adriansyah tersebut sebelum ditemukan meninggal dunia.

Pihak kuasa hukum juga mendorong penyidik kepolisian untuk memeriksa rekaman CCTV di stasiun guna mengusut kepastian pergerakan Sutrimo. Aan menjelaskan bahwa Sutrimo sempat pulang ke kampung halamannya di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Banyumas, pada 10 Juli 2026 atas inisiatif sendiri karena sedang tidak memiliki uang.

Namun beberapa hari kemudian, yakni pada 16 Juli 2026 Sutrimo diminta kembali ke Jakarta. "Tanggal 16 jam 02.00 WIB ditelepon sama bapak, kata Pak Sutrimo begitu. Kata bapak disuruh pulang sekarang juga, sudah disiapkan tiket dan juga ada orang yang akan menemani," ujar Aan Rohaeni menirukan pengakuan Sutrimo.

Dalam kesaksian yang disampaikan ke keluarga, Sutrimo sempat mengaku kebingungan karena tidak memegang uang untuk perjalanan menuju stasiun. Sekitar pukul 02.30 WIB, Sutrimo meminjam uang Rp750 ribu ke adiknya (Anis) untuk ongkos ke stasiun.

Sutrimo kemudian mendapat transferan sebesar Rp5 juta dari majikannya untuk biaya operasional dan mengganti pinjaman tersebut. Menurut kesaksian Sutrimo kepada keluarga, terdapat dua orang yang ditugaskan untuk menyertainya dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Karena adanya informasi dua pendamping tersebut, Aan menyarankan agar pihak penyidik dapat mengecek rekaman CCTV di kereta api maupun stasiun keberangkatan (Stasiun Purwokerto) guna memastikan identitas dua orang yang menemani almarhum.

Aan Rohaeni menegaskan bahwa sejauh ini tidak ada indikasi intimidasi maupun ancaman yang dialami almarhum menjelang kematiannya. Menurutnya, saksi-saksi dari pihak keluarga juga tidak mengetahui informasi sensitif atau berbahaya yang melibatkan pihak lain."Intimidasi apa pun tidak ada ya. Saksi-saksi di sini kan tidak mengetahui hal-hal atau informasi-informasi yang membahayakan orang lain," kata Aan.

Sutrimo ditemukan tak sadarkan diri di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis (23/7/2026) sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia di RS Muhammadiyah Taman Puring. Saat ini, Polda Metro Jaya terus melakukan penyelidikan mendalam—termasuk tindakan ekshumasi (autopsi ulang)—guna memastikan penyebab pasti kematian almarhum.

Curated For You

Editorial Team

Related Article