Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Melemah, Harga Obat di Semarang Mulai Naik
ilustrasi farmasis atau apoteker (vecteezy.com/Thanakorn Phanthura)

Semarang, IDN Times - Nilai tukar rupiah yang semakin merosot telah memicu kenaikan harga obat-obatan. Di Kota Semarang, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebutkan harga obat-obatan sekarang mengalami lonjakan karena mayoritas bahan bakunya didapat dari impor.

Pelaksana Tugas (Plt) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang, Prihatin Iman Nugroho, mengatakan naiknya harga obat tidak hanya dari biaya produksi saja, namun juga distribusi dan rantai pasok yang sebagian masih berkaitan dengan komponen impor.

"Untuk di Kota Semarang sendiri sejauh yang kami tangkap saat ini masih belum kami dengar adanya pergerakan atau perubahan harga-harga obat yang berpotensi menyebabkan gangguan di pelayanan," ungkapnya, Jumat (12/7/2026).

Menurutnya, ketergantungan industri farmasi terhadap bahan baku impor membuat gejolak kurs rupiah menjadi faktor yang tak bisa diabaikan. Saat rupiah tertekan terhadap dollar, biaya produksi berpotensi membengkak dan pada akhirnya dapat memicu penyesuaian harga obat di tingkat konsumen.

"Dengan adanya kenaikan kurs rupiah terhadap dolar memang potensi untuk kemungkinan terjadi peningkatan harga obat memang ada," paparnya.

Prihatin menuturkan, gejolak pasokan obat sebenarnya sudah terasa jauh sebelum rupiah tertekan dan harga bahan bakar merangkak naik.

Saat itu, sejumlah distributor dilaporkan kesulitan menyediakan obat-obatan untuk pasien penyakit kronis, termasuk amlodipin dan klonidin yang banyak digunakan penderita hipertensi.

"Memang sudah ada beberapa obat yang kosong produksi. Apakah ini terkait langsung dengan proses terjadinya kenaikan dolar atau bukan, ini masih debatable juga," ungkapnya.

Namun, kondisi tersebut saat ini mulai membaik karena sejumlah rumah sakit kembali memperoleh pasokan obat dalam jumlah terbatas.

Saat obat tertentu sulit diperoleh atau harganya melambung, dokter biasanya akan merekomendasikan alternatif dengan efek terapi yang sama, kata Prihatin. Kendati demikian, langkah tersebut berpotensi menambah beban biaya kesehatan yang harus ditanggung pasien.

"Kalau substitusinya harganya lebih mahal, pastinya akan menaikkan biaya untuk mendapatkan pengobatan tersebut dan hal ini tentu saja tidak kita harapkan terjadi pada pelayanan kesehatan dan masyarakat," jelasnya.

Editorial Team

Related Article