ilustrasi gerobak wedang ronde (commons.wikimedia.org/DARMAS BS)
Suasana saat menikmati kedua hidangan ini pun membawa nostalgia yang berbeda. Di Salatiga, wedang ronde umumnya dinikmati di warung-warung menetap yang sudah berdiri puluhan tahun, salah satunya seperti Ronde Jago yang legendaris sejak 1964. Kenikmatannya makin lengkap saat disandingkan bersama camilan khas seperti pangsit goreng jadoel atau ampyang kacang.
Di kota Solo, kuliner hangat ini lebih mudah dijumpai pada gerobak dorong tradisional yang mangkal di sepanjang jalanan malam hari. Ronde Solo juga menjadi menu penutup favorit saat nongkrong di Hik (Angkringan Solo) maupun pusat kuliner malam Galabo.
Kedua variasi wedang ronde ini membuktikan betapa kayanya tradisi kuliner Nusantara. Mau versi Salatiga yang mantap pedasnya atau versi Solo yang manis dan meriah, semuanya punya keunikan masing-masing yang wajib dicicipi.
Dari kedua racikan di atas, mana nih varian wedang ronde yang paling pas dengan selera Wargi Kuliner? Tulis pilihan di kolom komentar dan bagikan artikel ini ke teman-teman seperjalanan!