Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sering Dikira Sama, Ini 4 Perbedaan Wedang Ronde Salatiga dan Solo!
Wedang Ronde. instagram.com/jogjakakilima
  • Kuah Wedang Ronde Salatiga terkenal pekat dan pedas menggigit, sedangkan Wedang Ronde Solo punya cita rasa lebih manis dan lembut di lidah.

  • Isian kacang tanah bola ronde Salatiga bertekstur crunchy kasar, beda dengan versi Solo yang diolah halus menyerupai pasta.

  • Wedang Ronde Solo tampil lebih meriah dengan aneka topping melimpah, sementara versi Salatiga mempertahankan gaya klasik yang minimalis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Malam hari pas cuaca dingin memang paling pas ditemani semangkuk wedang ronde hangat. Isian bola ketan kenyal berpadu kuah jahe yang manis pedas selalu sukses membuat badan jadi rileks kembali.

Namun, kalau kebetulan sedang jalan-jalan ke Jawa Tengah, jangan sampai keliru! Meski sekilas terlihat mirip, racikan Wedang Ronde Salatiga dan Wedang Ronde Solo punya perbedaan karakter yang sangat mencolok. Biar tidak penasaran, yuk simak beda mendasar dari kedua hidangan legendaris ini!

1. Karakter Kuah: Pedas Menggigit vs Manis Lembut

jahe (vecteezy.com/BAGUS SATRIYA ACHMAD ZAKARIA)

Perbedaan paling terasa terletak pada racikan kuah jahenya. Wedang Ronde Salatiga memakai jahe emprit tua yang digeprek dalam jumlah melimpah. Hasilnya, kuah berwarna cokelat keruh alami ini bertekstur pekat dan memberikan sensasi pedas hangat menggigit di tenggorokan—Sangat pas menghangatkan tubuh di tengah hawa dingin Salatiga di kaki Gunung Merbabu.

Sebaliknya, Wedang Ronde Solo menyajikan kuah yang cenderung bening kekuningan karena menggunakan jahe emprit yang disaring atau dipadukan dengan jahe gajah. Cita rasa manisnya jauh lebih dominan dan lembut, dengan sentuhan pedas jahe yang tipis serta ramah di lidah.

2. Isian Bola Ketan: Tekstur Crunchy vs Pasta Halus

ilustrasi membuat ronde isi kacang (vecteezy.com/romiximage)

Bola-bola ketan (ronde) dari kedua daerah ini juga diolah dengan cara yang sangat berbeda. Pada versi Salatiga, ukuran bola rondonya bervariasi. Uniknya, isian kacang tanah sangrai di dalam ronde besar ditumbuk kasar dan dicampur gula pasir, sehingga menciptakan tekstur renyah (crunchy) dan gurih saat digigit.

Sementara itu, bola ronde khas Solo hadir dengan ukuran yang seragam dan presisi. Kacang tanah di dalamnya ditumbuk sangat halus hingga menyerupai pasta kacang yang manis lembut, menyatu sempurna dengan kekenyalan kulit ketannya.

3. Ragam Pelengkap: Minimalis Klasik vs Meriah Komplet

Wedang Ronde (instagram.com/nia_annasiqie)

Soal urusan topping, Wedang Ronde Salatiga tetap setia pada konsep tradisional yang minimalis. Dalam semangkuk sajian, hanya ada bola ronde, kuah jahe, serta taburan kacang tanah sangrai utuh dan sesekali irisan kolang-kaling.

Beda halnya dengan Wedang Ronde Solo yang tampil sangat meriah. Seporsi ronde khas Solo diramaikan oleh aneka bahan pelengkap seperti roti tawar dadu, sagu mutiara merah, irisan kolang-kaling tipis, jeli hijau, hingga taburan emping melinjo mini.

4. Suasana Penjualan: Warung Legendaris vs Gerobak Malam

ilustrasi gerobak wedang ronde (commons.wikimedia.org/DARMAS BS)

Suasana saat menikmati kedua hidangan ini pun membawa nostalgia yang berbeda. Di Salatiga, wedang ronde umumnya dinikmati di warung-warung menetap yang sudah berdiri puluhan tahun, salah satunya seperti Ronde Jago yang legendaris sejak 1964. Kenikmatannya makin lengkap saat disandingkan bersama camilan khas seperti pangsit goreng jadoel atau ampyang kacang.

Di kota Solo, kuliner hangat ini lebih mudah dijumpai pada gerobak dorong tradisional yang mangkal di sepanjang jalanan malam hari. Ronde Solo juga menjadi menu penutup favorit saat nongkrong di Hik (Angkringan Solo) maupun pusat kuliner malam Galabo.

Kedua variasi wedang ronde ini membuktikan betapa kayanya tradisi kuliner Nusantara. Mau versi Salatiga yang mantap pedasnya atau versi Solo yang manis dan meriah, semuanya punya keunikan masing-masing yang wajib dicicipi.

Dari kedua racikan di atas, mana nih varian wedang ronde yang paling pas dengan selera Wargi Kuliner? Tulis pilihan di kolom komentar dan bagikan artikel ini ke teman-teman seperjalanan!

Curated For You

Editorial Team

Related Article