Sumbang Dilanda Banjir Lumpur, Warga Desak Tambang Pasir Blembeng Ditutup

- Warga Desak Penutupan Tambang Pasir Blembeng
- Ikan Mati dan Ketakutan Banjir Bandang
- Daerah Pertama yang Terdampak Kerusakan Lingkungan
Banyumas, IDN Times – Masyarakat Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, dihantui kecemasan akibat bencana banjir lumpur yang berulang kali menerjang pemukiman mereka. Aktivitas penambangan pasir di Dusun Blembeng, Desa Gandatapa, dituding menjadi biang kerok rusaknya ekosistem dan mengancam keselamatan jiwa warga di lereng Gunung Slamet.
1. Ikan Mati dan Ketakutan Banjir Bandang

Keluhan tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan masyarakat Sumbang, Rasiwen, dalam acara Gubernur Menyapa di Banyumas, Sabtu (14/2/2026). Ia memaparkan dampak nyata yang dialami warga akibat pekatnya lumpur yang terbawa aliran air.
Menurut Rasiwen, aktivitas tambang di wilayah hulu telah meracuni kolam-kolam warga. "Ikan-ikan di kolam pada mati semua karena keracunan lumpur pekat. Kami menduga kuat ini akibat aktivitas penambangan pasir di Dusun Blembeng," tuturnya dengan nada getir.
Lebih jauh, posisi geografis Kecamatan Sumbang yang berada di lereng gunung membuat warga merasa seperti tinggal di atas "bom waktu". Mereka khawatir penambangan yang terus berlangsung akan memicu bencana yang lebih besar seperti tanah longsor atau banjir bandang.
"Permohonan kami satu, hendaknya izin untuk penambangan pasir di Dusun Blembeng segera dicabut demi ketenangan kami semua," tegas Rasiwen.
2. Respons Wagub Taj Yasin: Segera Terjunkan Tim

Menanggapi kegelisahan tersebut, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), menegaskan komitmennya untuk segera melakukan peninjauan lapangan. Ia memastikan tidak akan berkompromi dengan aktivitas tambang yang terbukti membahayakan lingkungan.
“Itu nanti segera kita tinjau dan tangani. Saya setuju (ditutup) kalau memang membahayakan. Segera kita datangkan tim ke sana agar aktivitasnya paling tidak berhenti dulu sementara sembari koordinasi dengan pihak perizinan,” tegas Gus Yasin.
Pemprov Jateng sebelumnya juga telah melakukan langkah serupa di beberapa titik lereng Gunung Slamet untuk memastikan operasional tambang berjalan sesuai aturan tanpa mengorbankan keamanan warga sekitar.
3. Daerah pertama yang terdampak kerusakan lingkungan di wilayah hulu

Desa Sumbang merupakan pusat administrasi dari Kecamatan Sumbang. Desa ini terletak di sisi selatan lereng Gunung Slamet, yang menjadikannya sebagai kawasan penyangga (buffer zone) penting bagi keseimbangan ekosistem di wilayah Banyumas bagian utara.
Sebagian wilayahnya masih berupa hutan rakyat dan perkebunan yang berfungsi sebagai daerah resapan air untuk wilayah perkotaan Purwokerto.
Berada di ketinggian yang cukup bervariasi antara 200 hingga 500 mdpl. Kondisi tanahnya didominasi oleh tanah vulkanik subur hasil aktivitas Gunung Slamet.
Memiliki topografi bergelombang hingga miring. Hal ini membuat aliran air dari puncak gunung mengalir sangat cepat menuju wilayah hilir melalui sungai-sungai kecil yang membelah desa.
Sebagai desa yang berada di lereng bawah, Desa Sumbang menjadi titik pertama yang terdampak apabila terjadi kerusakan lingkungan di wilayah hulu (atasnya), seperti yang terjadi di Dusun Blembeng, Desa Gandatapa (tetangga terdekatnya).
Posisi Desa Sumbang berada lebih rendah dibanding titik-titik penambangan pasir. Hal ini menyebabkan sedimen sisa pencucian pasir atau tanah yang tergerus masuk ke aliran sungai dan berakhir di pemukiman warga.
Karena sektor ekonomi utama adalah perikanan, banjir lumpur adalah bencana fatal. Lumpur pekat menutupi insang ikan dan merusak kualitas air, yang mengakibatkan kematian massal ikan budidaya milik warga (seperti yang dikeluhkan dalam kasus Rasiwen).
Kontur kemiringan yang curam meningkatkan risiko banjir bandang jika terjadi sumbatan di bagian atas (akibat aktivitas manusia atau longsor alami).

















