Mengorbankan lingkungan demi target swasembada membawa kerugian tersembunyi yang harus dibayar dengan nyawa dan kesehatan rakyat. Analisis CREA membuktikan, PLTU mandiri industri (captive) menyumbang seperlima dari seluruh dampak buruk kesehatan akibat pembangkit batu bara di Indonesia.
Jika PLTU itu lolos dari target pensiun dini pada 2040, Indonesia akan menghadapi proyeksi tambahan 27.000 kematian dini dan kerugian ekonomi yang mencapai 20 miliar dolar AS (sekitar Rp330 triliun). Swasembada yang mematikan warganya sendiri adalah bentuk pertumbuhan ekonomi yang semu.
Di tingkat global, posisi industri Indonesia juga makin terjepit. Di satu sisi, menghadapi lonjakan ekspor dari Tiongkok yang diprediksi mencapai rekor 101 juta ton pada 2024, menekan harga dan utilisasi industri dalam negeri. Di sisi lain, kebijakan proteksionisme hijau dari negara-negara Barat, seperti Regulasi Baterai Uni Eropa, siap menolak produk yang berasal dari energi kotor. Oleh karena itu, tanpa transformasi, aluminium dalam negeri hanya akan berstatus komoditas murah di pasar sekunder.
Swasembada sejati tidak boleh hanya diukur dari jumlah produksi, tetapi juga dari kedaulatan teknologi dan keberlanjutan energi. Pemerintah harus segera mengambil langkah berani untuk menghindari jebakan ini melalui tiga intervensi utama. Yakni:
Reformasi Taksonomi Hijau: Menghapus kategori "kuning" bagi PLTU mandiri baru untuk menghentikan praktik manipulasi citra hijau (greenwashing).
Integrasi Jaringan Listrik Terpusat: Mempercepat interkoneksi transmisi kelistrikan agar pabrik peleburan dapat menyerap energi terbarukan dari jaringan PLN, sehingga tidak perlu membangun pembangkit batu baranya sendiri.
Standar Hijau Nasional: Menerapkan ambang batas emisi yang ketat agar aluminium domestik memiliki daya saing tinggi di pasar ekspor.
Pada akhirnya, kita harus berani menjawab satu pertanyaan mendasar: Apakah Indonesia sungguh-sungguh membangun industri masa depan yang mandiri, atau sekadar memindahkan ketergantungan pada sumber energi yang perlahan merusak kesehatan bangsa? Swasembada tanpa pijakan keberlanjutan hanyalah penangguhan krisis bagi generasi mendatang.