Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tarif Trump Ancam Industri di Jateng, Desak Pemerintah Negosiasi ke AS
ilustrasi pabrik garmen (pexels.com/Ivan Samkov)
  • Kebijakan tarif resiprokal AS sebesar 32 persen membuat industri padat karya di Jawa Tengah was-was, terutama garmen dan alas kaki.
  • Industri garmen seperti PT USG tetap optimistis menghadapi kebijakan kenaikan tarif ekspor, karena negara pesaing Indonesia juga mendapat tarif tinggi.
  • Industri alas kaki juga terdampak, namun belum ada rencana PHK bagi para pekerja sebagai langkah mitigasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang memberlakukan tarif resiprokal sebesar 32 persen untuk Indonesia membuat industri padat karya di Jawa Tengah was-was. Sebab, industri di sektor garmen, tekstil, hingga alas kaki itu memiliki pangsa pasar ekspor yang besar di AS.

1. Ada 80 persen produk garmen dikirim ke AS

Default Image IDN

Kepala HRD PT Ungaran Sari Garments (USG), Nur Arifin mengatakan, kebijakan tarif resiprokal dari 10 persen menjadi 32 persen yang diumumkan Presiden AS, Donald Trump ini menjadi tantangan yang luar biasa bagi industri garmen.

‘’Setelah kami bisa melewati pandemik COVID-19, ini muncul lagi tantangan baru dan bikin kami deg-degan. Sebab, pangsa pasar AS besar sekali. Sebanyak 80 persen produk buatan USG dikirim ke AS,’’ ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (11/4/2025).

Kendati demikian, industri garmen yang memiliki SDM sebanyak 18 ribu orang itu tetap optimistis menghadapi kebijakan kenaikan tarif ekspor tersebut. Sebab, negara-negara kompetitor Indonesia yang juga melakukan ekspor ke AS mendapat tarif yang lebih tinggi.

‘’Di tengah kesempitan harus dibangun kesempatan. Indonesia kena 32 persen tapi di negara lain pesaing Indonesia seperti Vietnam kena 46 persen, Bangladesh kena 37 persen. Ini artinya masih ada potensi order dari negara tersebut dialihkan ke negara kita,’’ kata Arifin.

2. PHK jadi pilihan terakhir

ilustrasi dikeluarkan dari perusahaan (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)

Namun, imbuh dia, permasalahan kenaikan tarif ekspor dari dari 10 persen ke 32 persen ini harus diselesaikan. Sebab, itu akan memengaruhi nilai atau harga jual produk di pasar AS naik, sedangkan kalau daya beli turun maka produk tidak terbeli secara keseluruhan.

‘’Kalau ini sampai terjadi, stok akan bertambah dan jumlah produksi akan berkurang. Ini bisa sangat bahaya dan berpotensi PHK bagi SDM kami. Namun, harapannya itu menjadi pilihan terakhir saja,’’ tandas Arifin.

Selain garmen, industri padat karya di Jateng yang bakal terdampak kebijakan tarif Trump adalah produsen alas kaki.

3. Industri alas kaki paling banyak terdampak

ilustrasi sepatu kulit (pexels.com/lukas)

Director of Responsible Sourcing and Manufacturing PT Selalu Cinta Indonesia, Adam Hatumena mengatakan, masalah yang dihadapi industri garmen sama dengan industri alas kaki.

‘’Kami sama-sama melakukan ekspor ke AS, dan pangsa pasar ke negara tersebut besar. Kekhawatiran kami, meskipun secara volume ekspor nonmigas ke AS 9,6 persen dan Cina lebih tinggi, tapi khusus di industri alas kaki ini ekspor ke AS volumenya 33-35 persen. Kami paling banyak terdampak dari kebijakan 32 persen karena industri padat karya,’’ ujarnya.

Kendati demikian, sebagai langkah mitigasi industri alas kaki belum ada rencana melakukan PHK kepada para pekerja.

‘’Saat ini kami masih wait and see. Namun, kami juga berharap segala perizinan industri padat karya yang terpusat bisa diserahkan ke daerah,’’ tutur Adam.

4. Pemprov minta masukan ke industri

Balinesia.id

Sementara itu, Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Jateng, Sudjarwanto Dwiatmoko mengatakan, pihaknya berupaya melakukan mitigasi terhadap kebijakan tarif ekspor yang diberlakukan Presiden AS, Donald Trump.

‘’Kami sedang meminta masukan dari industri, akademisi, dan Forkompinda di Jateng. Masukan ini akan kami lanjutkan ke pusat sebagai bahan negosiasi ke AS. Kami berharap negosiasi ini berhasil. Tidak harus kembali ke tarif 10 persen, tapi paling tidak lebih kompetitif,’’ katanya.

Menurut Sudjarwanto, apabila tidak ada perubahan atau penurunan tarif ekspor, dikhawatirkan daya beli masyarakat AS akan turun seiring harga produk mengalami kenaikan. Maka itu, pihaknya sangat berharap pemerintah pusat berhasil melakukan negosiasi.

Editorial Team

Related Article