Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Efek Samping Berbahaya Sering Lihat Video Sedih di TikTok ke Empat dan Emosi
ilustrasi aplikasi TikTok (freepik.com/Freepik)
  • Mati Rasa Emosional: Otak yang kebanjiran stimulus sedih secara terus-menerus akan membangun pertahanan diri sehingga membuat empati kamu di dunia nyata menjadi tumpul.

  • Empati Palsu (Pseudo-Empathy): Menangisi video orang asing di internet menguras kapasitas emosional kamu, sehingga kehabisan energi untuk peduli pada orang terdekat.

  • Standar Emosi yang Terdistorsi: Otak mulai menganggap bahwa kesedihan yang "valid" harus dramatis dan memiliki soundtrack, membuat kamu kesulitan memproses kesedihan personal yang terasa biasa saja.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebiasaan mengonsumsi konten melankolis atau sedih di TikTok secara terus-menerus bukan sekadar pelampiasan emosi biasa. Secara psikologis, hal ini dapat memicu fenomena yang disebut Kelelahan Empati (Compassion Fatigue) dan desensitisasi emosional.

Algoritma TikTok yang menyajikan puluhan video sedih berturut-turut dalam durasi singkat memaksa otak kamu melakukan validasi emosi secara instan dan berulang-ulang. Pada akhirnya, ritme ini justru merusak cara kamu memproses dan merespons emosi di dunia nyata.

Berikut adalah 4 bahaya tersembunyi dari kebiasaan tersebut.

1. Desensitisasi Emosi Akibat Doomscrolling

ilustrasi aplikasi TikTok (unsplash.com/Collabstr)

  • Kondisi Otak: Menonton puluhan video sedih dalam satu waktu membuat otak kebanjiran stimulus melankolis yang intens.

  • Efek Samping: Otak pada akhirnya menjadi kebas atau mati rasa (numb) sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri agar kamu tidak ikut jatuh ke dalam jurang depresi.

  • Dampak Nyata: Di dunia nyata, kamu menjadi lebih dingin, sulit tersentuh, dan empati kamu menumpul bahkan ketika melihat orang terdekat sedang kesusahan.

2. Validasi Emosi yang Menjadi "Komoditas" Digital

ilustrasi aplikasi TikTok (unsplash.com/Aaron Weiss)

  • Distorsi Makna: Di TikTok, sebuah kesedihan divalidasi lewat tombol like, riuhnya kolom komentar, atau balutan musik latar yang dramatis.

  • Efek Samping: Otak kamu mulai mengasosiasikan bahwa validasi emosi harus disertai dengan visualisasi yang estetis atau reaksi penonton.

  • Dampak Nyata: Kamu akan kesulitan memvalidasi kesedihan asli kamu sendiri yang sering kali terasa "biasa saja", sunyi, dan jauh dari kata dramatis seperti yang ada di layar HP.

3. Jebakan Echo Chamber Emosi Negatif

ilustrasi aplikasi TikTok (freepik.com/Freepik)

  • Kerja Algoritma: Semakin lama kamu berhenti dan menonton video sedih, algoritma akan membaca itu sebagai minat dan terus menyuapi kamu dengan konten sejenis.

  • Efek Samping: Otak perlahan terjebak dalam bias kognitif, menganggap bahwa dunia ini hanya berisi penderitaan dan tidak ada lagi ruang untuk bahagia.

  • Dampak Nyata: Kemampuan kamu untuk bangkit dari kesedihan (resilience) melemah drastis karena pikiran kamu terus-menerus dipapar oleh narasi keputusasaan.

4. Pseudo-Empathy (Empati Palsu) yang Melelahkan

Menonton video TikTok

  • Ilusi Peduli: Merasa sedih dan ikut menangis saat menonton video TikTok memberikan ilusi bahwa kamu adalah manusia yang sangat peka dan berempati tinggi.

  • Efek Samping: Sadar atau tidak, energi emosional kamu habis terkuras untuk memikirkan orang asing di internet yang bahkan tidak kamu kenal di kehidupan nyata.

  • Dampak Nyata: Saat energi itu sudah habis di dunia maya, kamu tidak lagi memiliki sisa kapasitas emosional (emotional capacity) untuk sekadar mendengarkan keluh kesah sahabat atau keluarga.

Cara Memperbaiki Algoritma dan Mengembalikan Kapasitas Emosimu

tampilan aplikasi TikTok (unsplash.com/Collabstr)

Jika merasa algoritma HP kamu sudah mulai dipenuhi konten-konten melankolis, mari kita perbaiki polanya dengan langkah taktis berikut:

  • Gunakan Tombol "Tidak Tertarik": Setiap kali video melankolis atau sadcore lewat di FYP, tahan layar (long press) dan ketuk opsi Tidak Tertarik (Not Interested). Ini akan melatih ulang algoritma dengan cepat.

  • Beri Makan Algoritma secara Sadar: Segera cari (search) dan tonton video-video dengan nuansa positif sampai habis. Pilih video komedi, tutorial memasak, hewan lucu, atau edukasi agar feed kamu kembali netral.

  • Batasi Screen Time: Gunakan fitur pembatas waktu aplikasi di HP kamu untuk mencegah doomscrolling tanpa sadar.

  • Lakukan Detoksifikasi Media Sosial: Ambil jeda libur dari TikTok selama 24 hingga 48 jam. Gunakan waktu tersebut untuk berinteraksi langsung dengan manusia di kehidupan nyata demi mengembalikan fungsi empati alami kamu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article