Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tiongkok Jadi Penyebab Neraca Perdagangan Barang di Jateng Defisit

Tiongkok Jadi Penyebab Neraca Perdagangan Barang di Jateng Defisit
ilustrasi data laporan keuangan (Freepik.com/fabrikasimf)
Intinya Sih
  • Jawa Tengah mengalami defisit perdagangan barang sebesar 327,27 juta dolar AS pada bulan September 2024.
  • Amerika Serikat menjadi negara penyumbang surplus terbesar, disusul oleh Jepang dan Belanda.
  • Impor dari Tiongkok menyebabkan defisit karena lebih banyak daripada ekspor ke negara tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Semarang, IDN Times - Neraca perdagangan barang pada bulan September 2024 di Jawa Tengah mengalami defisit sebesar 327,27 juta dolar AS. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat kondisi itu berbeda dengan bulan sebelumnya yang mengalami surplus. 

1. Ekspor ke Amerika Serikat lebih besar dari impor

PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) Cabang Pelabuhan Dumai (Dok. SPMT)
PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) Cabang Pelabuhan Dumai (Dok. SPMT)

Kepala BPS Jateng, Endang Tri Wahyuningsih mengatakan, ada tiga negara penyumbang surplus terbesar.

Pertama adalah Amerika Serikat, dengan penyumbang surplus utama berupa pakaian dan aksesori rajutan (HS 61), pakaian dan aksesori bukan rajutan (HS 62), serta perabotan, lampu, dan alat penerangan (HS 94).

"Neraca perdagangan ke Amerika Serikat mengalami surplus dengan nilai sebesar 302,80 juta dolar AS. Jadi, ekspor kita ke Amerika Serikat lebih besar daripada impornya," ungkapnya dalam siaran pers secara daring, Selasa (15/10/2024).

2. Ekspor ke Jepang surplus

ilustrasi pelabuhan peti kemas (freepik.com)
ilustrasi pelabuhan peti kemas (freepik.com)

Selanjutnya, Jepang juga menunjukkan surplus sebesar 63,30 juta dolar. Penyumbang terbesar dari Jepang adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), diikuti oleh pakaian dan aksesori bukan rajutan (HS 62) dan pakaian dan aksesori rajutan (HS 61).

Sementara itu, Belanda mencatat surplus sebesar 22,66 juta dolar AS, dengan penyumbang utama berupa alas kaki (HS 64), perabotan, lampu, dan alat penerangan (HS 94), serta kayu dan barang dari kayu (HS 44).

Di sisi lain, tiga negara penyumbang defisit terbesar mencakup Tiongkok, yang mengalami defisit sebesar 271,56 juta dolar AS.

‘’Defisit ini karena Jawa Tengah lebih banyak mengimpor dibandingkan mengekspor ke Tiongkok, dengan penyumbang defisit terbesar dari negara tersebut berupa mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84), mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), dan kendaraan serta bagiannya,’’ jelas Endang.

3. Ekspor Jateng September turun 13,64 persen

Ilustrasi Ekspor. (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi Ekspor. (IDN Times/Aditya Pratama)

Sementara, ekspor Jateng pada September 2024 juga mengalami penurunan 13,64 persen dibanding ekspor pada Agustus 2024, yaitu dari 1.033,05 juta dolar AS menjadi 892,18 juta dolar AS.

‘’Namun jika dibandingkan dengan ekspor September 2023 naik sebesar 13,38 persen. Penurunan ekspor pada September 2024 ini jika dibandingkan bulan sebelumnya disebabkan oleh turunnya ekspor migas dan nonmigas. Ekspor migas mengalami penurunan sebesar 45,94 persen, dari 67,78 juta dolar AS di bulan Agustus menjadi 36,64 juta dolar AS di September,’’ katanya.

Kemudian, imbuh dia, ekspor nonmigas mengalami penurunan sebesar 11,37 persen, dari 965,27 juta dolar AS di Agustus menjadi 855,54 juta dolar AS pada September. Penurunan ekspor migas disebabkan oleh turunnya ekspor hasil minyak. Sementara pada bulan yang
sama tidak ada ekspor gas, gas alam dan minyak mentah.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
ANGGUN PUSPITONINGRUM
EditorANGGUN PUSPITONINGRUM

Latest News Jawa Tengah

See More