Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Elpiji 3 Kg dan Kopi Bubuk Picu Inflasi September 2024 di Jateng

Elpiji 3 Kg dan Kopi Bubuk Picu Inflasi September 2024 di Jateng
Ilustrasi warga membeli gas LPG. (IDNTimes/Dicky)
Intinya Sih
  • Jateng mengalami inflasi 0,05 persen pada September 2024.
  • Elpiji 3 kg dan kopi bubuk menjadi kontributor utama inflasi.
  • Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil terbesar pada inflasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Semarang, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Jawa Tengah mengalami inflasi pada bulan September 2024 sebesar 0,05 persen. Komoditas yang berkontribusi besar dalam inflasi ini antara lain elpiji 3 kg dan kopi bubuk.

1. Penyesuaian HET elpiji 8 kg

Ilustrasi LPG 3 kilogram (IDN Times/Istimewa)
Ilustrasi LPG 3 kilogram (IDN Times/Istimewa)

Kepala BPS Jawa Tengah, Endang Tri Wahyuningsih mengatakan, setelah mengalami deflasi selama empat bulan berturut-turut, pada bulan September ini Jateng terjadi inflasi. Adapun, inflasi ini dipengaruhi oleh beberapa kelompok pengeluaran sebagaimana andil terbesar diberikan oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan nilai andil inflasi 0,08 persen.

“Bahan bakar rumah tangga menyumbang cukup besar karena adanya Keputusan Gubernur Jawa Tengah nomor 540/20 tahun 2024. Sehingga, terjadi penyesuaian harga eceran tertinggi (HET) untuk elpiji tabung 3 kg,” ungkapnya dalam siaran pers secara hybrid, Selasa (1/10/2024).

Selain elpiji 3 kg, komoditas yang memiliki andil besar dalam inflasi bulan September 2024, yaitu kopi bubuk, akademi atau perguruan tinggi, beras, dan minyak goreng.

Menurut Endang, kopi bubuk mempunyai andil besar karena produksi dunia sedang turun sementara permintaan sangat tinggi.

2. Penurunan harga cabai picu deflasi

Ilustrasi cabai (unsplash.com/tanushreerao)
Ilustrasi cabai (unsplash.com/tanushreerao)

‘’Kemudian, komoditas beras juga punya andil dalam inflasi meskipun tidak terlalu tinggi. Sebab, beras banyak dikonsumsi masyarakat Jateng,’’ tuturnya.

Untuk penyumbang deflasi adalah sejumlah kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini perlu mendapat perhatian lebih serius karena dapat menjadi penyebab deflasi maupun inflasi karena harganya fluktuatif.

‘’Penyebab deflasi ini disebabkan karena penurunan harga cabai rawit dan cabai merah. Sebab, telah terjadi panen raya sehingga stok melimpah. Selain itu, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bensin juga turut andil penyumbang deflasi,’’ jelasnya.

3. Inflasi masih dalam jangkauan yang disepakati

ilustrasi inflasi (Freepik.com/nidashoaiba)
ilustrasi inflasi (Freepik.com/nidashoaiba)

Sementara, Sekretaris Daerah Provinsi Jateng, Sumarno yang hadir pada kesempatan tersebut menyampaikan, inflasi September di Jateng ini baik tahunan maupun bulanan masih dalam jangkauan yang disepakati bersama.

“Termasuk inflasi dari bahan bakar rumah tangga, kita sudah menyesuaikan harga gas elpiji. Mudah-mudah dengan kebijakan ketetapan harga bahan bakar rumah tangga kedepan dampak-dampak dari inflasi menjadi lebih terkendali,” katanya.

Sumarno meminta, kepada para pemangku kepentingan untuk terus melakukan pemantauan harga komoditas pemyumbang inflasi maupun deflasi, terutama harga komoditas pangan dan kecukupan ketersediaan pangan di Jateng.

“Kita dengan Kementerian Pertanian juga sedang gencar- gencarkan memperluas areal taman, karena harus ada upaya untuk meningkatkan produktivitas pangan,” tandasnyan.

Share Article
Topics
Editorial Team
ANGGUN PUSPITONINGRUM
EditorANGGUN PUSPITONINGRUM

Latest News Jawa Tengah

See More