Semarang, IDN Times - Pelaksanaan kegiatan makan bergizi gratis (MBG) yang ada saat ini belum terserap sepenuhnya di lingkungan pondok pesantren (Ponpes). Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan menyebutkan baru ada 7 persen ponpes yang menerima MBG.
Ia mengaku ini jadi hal aneh lantaran sebaran ponpes se-Indonesia tergolong sangat banyak.
"Ini bener gak ya laporannya. Kami ungkapkan bapak ibu bahwa jumlah pondok pesantren yang menerima MBG baru 7 persen dengan jumlah stunting masih mencapai 12 persen," kata Zulhas, sapaan akrabnya, saat memaparkan data capaian kegiatan MBG periode 2025-Februari 2026 di Gradhika Bhakti Praja Jalan Pahlawan Semarang, Selasa (3/3/2026).
Lebih lanjut lagi, tahun ini jumlah penerima manfaat MBG seluruh Indonesia sudah 82,9 juta jiwa.
Zulhas mengklaim tahapan pemberian gizi memberikan dampak yang nyata terutama pada serapan konsumsi telur.
Jika satu anak mengonsumsi telur per hari, katanya maka seluruh Indonesia butuh konsumsi 82,9 juta telur per hari.
"Yang tahun ini akan penerima manfaat 82,9 juta. Nah, setelah memberikan gizi akan dapat dampak luar biasa. Kalau setiap anak butuh satu telur sehari, berarti di Indonesia butuh 82,9 juta telur," jelasnya.
Selain itu, kegiatan MBG tahun ini sedang dirancang supaya terintegrasi dengan kopdes merah putih. Sehingga untuk bahan baku MBG, masing-masing dapur SPPG bisa menjalin kerjasama dengan kopdes.
"Oleh karena itu lahirlah kopdes juga. Nanti SPPG kerjasamanya dengan kopdes kopdes desa dan kelurahan. Koperasi ini akan berfungsi sebagai supliyer. Ini cita-cita Indonesia untuk kemakmuran bangsa," paparnya.
Ia mengharapkan konsep MBG yang menjalin kemitraan perlu diperluas. Sehingga pusat pergerakan perekonomian tidak hanya terpaku pada satu titik saja.
Ia juga berkata konsep MBG maupun kopdes ini seperti yang dijalankan Presiden Kedua Indonesia Soeharto saat era Orde Baru.
"Ini kondisinya seperti zaman Pak Harto. Sehingga ekonomi kerakyatan inilah yang akan dikembalikan oleh Presiden Prabowo. Jadi tidak boleh terkonsentrasi. Karena harus memperluas patnership," terangnya.
