Ekonomi Jateng 2025 Tumbuh 5,37 Persen, Lampaui Angka Nasional

- Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mencapai 5,37 persen, melampaui pertumbuhan nasional
- Inflasi terkendali, optimisme konsumen tinggi, dan kesejahteraan petani serta nelayan meningkat
- Realisasi pendapatan negara, rekor penyerapan gabah, dan dukungan UMKM menunjukkan kinerja fiskal yang solid
Semarang, IDN Times – Perekonomian di Jawa Tengah sepanjang tahun 2025 menunjukkan kinerja yang solid dengan tren pertumbuhan yang semakin menguat. Pada triwulan III 2025, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tercatat mencapai 5,37 persen secara tahunan (year-on-year/y-o-y), lebih tinggi dibandingkan triwulan II yang tumbuh 5,28 persen (y-o-y).
1. Inflasi terkendali dan optimisme konsumen

Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Tengah, Bayu Andy Prasetya mengatakan, capaian tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang pada periode sama justru mengalami perlambatan. Menurutnya, kondisi tersebut memberikan fondasi yang kuat bagi keberlanjutan pembangunan ekonomi daerah.
“Hingga akhir tahun anggaran, kinerja perekonomian Jawa Tengah menunjukkan capaian yang semakin menguat dan kondusif,” katanya dalam keterangan resmi di Semarang, Rabu (28/1/2026).
Stabilitas ekonomi juga tercermin dari tingkat inflasi tahunan Jawa Tengah yang tercatat sebesar 2,72 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,92 persen. Inflasi terendah terjadi di Kabupaten Rembang sebesar 2,47 persen, sedangkan tertinggi di Kota Semarang sebesar 2,84 persen.
Optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi juga masih tinggi. Hal itu ditunjukkan oleh Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2025 yang berada di angka 115,8 atau berada di level optimis, di atas 100.
Kesejahteraan petani dan nelayan turut menunjukkan tren positif. Nilai Tukar Petani (NTP) meningkat menjadi 117,57 pada Desember 2025. Kenaikan ini disebabkan oleh Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 2,22 persen, lebih cepat dibanding kenaikan indeks yang dibayar (Ib). Sementara itu, Nilai Tukar Nelayan (NTN) tumbuh 0,57 persen menjadi 99,93.
2. Kinerja fiskal APBN dan APBD

Dalam menjaga stabilitas fiskal, realisasi Pendapatan Negara di Jawa Tengah hingga 31 Desember 2025 mencapai Rp117,46 triliun atau 89,78 persen dari target. Angka itu didorong oleh penerimaan Bea Cukai sebesar Rp59,85 triliun, Pajak sebesar Rp49,57 triliun, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang mencatatkan kinerja impresif sebesar Rp8,06 triliun atau 135,78 persen dari target.
Dari sisi pengeluaran, Belanja Negara terealisasi sebesar Rp105,61 triliun. Sebanyak Rp69,26 triliun di antaranya merupakan Transfer ke Daerah (TKD).
Dana TKD memiliki peran krusial dengan berkontribusi sebesar 63,00 persen dari total pendapatan APBD yang terealisasi.
3. Rekor penyerapan gabah dan dukungan UMKM

Jawa Tengah juga mencatatkan prestasi sebagai kontributor strategis pangan nasional. Sepanjang 2025, realisasi penyerapan gabah dan beras oleh Perum BULOG mencapai 331.618 ton setara beras.
Capaian tersebut merupakan yang tertinggi dalam enam tahun terakhir. Adapun, penyerapan terkonsentrasi di sentra produksi utama seperti Grobogan, Demak, Banyumas, Kendal, dan Boyolali.
Selain itu, Kemenkeu I Jawa Tengah terus memperkuat sektor riil melalui penyaluran kredit program. Secara kumulatif, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp47,07 triliun untuk 897.004 debitur, dengan penyaluran terbanyak di Kabupaten Pati. Sementara itu, Kredit Ultra Mikro (UMi) tersalurkan sebesar Rp1,46 triliun, dengan penyaluran tertinggi di Kabupaten Brebes.
“Dukungan pembiayaan yang semakin mudah diakses tidak hanya membantu keberlanjutan usaha mikro dan kecil, tetapi juga mendorong peningkatan skala usaha, penyerapan tenaga kerja, serta penguatan posisi produk lokal,” pungkas Bayu.


















