2.655 Guru Baru dari UIN Walisongo, Siap Hadapi Tantangan Zaman?

- Sebanyak 2.655 lulusan PPG UIN Walisongo Semarang resmi dikukuhkan sebagai guru profesional dari berbagai bidang pendidikan Islam, siap mengabdi di daerah masing-masing.
- Rektor Prof Musahadi menegaskan pentingnya guru berkarakter kuat dan adaptif terhadap tantangan teknologi, disrupsi informasi, serta perubahan sosial demi pembelajaran yang inklusif dan berkeadilan.
- Program PPG didukung kolaborasi pemerintah pusat-daerah melalui APBN dan APBD, sejalan dengan kebijakan Kemenag untuk meningkatkan kesejahteraan, kompetensi, dan dukungan digital bagi guru madrasah.
Semarang, IDN Times - UIN Walisongo Semarang telah mengukuhkan sebanyak 2.655 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagai tenaga guru, Sabtu (27/7/2026).
Para lulusan tersebut berasal dari berbagai lini strategis pendidikan Islam, mulai dari Guru Kelas RA (GKRA), Guru Kelas MI (GKMI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Bahasa Arab, Fikih, hingga Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).
Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof Musahadi mengingatkan bahwa profesionalisme seorang guru tidak cukup hanya dibuktikan selembar sertifikat.
Di era modern ini, guru memiliki peran besar sebagai penjaga peradaban, pembentuk karakter, dan motor penggerak perubahan sosial.
"Kami berkomitmen menyiapkan guru yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga kokoh secara moral dan kuat secara karakter. Saat ini, guru dihadapkan pada tantangan teknologi, disrupsi informasi, perubahan sosial, serta persoalan generasi muda yang kian kompleks. Karena itu, lulusan PPG harus mampu menghadirkan pembelajaran yang bermutu, inklusif, dan berkeadilan," kata Musahadi dalam keterangan yang diterima IDN Times, Senin (29/7/2026).
Ia juga menambahkan bahwa guru masa kini tidak boleh sekadar mentransfer pengetahuan atau mengikuti perubahan. Melainkan harus menginspirasi, menanamkan nilai-nilai luhur, dan turut menjadi penentu arah perubahan.
Langkah besar program PPG diwujudkan berkat kolaborasi erat melalui pembiayaan APBN dan APBD antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi.
Pesan penguatan juga selaras dengan arah kebijakan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama RI. Dalam cetak biru peningkatan mutu pendidikan madrasah, terdapat tiga agenda utama yang menjadi pilar: guru harus disejahterakan, diperkuat kompetensinya, dan didukung penuh melalui layanan digital guna memudahkan pengembangan profesi.
"Peserta didik mustahil mencapai kompetensi tinggi jika gurunya tidak diberi ruang dan dukungan yang memadai untuk terus berkembang," akunya.
Oleh sebab itu, program peningkatan kualifikasi, sertifikasi, serta keprofesian berkelanjutan berbasis digital kini terus dikebut oleh ekosistem pendidikan.
Sebagai ujung tombak pembelajaran, guru hari ini dituntut adaptif menghadapi kebutuhan siswa yang makin beragam. Mulai dari penguatan literasi, numerasi, pendidikan inklusif, kemampuan digital, hingga implementasi pembelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata.
"Ini menjadi pengingat bahwa sejatinya pendidikan tidak hidup di atas kertas kebijakan atau dokumen semata. Pendidikan itu hidup dan berdenyut di dalam ruang-ruang kelas melalui guru yang mengajar dengan sabar, menegur dengan bijak, serta menanamkan harapan baru," paparnya.
Untuk saat ini 2.655 guru profesional baru siap kembali ke daerah masing-masing, membawa tanggung jawab baru sebagai bagian dari gerakan panjang untuk memperbaiki mutu pendidikan Indonesia.

















