Duh! 254 Pabrik Manufaktur di Jateng Per Tahun Hasilkan 616 Ribu Ton Limbah Beracun
.jpg)
Semarang, IDN Times - Sebanyak 254 pabrik manufaktur yang beroperasi di Jawa Tengah diketahui telah menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) mencapai 616 ribu ton saban tahun.
1. Pandemik melandai, limbah B3 bertambah

Menurut Kepala Seksi Pencemaran dan Pengendalian Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah, Marnang Haryoto limbah B3 mengalami peningkatan menyusul mulai membaiknya situasi di sektor industri setelah 2,5 tahun lamanya dihantam pandemik COVID-19.
"Jadi karena pandemik mulai mereda, kondisi ekonomi di wilayah Jawa Tengah juga berangsur pulih, kegiatan industri sedikit demi sedikit normal, maka tentunya ada penambahan jumlah limbah B3 yang dihasilkan," kata Marnang saat berada di Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) Kecamatan Tugu, Semarang belum lama ini.
2. Limbah B3 yang dihasilkan ada yang nyaris 1 juta ton

Ia mengungkapkan total saat ini terdapat 156 usaha yang bergerak di bidang agroindustri, 56 usaha pertambangan, 504 usaha prasarana, kemudian 71 industri jasa dan 77 industri di bidang fasilitas pelayanan kesehatan atau fasyankes.
Berdasarkan catatan DLHK, imbuhnya volume limbah B3 yang dihasilkan pun bervariasi. Mulai limbah agroindustri mencapai 55 ribu ton, limbang tambang sebanyak 959 ribu ton, limbah jasa sebanyak 354 ribu ton serta limbah industri fasyankes sebanyak 1.000 ton.
"Kalau dilihat secara keseluruhan maka ada 1.118 usaha yang ada di Jateng. Potensi limbahnya yang musti dikelola sangat beragam," terangnya.
3. Ratusan perusahaan diawasi DLHK Jateng

Saat ini, ia menyatakan banyak pabrik yang ekspansi ke Jawa Tengah turut menyumbang penambahan volume limbah B3. Pabrik yang dimaksud Marnang kini telah eksodus ke beberapa titik Kabupaten Brebes, Kabupaten Jepara, Kabupaten Boyolali.
Meski begitu, ia menekankan sekitar 63 perusahaan saat ini mendapat pengawasan dari pihaknya bahkan ada empat perusahaan yang ditindak tegas lantaran melanggar aturan pengelolaan limbah industri.
"Rata-rata kalau bicara soal pelanggarannya dari tahun kemarin sampai sekarang paling banyak muncul di Sukoharjo. Ada 63 unit perusahaan yang kita awasi. Terus empat lainnya dikenai sanksi administratif," terangnya.
Di KIW Tugu, pihaknya pun turut mengecek pabrik-pabrik yang bergerak di sektor pengelolaan limbah B3. Salah satunya meninjau peresmian pabrik PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) sebagai satu dari lima pabrik pengolah limbah B3 di Jawa Tengah.
4. PPLI tergiur potensi limbah di Semarang

General Manager PPLI, Yurnalisdel menilai sampai sekarang potensi limbah industri di Semarang terbilang besar. Ia memilih Ibukota Jateng sebagai lokasi pembangunan pabriknya lantaran kepengin mendekatkan diri dengan para pelaku industri. "Kami ada di Semarang untuk meningkatkan pangsa pasar. Harapan kita bisa menaikan dua kali lipat marketnya," ungkapnya.
Selama ini sudah ada 30 perusahaan yang sudah bermitra dengan PPLI. Adapun pengolahan limbah tersebut dilakukan di Cileungsi. PPLI menjadi perusahaan pengolah limbah B3 yang berada di Indonesia selama 28 tahun.
Pabriknya memiliki layanan multifungsi sebagai pengangkut, pengolah sekaligus penimbunan. 95 persen sahamnya dimiliki perusahaan asal Jepang, Dowa Eco System Co.Ltd.
Diakuinya bahwa penanganan limbah B3 memang memerlukan pemahaman yang sama antara penghasil limbah, pelaku industri, dan regulator. Sedangkan perusahaan pengolah limbah harus memiliki komitmen yang kuat dalam melakukan pengolahan secara benar dan tidak mencemari lingkungan.
Ia saat ini mendorong pemerintah memperketat pengawasan terhadap industri pengolah limbah. “Tujuannya agar industri benar-benar mengelola limbahnya secara baik," pungkasnya.



















