Bagi Assyfa Octaviyani Istiqomah, seorang pebisnis frequent flyer Muslim asal Indonesia yang sering menghabiskan waktu di udara, persiapan penerbangan jarak jauh (long-haul) tidak melulu soal memesan tiket atau mengemas koper. Sebagai seorang pelancong Muslim, ia sering diwarnai satu kekhawatiran yang spesifik: "Apakah saya bisa mendapatkan makanan halal di atas pesawat nanti?"
Jika terbang dengan maskapai asal Timur Tengah, tentu memberikan garansi makanan halal secara default. Namun, bagaimana jika jadwal, rute, atau preferensi bisnis mengharuskan pelancong terbang dengan maskapai internasional di luar kawasan tersebut? Di situlah kecemasan biasanya muncul.
Hal itu beralasan mengingat di industri penerbangan internasional di luar Timur Tengah, makanan halal sering kali masih dipandang sekadar sebagai permintaan khusus yang rawan mengalami kesalahan logistik atau kontaminasi silang. Realitas itu diakui secara luas, mengingat kesalahan kecil saja dalam rantai pasok katering dapat melanggar prinsip diet religius yang dijaga oleh jutaan penumpang.
Di sisi lain, lanskap pariwisata Muslim global kini justru tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang masif. Merujuk pada data Global Muslim Travel Index, pengeluaran wisatawan Muslim diproyeksikan akan menembus angka US$225 miliar pada tahun 2028.
Dengan volume pasar sebesar itu, maskapai premium seperti Singapore Airlines (SIA) menyadari bahwa inklusivitas kuliner bukan lagi sekadar pelengkap layanan, melainkan sebuah kewajiban strategis. Kesadaran tersebut sejalan dengan visi CEO SIA, Goh Choon Phong.
Dalam laporan tahunan terbaru SIA, ia menyatakan kesuksesan maskapai berakar pada kapabilitas digital yang terdepan di industri. Dalam konteks katering halal, kapabilitas digital itulah yang menjadi solusi untuk memastikan rantai pasok bisa terlacak secara presisi tanpa adanya kontaminasi silang, untuk mewujudkan nilai layanan yang konsisten bagi setiap penumpang--salah satunya Assyfa--melintasi rute global.
