Gema Syiar Sekaten (Syiar Ekonomi Syariah dan Pesantren) 2026 yang digelar Bank Indonesia Solo. (IDN Times/Larasati Rey)
Dampak ekonomi dalam gelaran ini juga terlihat dari layanan penukaran uang logam yang dibuka BI Solo. Masyarakat membawa koin yang selama ini tersimpan di celengan maupun hasil uang kembalian untuk ditukarkan.
Dalam dua hari pertama, Jumat dan Sabtu, total uang logam yang berhasil dihimpun mencapai sekitar Rp15 juta dari lebih dari 36 ribu keping.
Pada Jumat, masyarakat menukarkan sekitar Rp6 juta dari 14.810 keping. Jumlah tersebut meningkat pada Sabtu menjadi sekitar Rp9 juta dari 21.309 keping. Pecahan Rp500 dan Rp200 menjadi uang logam yang banyak dibawa masyarakat.
Bahkan, ada warga yang datang membawa sejumlah kantong berisi koin dengan nilai sekitar Rp2,3 juta dalam satu kali penukaran.
BI Solo juga memberikan apresiasi berupa minyak goreng kemasan 1 liter bagi masyarakat yang menukarkan sedikitnya 100 keping uang logam. Karena tingginya animo warga, kuota minyak goreng yang semula 40 liter per hari ditambah menjadi 60 liter.
Koin yang terkumpul selanjutnya akan disortir. Uang logam yang masih layak edar akan kembali didistribusikan melalui perbankan, sedangkan uang yang sudah tidak layak edar akan ditarik dari peredaran sesuai prosedur Bank Indonesia.
Sementara itu, Wali Kota Surakarta Respati Ardi menilai penguatan ekonomi syariah dapat berjalan beriringan dengan pengembangan sektor pariwisata.
Pemkot Solo, kata dia, tengah menyiapkan Kampung Wisata Batik Kauman sebagai salah satu kawasan yang diarahkan menjadi destinasi wisata halal. Strategi tersebut diharapkan dapat menangkap peluang meningkatnya kunjungan wisatawan, termasuk wisatawan dari negara-negara dengan pasar muslim yang besar.
Pemkot juga mendorong UMKM meningkatkan kualitas kemasan dan melakukan upselling agar mampu menyasar konsumen dengan daya beli lebih tinggi.
Ke depan, Solo juga diarahkan menjadi kota wellness pada 2030 dengan pengembangan wisata kesehatan, olahraga, spa, hingga fasilitas medis.
“Kalau ekosistemnya dibangun bersama, UMKM tidak hanya menjadi penonton, tetapi bisa menjadi bagian dari rantai ekonomi yang lebih besar,” ujar Respati.
Dengan capaian transaksi miliaran rupiah dan puluhan ribu pengunjung, Gema Syiar Sekaten 2026 menjadi salah satu momentum untuk memperlihatkan bahwa ekonomi syariah dapat memberikan kontribusi nyata terhadap perputaran ekonomi daerah, khususnya bagi UMKM dan sektor usaha berbasis komunitas di Soloraya.