Bagi segelintir orang, datangnya hujan dianggap marabahaya. Namun bagi Slamet Mulyono, hujan adalah pulung.
Artinya, semakin sering hujan diakuinya justru membawa berkah bagi sopir bajaj Maxride seperti dirinya lantaran orderan tambah banyak.
“Kalau hujan, sebentar saja bisa dapat Rp200 ribu sampai Rp300 ribu,” ujar Slamet saat acara Apresiasi 10 Driver Maxride Terbaik Kota Semarang di Kampung Kecil Resto Semarang belum lama ini.
Ia pun berhasil membalikan fakta bahwa profesi sopir bajaj dulunya kerap disepelekan, belakangan justru bisa membelalakan mata. Musababnya, penghasilannya sebagai sopir bajaj di Kota Semarang mampu meningkat berlipat-lipat.
Slamet sanggup membuktikan bahwa sebuah kerja keras bisa menuai hasil maksimal.
Warga Ngablak Indah 2, Kecamatan Genuk tersebut menekuni pekerjaan sebagai sopir bajaj Maxride sejak enam bulan terakhir. Terhitung per September 2025 sampai Februari 2026 dirinya sibuk wara-wiri di jalanan Semarang untuk menjemput orderan.
Saban hari dirinya mendapat penghasilan Rp250 ribu. Sedangkan rata-rata per minggu dirinya bisa mendapatkan penghasilan melebihi Rp1 juta. Berkat keuletannya, Slamet sedikit demi sedikit bisa membayar utangnya.
"Sangat membantu menghidupi keluarga dan menutup semua utang. Penghasilan bersih seminggu bisa lebih dari Rp1 juta," ungkap Slamet.
Selama enam bulan, apabila ditotal keseluruhan penghasilan Slamet sebagai sopir bajaj Maxride mencapai Rp36.220.820.
Slamet mengakui dirinya kerap mengejar target orderan. "Ya sejak September sampai Februari bisa dapetin 1.976 orderan. Ini hasilnya dua kali lipat ketimbang kondisi habis pandemik," kata pria 45 tahun ini.
Kisah perjuangan Slamet yang berjibaku jadi sopir bajaj Maxride akhirnya menempatkan namanya di posisi teratas dalam ajang 10 Driver Bajaj Maxride Terbaik Kota Semarang.
Keberhasilannya meraup cuan berjuta-juta berkat semangat kerja serta tidak memilih penumpang maupun rute.
Ia menyebut kawasan pusat Kota Semarang seperti Jalan Pemuda dan Simpang Lima sebagai rute paling ramai, dengan mayoritas penumpang berasal dari kalangan anak muda.
“Antara Pemuda sampai Simpang Lima aplikasinya sering bunyi. Kalau perjalanan jauh biasanya ke arah Tlogosari. Rata-rata penumpangnya anak muda,” akunya.
Namun terlepas dari itu, tingginya animo masyarakat naik bajaj Maxride didasari rasa penasaran warga Semarang untuk menjajal transportasi khas India tersebut.
Selama bekerja, Slamet pernah mengantar penumpang hingga Bandungan, Mijen, Wonolopo, dan Pudakpayung.
Pengalaman membawa penumpang ke dataran tinggi membuatnya percaya diri mengajak keluarga berwisata menggunakan bajaj yang dikendarainya.
“Kemarin saya, istri, dan anak-anak berlima ke Bandungan. Bajajnya masih kuat,” katanya.
