Banyumas, IDN Times - Setiap 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Hajar Dewantara. Namun, di balik seremoni tahunan tersebut, muncul kegelisahan mendasar, apakah pendidikan Indonesia masih berakar pada kebudayaan, atau justru telah bergeser menjadi instrumen pasar?
Pendapat berupa ulasan reflektif dari Muhammad Umar Ibnu Malik, alumni FTIK UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, menyoroti adanya krisis paradigma dalam sistem pendidikan nasional. Ia menilai, pendidikan saat ini mengalami pergeseran dari yang semula sebagai public good menjadi komoditas ekonomi.
"Pendidikan hari ini semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri semata. Pengetahuan tidak lagi dimaknai sebagai proses pembebasan manusia, melainkan sebagai aset ekonomi yang diukur dari nilai jualnya di pasar kerja,"ujar Umar kepada IDN Times, Senin (4/5/2026).
