Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Harga Kedelai Impor Naik, Komisi VI DPR RI Panggil Kemendag

Harga Kedelai Impor Naik, Komisi VI DPR RI Panggil Kemendag
Perajin tahu di Mojosongo, Solo. (IDN Times/Larasati Rey)
Share Article

Surakarta, IDN Times - Naiknya harga kedelai impor mendapat perhatian serius dari DPR RI Komisi III. Menyikapi hal tersebut, Komisi VI akan segera mengundang Kementerian Perdagangan (Kemendag), importir, dan perajin tahu tempe untuk bisa dimitigasi bottleneck permasalahannya.

Bottleneck adalah suatu kondisi di mana suatu sistem tidak bisa bekerja secara optimal karena terhambat oleh komponen yang kurang sesuai.

1. Kenaikan harga kedelai membebani rakyat

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Aria Bima. (IDN Times/Larasati Rey)
Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Aria Bima. (IDN Times/Larasati Rey)

Wakil Ketua Komisi VI, DPR RI, Aria Bima mengatakan kenaikan harga kedelai dinilai sangat membebani perajin tahu, tempe dan juga konsumen. Pihaknya memperkirakan kenaikan harga kedelai jika tidak segera diselesaikan akan mendongkrak inflasi di suatu daerah.

"Saya sampaikan sesegera mungkin Komisi VI DPR RI mengusulkam rapat dengan kementerian perdagangan dan atase perdagangan di negara-negara eksportir kedelai untuk mencari dan menyelesaikan masalah dan kenaikan harga yang sifatnya termporer ini," jelasnya di sela-sela Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, di Klaten, Jawa Tengah, Kamis (29/9/2022).

"Intinya dibutuhkan kesadaran pemerintah bahwa itu adalah kebutuhan komoditas bahan pokok yang sangat dibutuhkan. Terutama untuk nutrisi bagi kelas menengah ke bawah yang sangat tidak mungkin mengkonsumsi jika harganya begitu tinggi," imbuhnya.

2. Minta pemerintah mengurangi ketergantungan impor kedelai.

Perajin tahu di Mojosongo, Solo. (IDN Times/Larasati Rey)
Perajin tahu di Mojosongo, Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

Lebij lanjut, Politisi PDI Perjuangan tersebut meminta pemerintah untuk segera membuat regulasi untuk mengentaskan ketergantungan kedelai impor di Tanah Air. Selain itu, pemerintah juga harus melakukan inovasi untuk mengembangkan dan memproduksi kedelai dengan varietas sesuai yang dibutuhkan perajin tahu tempe.

Aria Bima menyebutkan saat ini produksi kedelai lokal belum bisa berkembang cepat untuk memenuhi kebutuhan nasional, terlebih sejak adanya program swasembada kedelai lokal oleh Kementan sejak tahun 2020.

"Karena ketahanan pangan yang menyandarkan pada impor terutama kedelai, ini rentan terhadap berbagai persoalan. Terutama kejadian yang sering terjadi seperti barang langka, harga yang liar sehingga tidak bisa dikendalikan produsen kedelai," jelasnya.

3. Disebabkan karena normalisasi transportasi logistik dunia

Perajin tahu di Mojosongo, Solo. (IDN Times/Larasati Rey)
Perajin tahu di Mojosongo, Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

Aria Bima menegaskan kenaikan harga seperti kedelai, sangat mungkin terjadi di komoditas lain. Hal ini, menurutnya terjadi karena normalisasi transportasi logistik dunia yang belum normal yang mengganggu distribusi berbagai komoditas impor dan ekspor.

"Sistem logistik dunia ini masih menuju normal dengan perdagangan Amerika dan Cina. Menyikapi ini, kementerian perdagangan dan setekholder lainnya seperti kementerian perhubungan harus bisa menormalkan masalah ini," pungkasnya.

Selain itu juga pondasi dolar yang tidak menentu. Masalah tersebut menjadi bertumpuk yang menyebabkan harga kedelai tinggi.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
Larasati Rey
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More

Optimisme Ekonomi Jateng Naik, Apa Rahasianya di Mei 2026?

19 Jun 2026, 09:08 WIBNews