Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Harganas 2026: Lika-liku Aris Sugiyono Mengasuh Anak Hingga Berdikari

Harganas 2026: Lika-liku Aris Sugiyono Mengasuh Anak Hingga Berdikari
Aris Sugiono bersama istrinya, Kartikawati. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Intinya Sih
  • Aris Sugiyono dan istrinya menerapkan pola asuh penuh kasih serta menanamkan nilai kemandirian pada anak-anaknya, sekaligus berperan aktif mencegah stunting di Desa Pasinggangan.
  • Program Bapake-Mamake di Banyumas mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan kesehatan ibu-anak, terbukti meningkatkan kesadaran serta partisipasi warga selama empat tahun terakhir.
  • Pada peringatan Harganas 2026, Sekda Jateng menekankan pentingnya peran keluarga menghadapi tantangan digital, memanfaatkan bonus demografi, dan memperkuat tiga pilar: kesehatan, karakter, serta ketahanan mental.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Semarang, IDN Times - Berdiri di atas kaki sendiri alias berdikari jadi istilah yang kurang dipahami di era masa kini. Namun bagi Baby Boomer maupun Millennial, berdikari jadi hal yang mutlak. Sikap berdikari bisa mencerminkan kemandirian, keuletan dan mental yang tangguh. 

Rupanya mental yang penuh kemandirian tersebut juga sedang ditanamkan oleh Aris Sugiyono kepada kedua anaknya. Ia rela pontang panting demi membesarkan anak-anaknya dengan dibantu Kartikawati, istri tercintanya. 

"Bagi saya anak adalah segalanya. Makanya pas istri hamil, saya putuskan resign dari kerjaan di Kebumen biar bisa ikut jagain dia sampai melahirkan. Dan Allhamdulillah sampai kehamilan anak kedua, saya selalu dapat rezeki," akunya. 

Pola pengasuhan yang dilakukan Aris boleh dibilang benar-benar totalitas. Ketika dulu sibuk dagang daging ayam di pasar, ia dan istrinya senantiasa rutin merawat buah hatinya.

Lalu ketika beberapa tahun terakhir jadi Kades Pasinggangan di Kabupaten Banyumas, Aris dan istrinya masih telaten memantau tumbuh kembang kedua anaknya.

Kecintaannya pada kedua anaknya membuat mereka tumbuh dan besar dengan cinta dan kasih sayang yang mendalam. Aris tak canggung berbagi peran dengan Kartika saat mengasuh kedua anaknya.

Pun demikian saat keduanya disibukkan dengan urusan kantor Desa Pasinggangan, kedua anaknya di rumah diajari untuk jadi sosok yang mandiri. 

"Allhamdulillah anak saya sekarang sudah mandiri. Walau kami tinggal kerja sampai malam, mereka tidak rewel di rumah. Masing-masing sudah tahu apa yang harus dikerjakan," kata Aris. 

Bagi Aris, mengasuh anak dengan telaten bisa mendekatkan diri dengan sang anak. Selain itu, pola asuh yang benar juga dapat memupus resiko stunting

"Waktu istri saya hamil anak pertama dan kedua, saya sendiri yang jagain. Asupan makan bergizi saya berikan semua. Saya pantau kondisi istri, janin, ya Allhamdulillah ibu dan bayinya sehat-sehat semua, tidak stunting," paparnya. 

Bicara soal stunting, di Desa Pasinggangan memang jadi wilayah dengan kasus stunting yang banyak ketimbang desa lainnya. 

Di desanya, anak yang mengalami stunting rata-rata karena kurangnya peran ayah dalam pengasuhan di rumah.

Anak-anak stunting umumnya cenderung diasuh sang nenek. Sementara ayah dan ibunya merantau ke luar kota. 

"Ada lima persen anak dari total 8.000 anak yang diasuh neneknya," kata Kartikawati yang didampuk jadi Ketua PKK Pasinggangan. 

Akan tetapi ia lega semenjak adanya program Bapake-Mamake yang diinisiasi Pemkab Banyumas serta didukung Tanoto Foundation, sedikit demi sedikit membuat perubahan perilaku dari sosok ayah. 

Program ini diharapkan mampu menekan angka kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Selain itu, suami juga didorong untuk terlibat aktif dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi.

"Harapannya Kelas Bapake Mamake ini menjadi wadah buat mereka untuk tempat curhat, menambah ilmu juga," tegasnya. 

Pelaksanaan program Bapake-Mamake dimulai dari Puskesmas Banyumas. Sasarannya tak lain para ibu hamil dan bapak bapak yang jadi pendamping. Total sampai sekarang ada puluhan bahkan ratusan warga yang merasakan manfaat program Bapake-Mamake. 

Bahkan banyak bapak-bapak pede saat mengantar istrinya di Posyandu. "Sudah berjalan empat tahun terakhir," terangnya. 

Terpisah, Sekda Jateng Sumarno menilai peran orang tua penting dalam pendampingan dan pengawasan anak-anak dari penggunaan gadget. Supaya anak-anak tidak kehilangan kemampuan bersosialisasi secara nyata dan empati. 

Saat upacara Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (29/7/2026), ia menginbau orang tua mewaspadai ancaman gadget yang berpotensi menguasai ruang dalam keluarga.

"Jangan biarkan meja makan kita sunyi karena semua anggota keluarga sibuk menatap layar handphone masing-masing," katanya.

Harganas jadi sarana refleksi bagi masing-masing keluarga

Harganas jadi momentum refleksi untuk menyimak kembali ke dalam rumah kita masing-masing. Terlebih, saat ini tantangan yang dihadapi oleh sebuah keluarga bukan lagi sekadar tantangan konvensional pemenuhan kebutuhan fisik semata.

"Hari ini tantangan ekonomi makro, disrupsi teknologi digital yang radikal, pergeseran nilai sosial, hingga ancaman cyber. Masuk secara langsung dan tanpa permisi ke ruang-ruang keluarga kita melalui gawai yang ada di genggaman anak-anak kita," katanya. 

Sumarno menyatakan, populasi penduduk di Indonesia sedang berada di bonus demografi. Struktur penduduk kita didominasi oleh usia produktif. 

Penduduk yang berusia antara 15 hingga 64 tahun lebih banyak dibanding kelompok usia non-produktif. Peluang itu itu perlu dimanfaatkan dengan baik agar mampu mewujudkan Indonesia emas di Tahun 2045. Sebab, kalau bonus demografi ini tidak dimanfaatkan dengan baik bisa berubah menjadi bencana demografi. 

Oleh karenanya, kuncinya terletak pada tiga pilar utama pembangunan keluarga yaitu kesehatan, pendidikan karakter, dan ketahanan mental.

"Kita tidak akan pernah bisa mencetak menteri yang hebat, jenderal yang tangguh, pengusaha yang jujur, dokter yang terintegritas atau pekerja yang produktif jika kita gagal membangun kualitas manusia itu dari lahir di keluarga. Mari kita jadikan keluarga hari keluarga nasional ini sebagai momentum kebangkitan komitmen kita bersama," ujarnya. 

Pemerintah akan terus berupaya untuk terus meluncurkan kebijakan yang pro keluarga, memperkuat jaringan pengaman sosial, dan memudahkan akses layanan dasar bagi keluarga. 

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fariz Fardianto
Bandot Arywono
3+
Fariz Fardianto
EditorFariz Fardianto

Latest News Jawa Tengah

See More