Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jelang Iduladha, Pesanan Tusuk Sate di Banyumas Melonjak 300 Persen
Jelang iduladha 2026, pesanan tusuk sate di Banyumas meningkat tajam hingga 3 kali lipat dari hari biasa, Sabtu (23/5/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Menjelang Iduladha, permintaan tusuk sate di Banyumas melonjak hingga 300 persen, membuat para pengrajin bekerja ekstra untuk memenuhi pesanan dari berbagai daerah.
  • Tusuk sate bambu buatan Asti dikirim ke sejumlah kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta, tetap diminati karena kualitas tradisionalnya meski bersaing dengan produk pabrikan.
  • Momen Iduladha membawa berkah ekonomi bagi pengrajin kecil seperti Asti, meningkatkan pendapatan sekaligus memperkuat peran usaha mikro dalam perekonomian pedesaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyumas, IDN Times - Semakin dekat Hari Raya Iduladha, permintaan tusuk sate di Jawa Tengah mengalami lonjakan tajam. Salah satu yang merasakan dampaknya adalah para pengrajin tusuk sate tradisional di Banyumas, yang kini kebanjiran order hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa.

Di sebuah rumah produksi sederhana di Desa Karanganyar, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, aktivitas produksi tengah berjalan lebih intens. Asti, pemilik usaha pengrajin tusuk sate, bersama para pekerjanya kini bekerja ekstra untuk memenuhi permintaan yang datang dari berbagai daerah.

"Kalau menjelang Iduladha itu permintaan meningkat bisa tiga kali lipat dari hari biasa. Kalau sekarang per harinya bisa lebih dari 15 ikat,"ujar Asti.

Biasanya, dalam sehari Asti hanya memproduksi 1 hingga 3 ikat tusuk sate. Namun menjelang Iduladha, angka tersebut melonjak drastis. Lonjakan ini sudah mulai terasa sejak dua pekan sebelum hari raya kurban tiba.

1. Kiriman hingga Yogyakarta

Asti, pengrajin tusuk sate di Patikraja, Banyumas akui jelang iduladha 1447 H pesanan meningkat tajam, Sabtu (24/5/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Tak hanya melayani pasar lokal Banyumas, tusuk sate produksi Asti juga dikirim ke berbagai daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Daerah tujuan pengiriman antara lain Cilacap, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Purbalingga, Banjarnegara, hingga Yogyakarta sebagai tujuan paling jauh.

Tusuk sate yang diproduksi masih menggunakan cara tradisional, terbuat dari bambu pilihan yang dipotong, dibersihkan, dan diruncingkan secara manual. Kualitas yang terjaga membuat produknya tetap diminati meski ada banyak pesaing.

Iduladha memang menjadi musim puncak bagi industri tusuk sate. Masyarakat yang melaksanakan penyembelihan hewan kurban biasanya membutuhkan tusuk sate dalam jumlah besar untuk membuat sate dari daging kurban yang dibagikan. Permintaan ini tak hanya datang dari rumah tangga, tetapi juga dari komunitas, masjid, dan acara pengolahan daging kurban skala besar.

2. Berkah ekonomi bagi pengrajin kecil

Berkah ekonomi jadi berlipat lipat pesanan tusuk sate di masyarakat, Sabtu (13/5/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Bagi Asti dan para pengrajin sejenis, momen Iduladha menjadi berkah tersendiri. Pendapatan mereka bisa meningkat beberapa kali lipat dibanding hari-hari biasa.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Produksi yang mendadak naik memaksa mereka menambah jam kerja. Asti dan timnya harus bekerja lebih pagi dan sore hari agar target pengiriman dapat terpenuhi tepat waktu.

"Pengirimannya sampai Jogja, itu paling jauh. Kalau daerah lain ada Cilacap, Kebumen, Wonosobo dan lainnya,"tambah Asti.

3. Momen hari besar agar dongkrak ekonomi

Proses pembuatan tusuk sate jelang iduladha jadi dorongan keberadaan ekonomi, Sabtu (23/5/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Keberhasilan usaha kecil seperti milik Asti ini juga menjadi gambaran bagaimana momentum keagamaan dapat memberikan dorongan ekonomi bagi masyarakat pedesaan.

Di tengah persaingan dengan produk tusuk sate pabrikan yang lebih murah dan seragam, pengrajin tradisional seperti di Banyumas masih bertahan berkat kualitas dan jaringan distribusi yang kuat.

Para pengrajin berharap, Iduladha tahun ini tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga terus mendukung keberlanjutan usaha mikro di daerah. Dengan permintaan yang stabil, mereka bisa mempertahankan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Editorial Team